Cermati 5 Sentimen Penggerak Bursa Saham ini Pekan Depan

Sasar DHE Sumber Daya Alam, Pemerintah Siapkan PP
November 12, 2018
Aura Negatif dari AS Bawa Bursa Saham Asia Melemah
November 12, 2018

Jakarta – Sepanjang pekan lalu Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 0,54% secara point-to-point ke level 5.874,15. Pergerakan IHSG searah dengan bursa saham utama Benua Asia yang juga terperosok ke zona merah.

Untuk pekan ini, pergerakan IHSG akan dipengaruhi berbagai sentimen, baik dari dalam maupun luar negeri, untuk 5 hari ke depan. Apa saja sentimen tersebut? Berikut ulasan nya

Sentimen pertama datang dari dalam negeri, yakni rilis neraca perdagangan periode Oktober 2018 pada 15 November 2018. Pada bulan sebelumnya, RI berhasil membukukan surplus perdagangan sebesar US$ 230 juta.

Perlu disimak bagaimana kinerja perdagangan di bulan lalu, mengingat ada beberapa kondisi yang bisa memengaruhinya. Dari sisi impor, beban importasi RI bisa lumayan ringan, mengingat harga minyak mentah dunia anjlok cukup dalam di sepanjang Oktober 2018.

Harga minyak jenis brent turun 8,76%, sementara harga minyak light sweet anjlok lebih dalam lagi yakni sebesar 10,84%. Harga sang emas hitam banyak dipengaruhi peningkatan pasokan di pasar. Kala itu, Amerika Serikat (AS), Rusia, dan Organisasi Negara-negara Pengekspor Indonesia (OPEC) kompak memberikan sinyal mereka siap membanjiri pasokan pasar minyak dunia.

Sebagai informasi, defisit perdagangan migas selalu menjadi biang kerok “hancurnya” defisit neraca perdagangan RI pada tahun ini. Defisit neraca perdagangan migas mencapai US$ 9,37 miliar pada periode Januari-September 2018, jauh lebih besar dari defisit perdagangan secara total sebesar US$ 3,81 miliar.

Dengan harga minyak mentah dunia yang turun, dipastikan defisit perdagangan migas yang begitu masif dapat diminimalisasi. Meski demikian, perlu diingat sepanjang Oktober nilai tukar rupiah terdepresiasi hingga 2,01% terhadap dolar AS di pasar spot.

Nilai US$ 1 bahkan sempat dibanderol hingga Rp 15.230 pada penutupan perdagangan 11 Oktober 2018, nyaris saja menyentuh level terlemah di sepanjang sejarah RI. Rupiah yang loyo jelas akan menambah biaya importasi yang dilakukan.

Kemudian, dari sisi ekspor, perlu diwaspadai pelemahan harga-harga komoditas. Sepanjang Oktober, hampir semua komoditas (baik tambang maupun agrikultur) unggulan tanah air berguguran.

Dua harga komoditas ekspor utama, yakni minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan batu bara terkoreksi masing-masing 1,1% dan 7,8% di sepanjang  Oktober.

Tidak hanya itu, harga komoditas logam dasar unggulan tanah air juga terkoreksi secara berjamaah. Di sepanjang bulan lalu, harga nikel turun 8,66%, tembaga minus 5,2%, dan aluminium melemah hingga 5,3%.

Beruntung, komoditas timah dan karet masih mampu menguat tipis, masing-masing 1,45% dan 0,21%, di periode yang sama. Meski demikian, sepanjang tahun berjalan 2018 (hingga tanggal 31 Oktober), harga karet masih tercatat mengalami penurunan hingga 29,36%.

Penurunan harga komoditas ini salah satunya disebabkan oleh persepsi melambatnya permintaan global akibat data-data ekonomi Benua Asia yang cenderung mengecewakan di sepanjang Oktober 2018.

Melihat kondisi di atas, RI nampaknya masih perlu berjuang keras mempertahankan surplus yang terjadi pada September. Menarik juga disimak bagaimana dampak dari sejumlah kebijakan pemerintah mengendalikan impor, seperti kebijakan B20, Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22, hingga penundaan proyek yang kurang strategis.

