Saham sektor consumer goods diprediksi melaju positif di tahun 2019

RAPBD Badung 2019 Dikoreksi Jadi Rp 7,7 Triliun
November 13, 2018
Minimalisir Defisit Anggaran, Ini Sanksi Bagi Penunggak Iuran BPJS Kesehatan
November 13, 2018

JAKARTA. Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat pergerakan indeks saham sektor industri consumer goods masih mengalami penurunan. Sejak awal tahun 2018 hingga akhir pekan kemarin atau year to date (ytd), penurunannya sebesar 19,16% ke level 2.313, menjadi sektor saham dengan penurunan terdalam.

Dalam sepekan kemarin, sektor ini merosot 4,79%. Penurunan beberapa saham sektor konsumer berkapitalisasi besar atau big caps menjadi pemberat langkah ini melaju.

Adapun saham-saham big caps sektor industri consumer goods yang masih bergerak lambat antara lain saham PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) yang masih menurun 5,62% ke level Rp 40.325 per saham dalam sepekan. Selain itu dallam sepekan terakhir, PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) pun turun cukup dalam 10,53% ke level Rp3.400 per saham.

Saham PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) menurun 3,92% ke level Rp 8.575 per saham, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) menurun 4,15% ke level Rp 5.775 per saham.

Menanggapi kondisi tersebut, Nafan Aji, Analis Binaartha Sekuritas mengatakan, penurunan memang sudah terjadi cukup dalam sejak awal tahun. Banyak faktor yang menyebabkan sektor ini menurun seperti dari sentimen daya beli masyarakat yang stagnan, kenaikan suku bunga acuan, pelemahan rupiah dan faktor global dari perang dagang.

Asal tahu saja, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi kuartal III 2018 sebesar 5,17% secara year on year (yoy). Angka itu lebih tinggi dari kuartal III 2017 yang sebesar 5,06%. Namun, lebih rendah dari kuartal II 2018 yang sebesar 5,27%.

“Hingaa saat ini belum ada sentimen positif yang cukup kuat lagi untuk mendorong sektor ini. Namun diharapkan periode libur akhir tahun akan mendongkrak sektor ini,” ujar Nafan kepada Kontan, Jumat (9/11).

Kendati demikian, pihaknya optimis sektor ini akan terus membaik di 2019 karena tingkat konsumsi masyarakat yang akan diproyeksi terus membaik dan kebijakan pemerintah yang mengakomodasi peningkatan konsumsi masyarakat. Di sisi lain, perayaan tahun politik diharapkan dapat meningkatkan konsumsi masyarakat.

Terkait pelemahan yang terjadi pada perdagangan pekan lalu, menurut Nafan hal tersebut lebih disebabkan oleh adanya aksi profit taking dari pelaku pasar memasuki akhir tahun.

Menyoal penurunan ini, Analis Trimegah Sekuritas, Rovandi mengatakan, sektor konsumer masih menurun dikarenakan pendukung utamanya yakni saham-saham rokok masih terkoreksi cukup dalam.

“Sektor rokok masih terimbas dari sentimen negatif di Amerika Serikat mengenai rumor pajak rokok dari Food and Drug Administration (FDA),” ujarnya kepada Kontan. Pasar merespon dengan melakukan penarikan dana dari sektor saham tersebut.

Lebih lanjut, Analis Phintraco Sekuritas, Valdy Kurniawan mengatakan, penurunan sektor ini disebabkan dari beberapa emiten penghuninya diisi oleh saham big caps yang sedang mengalami aksi jual dan menyebabkan sektor ini turun cukup dalam.

Kinerja beberapa emiten di sektor ini pun dirasa belum maksimal yang dipicu oleh angka pertumbuhan ekonomi yang masih tertahan di kisaran 5% year on year (yoy), sejalan dengan konsumsi rumah tangga yang masih tumbuh stagnan.

“Tahun depan harusnya akan ada perbaikan. Mengingat asumsi pertumbuhan ekonomi yang bisa di atas 5%, tingkat inflasi stabil dan nilai tukar rupiah yang pula stabil,” ujar Valdy.

Adapun beberapa saham yang direkomendasikan oleh Valdy untuk jangka pendek adalah INDF dan ICBP. Pun, Nafan merekomendasikan untuk melakukan akumulasi beli INDF dan ICBP untuk jangka menengah dan panjang dengan masing-masing target harga sebesar Rp 9.700 per saham untuk ICBP dan Rp 6.650 per saham untuk INDF.

 

Sumber : kontan.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published.

WhatsApp WA only