Data neraca dagang positif, rupiah tetap melemah ke Rp 15.220 per dollar AS

JAKARTA. Surplusnya data neraca perdagangan Indonesia pada bulan September belum mampu menolong rupiah dari pelemahannya di hari ini (15/10). Namun, setidaknya data tersebut bisa menjadi modal bagi penguatan fundamental ekonomi Indonesia di kemudian hari, sehingga pada akhirnya pergerakan rupiah menjadi lebih stabil.

Sebagai informasi, neraca perdagangan Indonesia di bulan September 2018 berhasil surplus sebesar US$ 230 juta ketika diumumkan hari ini. Akan tetapi, kurs rupiah di pasar spot tetap mengalami pelemahan 0,15% ke level Rp 15.220 per dollar AS.

Analis Pasar Uang Bank Mandiri, Reny Eka Putri mengatakan, data neraca perdagangan saat ini belum menjadi katalis positif bagi rupiah mengingat pengaruh lebih besar masih berasal dari sentimen eksternal.

Dollar AS masih dalam posisi yang solid berkat masalah yang terjadi secara global, seperti krisis defisit anggaran belanja pemerintah Italia hingga kasus lenyapnya jurnalis Arab Saudi Jamal Khashoggi di Istanbul.

Laju The Greenback juga sulit dibendung walaupun pasar saham AS belakangan ini mengalami koreksi. “Para pelaku pasar masih memburu dollar sebagai aset safe haven karena faktor kenaikan suku bunga acuan dan perang dagang,” tambah Reny, Senin (15/10).

Walau belum mampu mendongkrak posisi rupiah, positifnya data neraca perdagangan Indonesia tetap patut diapresiasi. Hal tersebut menunjukkan bahwa kebijakan peningkatan pajak penghasilan ekspor perlahan memberikan efek positif bagi nilai neraca perdagangan.

Menurut Reny, hasil ini paling tidak berpotensi sedikit memperkecil defisit transaksi berjalan di kuartal III nanti menjadi di bawah 3%. Sementara di akhir tahun nanti, ia masih memproyeksi defisit transaksi berjalan Indonesia berada di kisaran 2,7%–2,8%.

Potensi tersebut bukan mustahil tercapai asalkan neraca perdagangan Indonesia bisa kembali surplus pada bulan-bulan berikutnya.

Maka dari itu, hal yang patut diperhatikan selanjutnya adalah menggenjot ekspor Indonesia. Sebab, surplus neraca perdagangan Indonesia kali ini lebih disebabkan oleh turunnya nilai impor, alih-alih peningkatan ekspor.

Sebagai catatan, nilai impor Indonesia di bulan September turun 13,18% (mom) menjadi US$ 14,60 miliar. Di sisi lain, nilai ekspor Indonesia juga turun di bulan September walau hanya sebesar 6,58% (mom) menjadi US$ 14,83 miliar.

“Nilai impor sejauh ini sudah bisa dibatasi, tapi ekspor Indonesia masih melambat,” kata Reny.

Sebenarnya, upaya BI yang menjaga agar rupiah tidak melemah terlalu dalam, tapi juga tidak menguat signifikan diharapkan bisa membuat mata uang garuda lebih atraktif bagi para eksportir. Namun, usaha seperti itu saja belum cukup.

Reny menilai, untuk beberapa waktu ke depan pergerakan rupiah masih akan didominasi oleh faktor eksternal, terutama ekspektasi kenaikan suku bunga acuan AS dan perang dagang. Data neraca perdagangan yang surplus biar bagaimanapun tetap dibutuhkan agar volatilitas rupiah tetap terjaga.

Ia juga memperkirakan rupiah masih akan berada di kisaran Rp 15.000 per dollar di akhir tahun nanti. Level tersebut dinilai sebagai titik keseimbangan baru bagi rupiah.

Sumber : Kontan

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp WA only