Sebagai catatan, data neraca perdagangan Oktober menjadi fondasi bagi transaksi berjalan di kuartal IV-2018, di mana defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) pada kuartal III-2018 telah melebar parah hingga US$ 8,85 miliar atau setara dengan 3,37% dari Produk Domestik Bruto (PDB). CAD sebesar itu merupakan yang terparah sejak kuartal II-2014.

Pengumuman CAD kuartal lalu dilakukan di akhir pekan lalu, namun setelah berakhirnya sesi perdagangan pasar keuangan RI. Meski pelaku pasar sudah kelihatan “grogi” sebelum data itu diumumkan (terindikasi dari IHSG yang turun 1,72% di akhir pekan), masih ada kemungkinan buruknya CAD akan berdampak pada perdagangan awal pekan ini.

Sentimen kedua masih dari dalam negeri, yakni rilis suku bunga acuan oleh Bank Indonesia (BI). Melihat buruknya CAD di kuartal III-2018, perlu disimak bagaimana kebijakan moneter yang akan dilakukan BI.

Transaksi berjalan menggambarkan arus devisa dari perdagangan barang dan jasa yang lebih mampu menopang nilai tukar rupiah dalam jangka panjang, karena tidak mudah berubah seperti arus modal portofolio. Oleh karena itu, saat CAD mengecewakan, praktis nilai tukar rupiah tidak punya pijakan yang kuat.

Apalagi, hasil pertemuan The Federal Reserve/The Fed yang teranyar memberikan sinyal rencana normalisasi pada Desember akan dieksekusi.

“Komite menilai bahwa kenaikan suku bunga acuan secara bertahap adalah kebijakan yang konsisten dengan ekspansi ekonomi yang berkelanjutan, pasar tenaga kerja yang kuat, dan inflasi di kisaran 2% dalam jangka menengah. Risiko dalam perekonomian masih seimbang,” tulis pernyataan Federal Open Market Committee (FOMC).

Meski demikian, pelaku pasar nampaknya harus bersiap-siap kecewa. Sebab, akhir pekan lalu BI mengirimkan sinyal tak akan ada lagi kenaikan BI 7 Day Reverse Repo Rate hingga akhir tahun.

Dalam beberapa bulan terakhir, bank sentral telah memang telah mengerek bunga acuan hingga 150 basis poin (bps), untuk menjaga daya tarik pasar keuangan domestik di tengah pengetatan likuiditas. Namun, Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan, kenaikan bunga acuan BI sudah menghitung kenaikan Fed Fund Rate di penghujung tahun.

BI nampaknya masih cukup optimistis kenaikan bunga acuan yang dilakukan bank sentral dalam beberapa bulan terakhir telah membuat pasar keuangan domestik  menarik di mata investor. Tapi, apakah pelaku pasar berpikir hal yang sama? Perlu ditunggu jawabannya pada pengumuman hasil RDG BI, 15 November mendatang.

Ekonomi China Melambat Akibat Perang Dagang?

Sentimen ketiga bakal berasal dari China yang diperkirakan mengonfirmasi luka-luka yang dideritanya dalam perang dagang melawan AS. Negeri Tirai Bambu ini pada  14 November akan mengumumkan sejumlah data ekonomi pentingnya.

Data pertama yang akan diumumkan adalah Investasi Aset Tetap periode Oktober 2018. Dalam periode Januari-September, investasi tumbuh 5,4% secara tahunan (year-on-year/YoY), naik dari periode Januari-Agustus sebesar 5,3% YoY.

Meski demikian, investasi di China tersebut sudah turun cukup dalam dari pertumbuhan yang mampu mencapai 7,5% YoY pada kuartal I-2018 lalu.

Kemudian, data lainnya yang akan diumumkan adalah Produksi Industri periode Oktober 2018. Pada September, pertumbuhannya melambat ke angka 5,8% YoY, dari bulan sebelumnya sebesar 6,1% YoY. Bahkan, capaian pada September sudah turun cukup jauh dari capaian April 2018 sebesar 7% YoY.

