Inikah Jurus Baru Jokowi Tekan CAD?

Jakarta, CNBC Indonesia – Pemerintah tampaknya betul-betul all out untuk menjaga stabilitas perekonomian nasional, dengan menjaga defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) tidak terus-terusan melebar lebih dalam.

Dalam beberapa bulan terakhir, defisit transaksi berjalan berusaha dikendalikan melalui kewajiban penggunaan tingkat kandungan dalam negeri dan B20, serta pengendalian ribuan impor barang konsumsi.

Namun, pemerintah menyadari bahwa permasalahan CAD bukan hanya untuk ‘dikendalikan’, melainkan juga bagaimana defisit transaksi berjalan bisa ‘dibiayai’ dengan aliran modal finansial, seperti di tahun-tahun sebelumnya.

Sekretaris Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso mengemukakan hal tersebut menjadi alasan utama pemerintah merevisi Daftar Negatif Investasi (DNI) yang selama ini memang diakui kurang menarik minat investor.

“Pengalaman di Perpres sudah direlaksasi, dibuka, ternyata butuh dievaluasi. Ada sekian puluh bidang misalkan, ternyata tidak optimal, tidak ada investasinya sama sekali.” kata Susiwijono, Selasa (13/11/2018) malam.

Defisit transaksi berjalan pada kuartal II-2018 tercatat US$8,8 miliar atau setara 3,37% dari produk domestik bruto (PDB). Angka tersebut lebih dalam dibandingkan defisit kuartal sebelumnya sebesar US$8 miliar atau 3,02% dari PDB.

Peningkatan defisit transaksi berjalan dipengaruhi oleh kinerja neraca perdagangan barang dan meningkatnya defisit neraca jasa. Bank Indonesia (BI) menjelaskan faktor yang membuat kinerja neraca perdagangan turun dan defisit neraca jasa meningkat.

Inikah Jurus Baru Jokowi Tekan CAD?Foto: Infografis/KONDISI DEFISIT TRANSAKSI BERJALAN INDONESIA DALAM 4 TAHUN TERAKHIR/Aristya Rahadian Krisabella
Penurunan kinerja neraca perdagangan dipengaruhi naiknya defisit neraca migas seiring dengan tingginya impor minyak. Sementara naiknya defisit neraca jasa, bersumber dari sektor jasa transportasi, sejalan dengan peningkatan impor barang.

Adapun transaksi modal dan finansial pada kuartal III-2018, memang masih mencatatkan surplus US$4,2 miliar. Meski demikian, bank sentral tak memungkiri bahwa surplus di transaksi modal dan finansial belum cukup membiayai CAD.

“Kami melihat momen yang tepat sekalian untuk mengatasi CAD. Kemarin neraca pembayaran kami petakan bukan hanya problem di transaksi berjalan, tapi transaksi finansial,” kata Susiwijono.

“Ini masalah bagaimana attract investasi melalui DNI dan tax holiday. Berarti tidak langsung ke transaksi berjalan tapi ke transaksi finansialnya,” jelasnya.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati beberapa waktu lalu menegaskan kebijakan pemerintah memang tak serta merta langsung menurunkan defisit transaksi berjalan. Dibutuhkan waktu lebih, untuk melihat efektivitas kebijakan tersebut.

Sri Mulyani tak memungkiri rangkaian kebijakan pemerintah untuk mengendalikan defisit transaksi berjalan belum cukup optimal. Misalnya, terlihat dari implementasi B20 yang masih cukup bermasalah terutama dari sisi distribusi.

Sumber: cnbcindonesia.com

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp WA only