BI Isyaratkan Defisit Transaksi Berjalan Tak Lebih 3 Persen

OJK: Stabilitas Sektor Jasa Keuangan Terjaga
September 28, 2018
Rupiah Melemah, Efek Naiknya Suku Bunga Acuan BI Sudah Habis
September 28, 2018

Jakarta — Bank Indonesia (BI) memprediksi defisit transaksi berjalan (Current Account Deficit/CAD) akan berada di bawah tiga persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada akhir tahun ini.

Prediksi ini berubah dari bulan sebelumnya. Saat itu, bank sentral nasional masih memperkirakan defisit transaksi berjalan sebesar US$25 miliar atau sekitar 2,5 persen dari PDB.

Meski begitu, Gubernur BI Perry Warjiyo mengklaim posisi defisit transaksi berjalan tetap akan terjaga pada akhir tahun karena pemerintah telah mengeluarkan beberapa kebijakan untuk memulihkan defisit.

Mulai dari perluasan mandatori penggunaan biodiesel 20 persen (B20), pembatasan impor dengan kenaikan tarif Pajak Penghasilan (PPh) impor, pembatasan proyek infrastruktur, hingga menggenjot sektor pariwisata.

“Untuk tahun ini, sebagian kebijakan tadi akan berdampak. Kami perkirakan defisit transaksi berjalan tidak akan lebih dari 3 persen dari PDB,” ujarnya di Kompleks Gedung BI, Kamis (27/9).

Deputi Gubernur BI Mirza Adityaswara menuturkan bank sentral nasional mengeluarkan proyeksi ini karena turut mempertimbangkan kondisi investasi langsung (Penanaman Modal Asing/PMA), investasi portofolio, dan surat utang saat ini.

“Investasi portofolio masih negatif sampai semester I 2018, jadi kami harus memastikan portofolio ini masuk. Agar mereka mau masuk, fundamental ekonomi harus dijaga dan defisit transaksi berjalan diturunkan,” jelasnya.

Sementara untuk tahun depan, defisit transaksi berjalan diperkirakan sekitar 2,5 persen dari PDB. Namun, perkiraan ini juga sedikit meningkat dari proyeksi awal yang disampaikan BI ketika rapat dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), yaitu sebesar 2 persen dari PDB.

Sebelumnya, Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank/ADB) memproyeksi defisit transaksi berjalan Indonesia akan berada di angka 2,6 persen dari PDB pada akhir tahun ini.

Sebagai gambaran, defisit transaksi berjalan berada di angka 2,2 persen dari PDB pada kuartal I 2018. Kemudian, meningkat menjadi 3 persen dari PDB pada kuartal II 2018. Hal ini membuat posisi defisit transaksi berjalan secara kumulatif sebesar 2,6 persen dari PDB pada semester I 2018.

Berpotensi Melebar

Ekonom PT Bank Maybank Indonesia Tbk Myrdal Gunarto memprediksi defisit transaksi berjalan Indonesia pada kuartal ketiga ini akan melebar dibanding periode yang sama tahun lalu. Hal itu tergambar dari kinerja perdagangan RI yang defisit.

Berdasarkan data yang dikantonginya, defisit neraca perdagangan pada Juli dan Agustus mencapai US$3,02 miliar atau tercatat lebih tinggi ketimbang periode April – Juni, yakni US$1,37 miliar.

Tak cuma itu, ia melanjutkan, komponen arus keluar pendapatan primer sebagai konsekuensi penanaman modal asing di Indonesia juga meningkat. “Kami perkirakan defisit transaksi berjalan akan melebar pada kuartal ini melihat neraca perdagangan Indonesia,” imbuh Myrdal.

Defisit itu akan menyentil rupiah semakin terdepresiasi. Makanya, ia menyarankan, BI untuk segera menyesuaikan suku bunga acuan BI-7DRRR demi menangkal defisit transaksi berjalan semakin melebar.

“Sangat penting untuk melakukan stabilisasi rupiah pada saat ini. Apalagi, kami memperkirakan tekanan eksternal akan terus terjadi hingga akhir tahun,” katanya.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan defisit transaksi berjalan kuartal III belum bisa pulih. Tingginya impor selama Juli dan Agustus bikin ketar-ketir. Data BPS menunjukkan impor Juli dan Agustus sebanyak US$29,43 miliar atau tumbuh 24,65 persen dibanding periode yang sama tahun lalu US$23,61 miliar.

Apalagi, menurutnya, berbagai kebijakan pemerintah demi mengurangi tekanan impor baru dimulai September, yang merupakan pengujung kuartal III. Adapun, kebijakan itu terdiri dari implementasi pencampuran biodiesel sebanyak 20 persen ke Bahan Bakar Minyak (B-20) dan kenaikan tarif Pajak Penghasilan (PPh) 22 impor.

Namun, ia yakin seluruh kebijakan ini sudah mulai memberi dampak pada kuartal IV tahun ini. Jika memang kebijakan pemerintah saat ini tak mumpuni, Sri Mulyani siap meluncurkan amunisi yang lainnya.

“Jadi kami sudah dapat melihat bahwa untuk kuartal III defisit transaksi berjalan masih akan belum menurun. Tapi, kami di Kemenkeu menyiapkan seluruh instrumen fiskal. Kalau memang ada yang perlu ditambah kami akan tambah,” pungkas Sri Mulyani.

Sumber : cnnindonesia.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.

WhatsApp WA only