Data lainnya yang perlu diperhatikan (meski dampaknya tidak sebesar dua indikator yang disebutkan di atas), adalah data penjualan ritel China periode Oktober 2018. Pada September, indikator ini mampu mencatatkan pertumbuhan 9,2% YoY, lebih cepat dari bulan sebelumnya sebesar 9% YoY.

Jika data-data China di atas mengecewakan, pelaku pasar nampaknya mesti mewaspadai bursa saham Asia yang akan berguguran. Investor akan semakin dibuat khawatir akan kerusakan yang diakibatkan perang dagang Washington-Beijing.

Terbaru, pertumbuhan indeks harga produsen China, yang mengukur harga yang diterima produsen untuk penjualan barang dan jasa, melambat ke 3,3% secara tahunan YoY pada Oktober.

Perlambatan itu merupakan yang ke-4 bulan secara berturut-turut. Buruknya data inflasi sisi produsen di Negeri Panda ini turut andil pada kejatuhan bursa saham Benua Kuning di akhir pekan lalu.

Selain dari China, perlu diperhatikan pula rilis datapendahuluan pertumbuhan ekonomi Jepang di kuartal III-2018 beberapa jam sebelum data-data China tersebut diumumkan. Jepang merupakan mitra dagang utama dari China. Apabila pertumbuhannya melambat, hal itu akan mengindikasikan virus perang dagang juga sudah mulai menular.

Ke Mana Arah Pergerakan Harga Minyak Dunia?

Sentimen keempat bakal muncul dari pergerakan harga minyak dunia. Pada penutupan perdagangan Jumat (11/11/2018), harga minyak jenis brent kontrak Januari 2019 terkoreksi 0,66% ke level US$ 70,18/barel. Di waktu yang sama, harga minyak jenis light sweet kontrak Desember 2018 turun 0,79% ke level US$ 60,19/barel.

Dengan pergerakan itu, harga light sweet yang menjadi acuan di AS sudah melemah 10 hari berturut-turut, yang merupakan reli pelemahan harian terpanjang sejak 1984. Harga light sweet bahkan sudah menyentuh level terendahnya dalam 8 bulan terakhir, atau sejak awal Maret 2018.

Sementara, harga brent yang menjadi acuan di Eropa juga kini sudah berada di level terburuknya sejak awal April 2018, atau dalam 7 bulan terakhir.

Kejatuhan harga minyak tidak lepas dari fundamental komoditas minyak mentah dunia yang memang buruk. Pasokan membanjir, sementara permintaan justru diramal lesu akibat masih berlangsungnya perang dagang AS-China.

Menarik untuk disimak, bagaimana pergerakan harga minyak dalam sepekan ke depan. Ada dua sentimen utama yang sebenarnya mampu memengaruhi harga sang emas hitam, yakni dari rencana Organisasi Negara-Negara Pengeksor Minyak (OPEC) untuk memangkas produksi, serta rilis cadangan minyak mentah AS.

Arab Saudi disebut tengah membahas pengurangan produksi minyak sebanyak satu juta barel per hari bersama dengan OPEC dan negara sekutunya. Hal itu disampaikan oleh dua sumber Reuters yang mengetahui diskusi itu pada Ahad (11/11/2018).

“Ada diskusi tentang ini. Tapi pertanyaannya, berapa banyak yang dibutuhkan untuk mengurangi supply di pasar,” kata sumber tersebut. Pembicaraan itu belum selesai karena masih menunggu realisasi pengurangan ekspor minyak Iran.

Sebelumnya, ketika ditanya mengenai keseimbangan pasar, Menteri Energi Saudi Khalid Al-Falih menjawab normatif. “Kami akan mencari tahu. Kami ada pertemuan nanti,” ujarnya dilansir Reuters.

Bulan lalu, Al-Falih sempat menyebutkan ada kemungkinan untuk melakukan intervensi demi mengurang stok minyak setelah jumlahnya meningkat beberapa bulan terakhir.

