Nobel Ekonomi Zaman Now

Ekspor Kaca Tertahan Biaya Produksi
October 15, 2018
Data neraca dagang positif, rupiah tetap melemah ke Rp 15.220 per dollar AS
October 16, 2018

Keberhasilan Willian Nordhaus dan Paul Romer meraih Nobel Ekonomi 2018 tidak mengejutkan. Dua ekonom Amerika Serikat itu memang kerap mewarnai atmosfir kandidat peraih Nobel.

Romer, misalnya, pernah dinominasikan sebagai peraih Nobel Ekonomi 2016. Namun ia tersisih. Tahun itu, Nobel Ekonomi disabet ekonom Inggris, Oliver Hart, serta ekonom Finlandia Bengt Holmstrom.

Meski demikian, Nobel yang diraih Nordhaus dan Romer tetap saja memberi warna lain bagi event tahunan yang berumur 117 tahun itu. Sebab, pandangan mereka kembali memperbaiki aspek paling krusial di era baru ekonomi zaman sekarang; lingkungan hidup dan inovasi.

Kita tahu, isu lingkungan dan pemanasan global makin santer mengemuka dalam beberapa dekade terakhir pada saat bersamaan, lanskap dunia maupun industri berubah drastis berkat kemajuan teknologi informasi. Di tengah kondisi itulah, menurut penilaian Sveriges Riksbank sebagai penentu Nobel ekonomi, pandangan Nordhaus dan Romer bisa menjawab problem ekonomi kekinian.

Nordhaus, misalnya, menyatakan kelestarian lingkungan merupakan syarat mutlak bagi ekonomi. Menurut profesor di Universitas Yale itu, pertumbuhan ekonomi dan bisnis bisa berkelanjutan jika mampu mengeliminir pemanasan global.

Ide Nordhaus selanjutnya diformulasikan sebagai pajak karbon yang dikutip berdasarkan jumlah emisi karbon. Pajak karbon diyakini mendorong pengusaha menggunakan energi paling efisien, serta memacu investasi energi terbarukan. Sebab, perusahaan yang boros bahan bakar akan dikenai pajak lebih besar.

Sementara Romer, mantan Kepala Ekonom Bank Dunia, meletakkan inovasi dan teknologi sebagai kekuatan ekonomi saat ini. Titik tumpu hukum ekonomi Romer ada pada pengembangan sumber daya manusia (SDM) sebagai basis produksi inovasi.

Profesor di New York University itu meyakini, perusahaan yang mampu berinovasi dan berinvestasi teknologi akan bertahan lama dan lebih produktif dibanding yang tidak melakukannya. Pendek kata, inovasi dan penguasaan teknologi menjadi bekal utama di era ekonomi zaman now.

Nah, kaitannya dengan kita, pandangan Nordhaus terasa relevan dengan isu lingkungan Indonesia. Entah kabut asap akibat perambahan hutan, maupun  eksploitasi alam yang memicu banjur dan tanah longsor.

Selain berimplikasi pada lingkungan, beragam bencana itu berdampak luas pada ekonomi. Triliunan rupiah digelontorkan untuk meredam kebakaran hutan. Belum lagi kerugian besar yang ditimbulkan akibat terhentinya kegiatan ekonomi.

Adapun sorotan Romer tentang inovasi dan teknologi terasa pas dengan fenomena start up. Banyak usaha konvensional gagap menghadapi era digital karena lamban beradaptasi dengan teknologi baru serta melupakan inovasi. Tak heran, pusat perdagangan sepi karena konsumen sibuk berbelanja di toko online. Sementara perusahaan taksi nyaris mati dilindas gelombang jasa transportasi daring.

Secara umum, kualitas SDM Indonesia memang rendah, Lihat saja, indeks pembangunan manusia atau Human Capital Index yang dirilis Bank Dunia baru-baru ini, menunjukkan rangking SDM Indonesia di posisi 87 dari 157 negara. Dus, peningkatan SDM adalah tantangan terbesar Indonesia saat ini.

Moral ceritanya, aktivitas ekonomi dan bisnis tidak boleh menindas manusia maupun mengabaikan lingkungan hidup. Laju usaha pun akan langgeng jika mau meningkatkan kualitas pegawainya.

Sudah saatnya aspek lingkungan dan inovasi jadi kredo berbisnis serta pembuatan kebijakan pemerintah. Anggaran pendidikan dan belanja teknologi tidak boleh lagi dilihat sebagai beban, melainkan harus diyakini sebagai investasi untuk bekal di kemudian hari. Itulah pesan terpenting dari Nobel Ekonomi Zaman Now.

Sumber: Tabloid KONTAN

Leave a Reply

Your email address will not be published.

WhatsApp WA only