Defisit Transaksi Berjalan Kuartal IV Diyakini Terkikis Mandatori B20

Insentif Pajak Spesifik Kunci Ekspor RI di Tengah Perang Dagang
November 13, 2018
Maaf, Tak Ada Lagi Kebijakan Baru untuk Tekan CAD
November 13, 2018

DEPOK – Kementerian Keuangan optimistis, defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) Indonesia akan membaik di kuartal IV. Pasalnya, di kisaran bulan Oktober—Desember, imbas dari penerapan mandatori penggunaan biodiesel 20% (B20) diyakini mulai terasa nyata.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu Suahasil Nazara, dalam acara Indonesia Economic Outlook (IEO) 2019 di Universitas Indonesia (UI) mengungkapkan, penerapan B20 sendiri mulai benar-benar terasa pada Oktober 2018. Kebijakan ini diharapkan bisa mengurangi impor migas yang selama ini menjadi penyebab kuat tingginya defisit neraca perdagangan Indonesia.

“Penerapan B20 itu merupakan sinyal dan diharapkan akan mulai turun impornya di Oktober 2018. Memang di September 2018 belum kelihatan efeknya yang terlalu besar,” ucapnya di Depok seperti dilansir Antara, Senin (12/11).

Suahasil meyakini, apabila kebijakan B20 konsisten dilakukan, impor akan menyusut sehingga defisit migas di kuartal IV-2018 akan lebih kecil. Berdasarkan data BPS sendiri, hingga September 2018, defisit neraca perdagangan migas telah mencapai US$9,38 miliar.

Selain penerapan B20, konsistensi Kemenkeu guna menekan pelebaran defisit transaksi berjalan juga dilakukan lewat substitusi impor dengan produk dalam negeri dan penyesuaian tarif pajak penghasilan (PPh) Pasal 22. Pemerintah juga berupaya mengundang arus modal masuk dengan insentif pajak.

Dijelaskan Suahasil, setidaknya sudah ada 8 perusahaan yang rencana investasinya secara total mencapai Rp161,3 triliun sudah menerima insentif pengurangan pajak penghasilan. Pengurangan tersebut sesuai revisi Peraturan Menteri Keuangan (PMK) mengenai tax holiday.

“Rangkaian ini kami memang sudah pikirkan sejak jauh-jauh hari. Konsistensi dan antisipasi ini sudah kami dibicarakan sejak lama,” tegas Suahasil.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengklaim, efektivitas kebijakan pemerintah untuk mendorong ekspor dan mengurangi impor mulai terlihat. Hal tersebut menurutnya bakal menekan defisit transaksi berjalan pada kuartal IV-2018.

“Kita percaya beberapa kebijakan, dampaknya mulai efektif,” kata Darmin.

Darmin mengatakan, berbagai kebijakan untuk mendorong kinerja investasi dalam bidang pengolahan yang berbasis ekspor dan substitusi impor. Termasuk pemanfaatan biodiesel (B20) untuk mengurangi impor solar, belum sepenuhnya tercatat pada defisit neraca transaksi berjalan pada kuartal III-2018.

Namun, ia meyakini kebijakan tersebut akan memperlihatkan hasil pada akhir tahun. Jadi, realisasi defisit neraca transaksi berjalan di kuartal IV-2018 dapat lebih rendah dari kuartal III-2018 yang tercatat sebesar US$8,8 miliar atau 3,37% terhadap PDB.

“Kalau defisit transaksi berjalan, persentase terhadap PDB di kuartal empat, semestinya menurun. Berapa angkanya? Saya terus terang belum bisa bilang. Biasanya juga kuartal empat, tidak lebih dari kuartal sebelumnya,” ujarnya.

Darmin juga menjelaskan, mengatasi persoalan transaksi berjalan bukan masalah yang mudah karena hampir selama 40 tahun terakhir, lebih banyak tercatat defisit dibandingkan surplus. Lanjutnya, akibat terlalu banyak produk bahan baku, setengah jadi maupun modal yang harus diimpor.