Pelaku pasar perlu mewaspadai perkembangan rencana OPEC ini. Jika memang kabarnya semakin jelas dan positif, harga minyak bisa punya energi untuk bangkit dari keterpurukannya.

Meski demikian, pelaku pasar juga perlu mencermati rilis data cadangan minyak mentah AS dalam sepekan yang berakhir 9 November 2018. Data ini akan dirilis oleh US Energy Information Administration (EIA) pada 15 November 2018 mendatang, bersamaan dengan produksi minyak mentah mingguan di Negeri Paman Sam.

Sebelumnya, EIA melaporkan cadangan minyak mentah AS naik ke angka 5,8 juta barel dalam sepekan yang berakhir tanggal 2 November, jauh di atas ekspektasi pasar yang memperkirakan kenaikan 2,4 juta barel. Tidak hanya itu, EIA juga mencatat produksi minyak mentah mingguan AS tercatat 11,6 juta barel/hari, menjadi rekor mingguan terbesar sepanjang sejarah Negeri Adidaya.

Apabila produksi maupun cadangan minyak mentah AS masih amat perkasa, siap-siap harga minyak mentah akan kembali terperosok ke zona merah. Jika demikian, saham-saham pertambangan dan migas di dunia dipastikan akan melemah, tidak terkecuali saham sektor energi di Indonesia.

Namun bagi rupiah, penurunan harga minyak adalah kabar gembira. Seperti sudah disinggung sebelumnya, ketika harga minyak turun, maka biaya importasi migas akan lebih murah dan mengurangi tekanan kebutuhan valas. Rupiah pun bisa lebih tenang dan nyaman.

Bisakah Ekonomi AS Pulih?

Sentimen kelima datang dari rilis data-data ekonomi AS. Negeri Adidaya akan mengumumkan data-data ekonomi penting seperti pertumbuhan Indeks Harga Konsumen (IHK) periode Oktober 2018(14 November 2018), data penjualan ritel periode Oktober 2018(15 November 2018), hingga data indeks manufaktur Empire State dan Philadelphia periode November 2018 (15 November 2018).

IHK Negeri Paman Sam meningkat 0,1% secara bulanan (month-to-month/MtM) pada September, lebih rendah dari bulan sebelumnya sebesar 0,2% MtM.

Secara tahunan, pertumbuhan IHK atau inflasi tercatat sebesar 2,3% YoY pada September, melambat dari capaian Agustus sebesar 2,7%. Inflasi tahunan pada September lantas menjadi yang terendah dalam 7 bulan terakhir.

Adapun mengacu pada konsensus yang dihimpun Reuters, inflasi diperkirakan mencapai 0,2% MtM dan 2,4% YoY di September, masih lebih cepat dari realisasi.

Senada dengan data inflasi yang mengecewakan, penjualan ritel hanya mencatatkan pertumbuhan 0,1% MtM pada September, tidak berubah dari capaian Agustus. Pertumbuhan penjualan ritel kala itu itu masih jauh di bawah konsensus Reuters yang memperkirakan kenaikan sebesar 0,6% MtM.

Adapun secara tahunan, penjualan ritel Negeri Paman Sam naik 4,7% YoY di September, melambat cukup drastis dari 6,6% di Agustus. Malahan, jika ditarik secara historis, perubahan tahunan pada September itu merupakan yang terlambat dalam 7 bulan terakhir, atau sejak Februari 2018.

Menarik untuk disimak apakah aktivitas ekonomi di AS akan pulih pada bulan lalu. Jika tidak, pelaku pasar nampaknya akan berpikir bahwa laju permintaan di AS ternyata belum terlalu kencang, masih ada potensi perlambatan.

Itu artinya, ada kemungkinan laju pertumbuhan ekonomi Negeri Adidaya tidak secepat yang diharapkan. Bisa jadi tidak hanya China, kini AS juga mulai “sakit-sakitan” akibat perang dagang.

Sumber : cnbcindonesia.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.

WhatsApp WA only