Perkuat Pengembangan KEK Guna Jaring Investasi

Realisasi penerimaan pajak industri pengolahan tumbuh melambat hingga September 2018
October 24, 2018
Empat Tahun Pemerintahan Jokowi-JK, Capaian Sektor Industri Makin Gemilang
October 24, 2018

Sejumlah wisatawan mancanegara berada di Pantai Mandalika, Kuta, Praya, Lombok Tengah, NTB, Selasa (10/10). Pantai Mandalika yang berada dalam Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika dan termasuk dalam 10 destinasi wisata prioritas nasional ini memiliki daya tarik berupa pantai sepanjang 14,6 km yang membentang dari barat hingga ujung timur Pantai Tanjung Aan dengan keunikan pasir putihnya menyerupai biji merica. ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi/kye/17

JAKARTA – Pemerintah terus mengembangkan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) untuk menarik investasi lebih banyak. Dengan penerapan satu core business, juga berbagai fasilitas yang ditawarkan bagi investor, diharapkan KEK mampu meraih lebih banyak investasi yang nantinya mampu memperkuat perekonomian nasional.

“KEK semacam special force, harus mampu menjadi instrumen pembangunan, untuk memperkuat daya saing perekonomian nasional,” kata Deputi Bidang Koordinasi Percepatan Infrastruktur Pengembangan Wilayah Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Wahyu Utomo dalam diseminasi fasilitasi perdagangan luar negeri yang berlangsung di Jakarta, Selasa (23/10).

Mengusung tema “Strategi Peningkatan Perdagangan dan Investasi untuk KEK di Indonesia,” turut hadir juga Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) Oke Nurwan, Direktur Fasilitasi Ekspor dan Impor Kemendag Olvy Andrianita, serta Sekretaris Dewan Nasional KEK Enoh Suharto Pranoto.

Menurut wahyu, pengembangan KEK dipandang penting. Pasalnya, pengembangan KEK membuat berbagai infrastruktur yang dibangun pemerintah semakin memberikan manfaat bagi pembangunan ekonomi di regional maupun secara nasional.

“Percuma kita bangun infrastruktur, lalu industrinya tidak berkembang. Ini harus ada manfaat yang cukup signifikan untuk memperbaiki ekonomi kita,” ujarnya.

Meski mengakui KEK menjadi salah satu selling point dalam rangka menarik investasi lebih banyak, namun Wahyu juga menyoroti jika pembangunan industri di KEK itu masih perlu dorongan.

Demi optimalisasi dan pengembangan industri, khususnya KEK, pemerintah telah mengupayakan kemudahan dan fasilitas agar investor dapat lebih tertarik. Segala kemudahan dan fasilitas yang tersebut diharapkan dapat dijadikan peluang sekaligus menarik investor asing untuk berinvestasi di KEK.

“KEK dengan fasilitas dan kemudahannya seperti fiskal dan non fiskal, diharapkan dapat memaksimalkan kegiatan industri, orientasi ekspor yang bernilai tambah, dan berantai nilai,” terang Oke.

Senada, Enoh menyebutkan berbagai kemudahan yang dapat dinikmati investor di KEK.

“KEK itu kelebihannya fasilitas, mulai dari fiskal, seperti tax holiday, tax allowance, bea masuk. Ada juga soal tenaga kerja, kemudahan urusan imigrasi, dan masih banyak lagi,” papar Enoh.

Selain keunggulan dari sisi fiskal, Oke juga menyebutkan adanya upaya meningkatkan akses pasar bagi hasil industri yang ada di KEK.

Dengan berbagai kemudahan tersebut, sejauh ini sejumlah investasi telah dijaring lewat KEK. Lebih rinci, KEK di Lhokseumawe berhasil mengantongi komitmen investasi hingga Rp8,1 triliun. KEK yang difokuskan untuk industri energi, petrokimia, dan pengolahan sawit serta kayu itu ditargetkan bakal mulai beroperasi pada Februari 2020 mendatang.

Sementara itu, untuk KEK Galang Batam dapat mengumpulkan komitmen investasi sebanyak Rp1,8 triliun. Sedangkan KEK Maloy sebesar Rp1,83 triliun.

Adapun KEK Morotai yang berkonsentrasi dalam pariwisata dan industri pengolahan, serta perikanan itu mampu menarik investor untuk berkomitmen dalam menanamkan uangnya hingga Rp245 miliar.

Untuk KEK Palu dan KEK Bitung, total nilai komitmen investasinya terbilang fantastis, dengan capaian masing-masing sebanyak Rp146,1 triliun dan Rp6,9 triliun.

Sekadar informasi, mengutip dari US News and World Report, Oke memaparkan jika Indonesia menduduki peringkat ke-2 dunia sebagai negara tujuan terbaik untuk investasi. Disusul oleh, Polandia, Malaysia, dan kemudian Singapura.

“Kita sebagai bangsa Indonesia patut berbangga, ini merupakan sebuah prestasi di tengah kondisi ekonomi yang tidak stabil saat ini,” ucapnya.

Untuk diketahui, pemerintah telah mengembangkan KEK dengan core business yang beragam. Ambil saja contoh KEK Sei Mangke di Sumatra Utara yang difokuskan untuk hilirisasi sawit dan karet, atau KEK Tanjung Api-Api (Sumatra Selatan) dengan konsentrasi batu baranya.

“KEK terspesialisasi dengan zona-zona khusus, industri, pariwisata, logistik, energi, teknologi dan lainnya. Dari 12 KEK yang ditetapkan, baru 4 yang telah beroperasi,” terang Oke.

Oke memaparkan, keempat KEK itu meliputi KEK Sei Mangke (Sumatra Utara), KEK Tanjung Lesung (Banten), KEK Palu (Sulawesi Tengah), serta KEK Mandalika (Nusa Tenggara Barat).

Sedangkan, KEK Lhokseumawe (Aceh), KEK Bitung (Sulawesi Utara), dan dan KEK Morotai (Maluku Utara), KEK Galang Batam (Kepulauan Riau) telah siap untuk segera diresmikan.

“Tinggal tunggu waktu, faktanya sudah siap beroperasi. KEK Tanjung Kelayang (Belitung), KEK Sorong (Papua), dan sisanya ditargetkan untuk tahun depan,” terang Enoh.

 

Sumber : validnews.id

Leave a Reply

Your email address will not be published.

WhatsApp WA only