Dolar naik, Mendag Enggar minta masyarakat pakai produk dalam negeri

Kebijakan Impor Belum Berdampak, CAD Diprediksi Masih Tinggi di 2019
October 29, 2018
Ekonomi Digital Butuh Aturan Pajak yang Jelas, Ini Alasannya
October 29, 2018

Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (USD) masih terus melemah. Di perdagangan kemarin, Jumat (26/10) Rupiah rata-rata masih berada pada level Rp 15.000 an per USD. Posisi nominal mata uang Garuda ini pun sama seperti yang terjadi pada 1998.

Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita mengatakan kondisi ekonomi Indonesia saat ini berbeda dengan kondisi ekonomi saat krisis 1997 hingga 1998. Oleh karena itu, dia meminta warga termasuk pengusaha jangan khawatir meskipun Rupiah sentuh Rp 15.000 per USD.

“Ini berbeda dengan tahun 1998. Jangan ada kekhawatiran untuk hadapi itu,” ujar Mendag Enggar pada acara Future Heroes di Kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, Sabtu (27/10).

Untuk mengatasi naiknya harga barang impor, Mendag Enggar meminta masyarakat dan pengusaha memakai produk dalam negeri. “Impor mahal? ya jangan impor. Pakai produk Indonesia, produk Indonesia keren,” jelasnya.

Kenaikan nilai tukar dolar, lanjutnya, bukan disebabkan kondisi ekonomi Indonesia memburuk. “Kenaikan dolar bukan karena kondisi ekonomi kita. Sekarang bagaimana kita memotong pajak, dolar pulang kampung. Artinya ini harus dipakai peluang ini untuk ekspor,” paparnya.

Lebih lanjut Mendag Enggar menambahkan, dalam masa fluktuasi nilai tukar Rupiah ke USD yang tak menentu semua pihak harus menahan penggunaan dolar. Pemerintah sendiri telah merevisi tarif Pajak Penghasilan (PPh) 22 untuk 1.147 barang impor dalam rangka pengendalian barang masuk.

“Anda lakukan efisiensinya. Kita pemerintah lakukan pengetatan spend dolar. Makin banyak kita belanja beli dolar itu akan jadi persoalan,” tandasnya.

Sumber : Liputan6

Leave a Reply

Your email address will not be published.

WhatsApp WA only