Dibayangi berbagai faktor eksternal, rupiah diprediksi masih fluktuatif pekan ini

Tak Mau Dikejar Aparat Pajak? Perhatikan Hal Ini
October 25, 2018
Ini respons Menko Darmin soal peluang RI kembali impor beras di 2019
October 25, 2018

 JAKARTA. Rupiah kembali terkoreksi dalam penutupan perdagangan Rabu (24/10) walaupun sudah sempat menguat beberapa jam sebelumnya. Di pasar spot, mata uang Garuda terkoreksi tipis 0,03% dan berada di level Rp 15.197 per dollar Amerika Serikat (AS). Sedangkan, rupiah justru mengalami penguatan 0,10% menjadi Rp 15.193 per dollar AS dalam data kurs tengah versi Bank Indonesia (BI).

Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual mengatakan, pergerakan rupiah masih diiringi seputar isu-isu di Eropa terkait politik di Italia soal defisit anggarannya yang masih bermasalah dengan Uni Eropa. Pasalnya defisit fiskal anggaran Italia tahun depan menjadi 2,4% dari produk domestik bruto (PDB). Angka tersebut melonjak tajam dari usulan pemerintahan sebelumnya sebesar 0,8%.

“Lalu terkait harga minyak yang sedikit menurun paska Saudi Arabia yang mengatakan akan menutup kekurangan pasokan yang terjadi di pasar akibat diputusnya pasukan dari Iran. Itu juga yang membuat mata uang global melemah terhadap dollar,” jelasnya.

Para pelaku pasar juga masih menunggu data perekonomian AS yang akan dirilis pada akhir pekan ini.

Direktur Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan kasus pembunuhan salah satu wartawan Washington Post mengakibatkan banyak tekanan untuk Arab Saudi seperti dari AS maupun Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). “Ini mengakibatkan ketegangan karena pemerintah AS akan melakukan pencekalan terhadap 21 penjabat di Arab Saudi. AS juga sedang menunggu konferensi pers dari Presiden Turki,” katanya.

AS dan Uni Eropa kemungkinan besar akan mengeluarkan sanksi termasuk dalam bidang ekonomi sehingga memacu pertumbuhan indeks dollar pekan ini. Menurutnya kasus tersebut berdampak secara global karena seluruh media internasional menyoroti hal ini, walaupun Arab Saudi sudah melakukan permintamaafan.

Di sisi lain, langkah BI tetap mempertahankan suku bunga dinilai tepat. “Mengingat apa yang dilakukan selama ini kurang bermanfaat. Karena yang dibutuhkan pasar bukan kenaikkan suku bunga tetapi stimulus yang berhubungan dengan pajak, biaya impor,” jelas Ibrahim.

Walaupun masih ditopang data perekonomian yang bagus seperti surplus pada neraca perdagangan, pasar tetap harus lebih berhati-hati dengan indeks dollar AS yang dapat secara tiba-tiba menguat.

Bagi Ibrahim, pekan ini terjadi fluktuasi pada rupiah. Ia memproyeksikan rupiah di kisaran Rp 15.144-Rp 15.228 per dollar AS. “Bila rupiah melebihi level Rp 15.200 maka pemerintah harus melakukan intervensi,” jelas Ibrahim.

Sedangkan David memperkirakan rupiah bergerak stagnan dengan potensi sedikit melemah di level Rp 15.170-Rp 15.220 per dollar AS.

Sumber Kontan

Leave a Reply

Your email address will not be published.

WhatsApp WA only