Meski demikian, transaksi berjalan ini tidak mengalami defisit terlalu dalam dan menimbulkan persoalan serius, karena pemerintah maupun bank sentral masih bisa mengelola neraca modal dan keuangan agar tercatat surplus dan memberikan kontribusi terhadap perekonomian.

“Jadi tergantung transaksi modal dan keuangan, karena sampai sekian tahun, surplus neraca modal dan keuangan selalu bisa menutupi. Kalau bisa menutup, tidak masalah. Kalau lebih, malah cadangan devisanya naik,” ujarnya.

Untuk itu, pemerintah juga berupaya untuk mengelola masuknya investasi dan modal ke Indonesia dengan melakukan revisi Daftar Negatif Investasi, membuat kebijakan untuk mempertahankan Devisa Hasil Ekspor serta memperbaiki fasilitas insentif perpajakan guna memperbaiki neraca pembayaran.

Defisit Melebar
Sekadar mengingatkan, Bank Indonesia mencatat, defisit neraca transaksi berjalan pada kuartal III-2018 mencapai 3,37% dari PDB atau sebesar US$8,8 miliar. Defisit neraca berjalan ini meningkat dibandingkan posisinya di kuartal II-2018. Saat itu, transaksi berjalan hanya defisit US$8miliar atau setara dengan 3,02% dari PDB.

Meski begitu, menurut bank sentral, defisit neraca transaksi berjalan secara akumulatif baru mencapai 2,86% dari PDB, atau masih berada dalam batas aman dibawah 3% terhadap PDB. “Dengan perkembangan tersebut, secara kumulatif defisit neraca transaksi berjalan hingga kuartal III-2018 tercatat 2,86% PDB,” ungkap Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Agusman akhir pekan lalu.

Ia menyatakan, defisit transaksi berjalan yang meningkat pada kuartal III-2018 ini disebabkan memburuknya kinerja neraca perdagangan barang dan meningkatnya defisit neraca jasa. Neraca perdagangan mengalami defisit karena meningkatnya nilai impor minyak serta permintaan impor yang tinggi di sektor non-migas seiring dengan konsumsi domestik yang menggeliat.

Untuk diketahui, harga minyak jenis Wex Texas Intermediate (WTI) memang telah naik ke kisaran US$70-an per barel untuk pengiriman November. Sementara itu, harga minyak jenis Brent juga telah mencapai US$80,43 per barel guna pengiriman Desember. Besaran harga minyak tersebut pun telah jauh meleset dari asumsi dasar makro yang menetapkan harga minyak di angak US$48 per barel.

“Peningkatan defisit neraca perdagangan migas terjadi seiring dengan meningkatnya impor minyak di tengah naiknya harga minyak dunia,” kata Agusman lagi.

Sebelumnya, Gubernur BI, Perry Warjiyo mengatakan, masih tingginya defisit di kuartal III dikarenakan belum adanya efek-efek dari kebijakan yang kebanyakan dilakukan di bulan September. Apalagi pada Juli dan Agustus, tercatat defisit perdagangan juga tampil membengkak.

“Kuartalnya kan masih ada Juli sama Agutus yang masih tinggi. Defisitnya gede kan memang di migas. Memang di kuartal III masih wajar kalau masih di atas 3%,” ungkap Perry dalam jumpa pers dengan wartawan, beberapa waktu lalu.

Akan tetapi ke depannya, defisit transaksi berjalan diyakini bisa tergerus dengan adanya langkah-langkah pemerintah terkait B20, PPh impor, hingga kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Hingga akhir Desember diperkirakan, posisi CAD bisa di bawah 3% dari PDB.

Untuk diketahui, PDB Indonesia sendiri pada tahun kemarin tercatat sebesar Rp13.588,80 triliun. dengan begitu, 3% dari nilai tersebut sudah mencapai US$407,64 triliun.

Sumber: validnews.id

Leave a Reply

Your email address will not be published.

WhatsApp WA only