Bicara Bela Negara, Jusuf Kalla: Pedagang Juga Bayar Pajak

Cegah Identitas Ganda, Kemenkeu Gandeng Kemendagri Perkuat Data Pajak
November 5, 2018
Jadi Andalan Penerimaan Pajak, Pemerintah Tidak Naikkan Cukai Rokok
November 5, 2018

Bela negara tak berarti dengan cara baris-berbaris, tekad, ataupun mars. Namun dibutuhkan pertumbuhan kekuatan ekonomi, dibarengi dengan teknologi yang baik.

Hal itu diungkapkan oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla saat memberikan kuliah umum di Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jogjakarta, Minggu (4/11). Menurut JK, begitu beliau akrab disapa, tidak memungkinkan generasi saat ini berperang memakai bambu runcing seperti zaman dulu. Namun perlu adanya suatu pergerakan yang besar, baik di kampus dan di manapun untuk memulai menjadi wirausaha.

“Dengan cara itu, kita semua membela negara. Tidak tersobek-sobek karena ketidakadilan,” kata dia.
Menjadi seorang pengusaha, menurutnya juga sudah termasuk bela negara. Karena mereka juga membayar pajak untuk membiayai keberlangsungan bangsa ini.

“Kalau dulu sering saya tersinggung (dengan perkataan) ah dasar pedagang. Seakan-akan pedagang rendah. Pedagang juga bayar pajak. Kalau ada sesuatu negara dibela siapa, dibela tentara yang hebat. Darimana semua itu, dari pajak. Siapa yang bayar pajak, ya semuanya,” katanya.

Jusuf Kalla juga menyinggung selama merdeka, Indonesia melewati 15 konflik besar. Seperti peristiwa pemberontakan DI/TII, konflik di Poso, Aceh, Ambon, Tim-tim, maupun Papua. “Dari 15 konflik itu, 10 diantaranya karena ketidakadilan. Untuk mencegah itu, kita harus melaksanakan pembangunan yang adil. Tanpa keadilan kita tak mampu menggerakkan bangsa dengan baik,” kata dia.

Cara agar mencapai keadilan itu, yakni dengan kemajuan ekonomi. Pertumbuhannya harus secara merata dan menjadi lebih baik.

Dengan perkembangan teknologi seperti saat ini, menurutnya memudahkan bagi generasi muda untuk menjadi penggerak ekonomi atau pengusaha. Terlebih mempunyai potensi berupa jumlah penduduknya yang lebih dari 240 juta orang. “Wirausaha adalah orang yang mengetahui kesempatan, dikomersialkan untuk memperoleh keuntungan,” katanya.

Ia mencontohkan seperti di Tiongkok. Negara dengan jumlah penduduk lebih dari 1 miliar tersebut telah mengubah cara pandangnya. Dari yang sebelumnya dianggap menjadi beban karena jumlah penduduknya banyak, tapi diubah menjadi suatu potensi. Untuk bisa bekerja dengan lebih baik. “Maka jadilah negara besar ekonomi ke-2 di dunia,” ucapnya.

 

Sumber : jawapos.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.

WhatsApp WA only