Data CAD Berpotensi Tekan Rupiah

JAKARTA. Defisit transaksi berjalan atau current account dęficit (CAD) triwulan III 2018 diperkirakan akan melebar dari kuartal sebelumnya. Pasalnya, kebijakan pemerintah mengendalikan impor belum berjalan efektif.

Data ini berpotensi memberi sentimen negatif ke pasar domestik, baik dari sisi nilai tukar rupiah maupun pasar saham yang belakangan mendapat angin segar.

Project Consultant Asian Development Bank Institute Eric Sugandi memperkirakan CAD kuartal III 2018 sebesar 3,0% hingga 3,2% dari total produk domestik bruto (PDB). Jumlah itu membengkak dari kuartal II 2018 hanya defisit 3,04%. Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) mencatatkan defisit transaksi pada level di atas 3% pada triwulan III 2013 sebesar 3,71%.

Myrdal Gunarto, Ekonom Maybank bahkan memprediksi CAD bisa melebar hingga 3,5% akibat peningkatan defisit neraca dagang dan banyaknya kebutuhan valuta asing untuk pembayaran dividen serta utang jatuh tempo. Sebelumnya, Gubernur BI Perry Warjiyo juga mengisyaratkan pembengkakan CAD karena impor migas semakin besar.

Tanda-tanda peningkatan CAD terlihat dari defisit neraca dagang yang kian besar. Pada kuartal III tahun 2018 defisit neraca dagang mencapai US $ 2,72 miliar, hampir 2x lipat dibandingkankuartal sebelumnya hanya US $ 1 , 37 miliar.

Hal itu lantąran pemerintah terlambat mengendalikan impor. Seperti kebijakan perluasan biodiesel 20% (B20) guna mengurangi impor minyak, baru terlaksana pada 1 September 2018. Itu pun belum terlaksana secara menyeluruh. B20 baru akan efektif mulai Oktober.

Lalu, kenaikan tarif pajak penghasilan (PPh) pasal 22 terhadap 1.147 barang impor juga baru terlaksana 13 September 2018. “Langkah-langkah pemerintah akan efektif terasa pada kuartal IV dan tahun depan,” tutur Eric, Kamis (8/11).

Apalagi, mulai Oktober kemarin harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi naik.

Di sisi lain, harga minyak mentah dunia juga mulai melemah ke level US $ 60-an per barel. “Puncak pembayaran dividen perusahaan ke investor luar juga sudah lewat, sehingga triwulan IV akan lebih baik,” tutur Myrdal.

Tekanan Rupiah

Piter Abdullah Redjalam, Direktur Riset CORE Indonesia menganalisa, pelebaran defisit transaksi berjalan akan menekan  penguatan nilai tukar rupiah.

Belakangan ini, rupiah dalam tren menguat. Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) BI mencatat kurs rupiah Rp 14.651 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan 8 November 2018.

Padahal sepanjang Oktober dan hingga 2 November, kurs rupiah bertahan di atas Rp 15.000 per dollar AS.

“Rupiah akan kembali melemah jika CAD lewat 3%,” ujar Piter. Namun, pelemahan rupiah tidak akan dalam. Hingga akhir tahun, Piter memperkirakan kurs rupiah tidak akan menembus Rp 15.000 per dollar AS.

Analis Pasar Uang Bank Mandiri Reny Eka Putri sepakat, pelemahan rupiah akibat data CAD hanya sementara dan tidak akan dalam. Jumat (9/11), rupiah bakal bergerak dalam rentang yang cukup lebar yaitu Rp 14,440 –  Rp 14.600.

“Pertumbuhan PDB kuartal III 2018 lebih tinggi dari ekspektasi, cadangan devisa meningkat, dan kepercayaan investor juga membaik sehingga berdampak pada apresiasi rupiah, “ujar Reny.

Eric sependapat, rupiah bisa kembali melemah akibat kinerja CAD. Namun, pelemahan tersebut hanya akan bersifat hanya sementara. “Pelemahan hanya 1-2 hari saja, karena pasar sudah ekspect CAD,” ujar Eric.

Myrdal sependapat, rupiah akan tertekan pelebaran CAD. Bahkan Myrdal memprediksi rupiah hingga akhir tahun bisa kembali ke level Rp 15.000. Alasannya, kebutuhan dollar AS untuk membayar impor masih akan tinggi . Selain itu, suku bunga Federal Reserve akan naik Desember nanti.

Sumber: Koran KONTAN

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp WA only