Sri Mulyani Bicara Respons Publik soal Utang Luar dan Dalam Negeri

Amandemen APBN 2019, Pajak Rokok Dan Minuman Bersoda Dinaikkan
November 16, 2018
Bappenas: Industri Perikanan Bisa Turunkan CAD Lewat Ekspor Ikan
November 16, 2018

Jakarta – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati bicara soal utang dalam acara Simposium Nasional Keuangan Negara di Pusdiklat Pajak, Jakarta, Rabu (14/11/2018). Sri Mulyani menjelaskan pemerintah menarik utang dalam negeri maupun luar negeri untuk pembiayaan.

Oleh sebab itu siapapun yang mau mengkaji soal utang pemerintah harus mencakup utang luar negeri dan dalam negeri.

“Ada research mengenai utang, tapi dia cuma bahas utang luar negeri dan pengaruhnya, dan saya bertanya kenapa dia cuma bicara utang luar negeri? Karena sebetulnya nggak ada bedanya kita pinjam utang luar negeri atau utang dalam negeri,” kata Sri Mulyani di Pusdiklat Pajak, Jakarta, Rabu (14/11/2018).

Menurut Sri Mulyani di masyarakat cenderung emosional ketika membahas soal utang, apalagi utang itu mengalir dari luar negeri.

“Barangkali ada bedanya pinjam, utang luar negeri dengan utang dalam negeri. Secara emosional mungkin ada bedanya kalau luar negeri lebih kesal kalau dalam negeri kagak,” kata Sri Mulyani.

Dia menambahkan utang merupakan bentuk pembiayaan yang dipakai pemerintah, salah satunya untuk program-program pengentasan kemiskinan.

“Evidence-nya apa sih? Pengaruh utang terhadap pengurangan kemiskinan kan bagus,” kata Sri Mulyani.

Sebagai informasi, total utang pemerintah per September 2018 naik Rp 53,18 triliun menjadi Rp 4.416,37 triliun dari posisi di Agustus yang sebesar Rp 4.363,19 triliun.

Dibandingkan dengan posisi utang pada periode yang sama di 2017, ada kenaikan sebesar Rp 549,92 triliun dari Rp 3.866,45 triliun menjadi Rp 4.416,37 triliun.

Jika dirinci Utang pemerintah yang sebesar Rp 4.416,37 triliun terdiri dari pinjaman yang sebesar Rp 823,11 triliun dan surat berharga negara (SBN) Rp 3.593,26 triliun.

Pinjaman yang sebesar Rp 823,11 triliun terdiri dari pinjaman luar negeri sebesar Rp 816,73 triliun dengan rincian, pinjaman bilateral Rp 328,35 triliun, multilateral Rp 440,89 triliun, komersial Rp 45,98 triliun, suppliers Rp 1,52 triliun. Sedangkan pinjaman dalam negerinya sebesar Rp 6,38 triliun.

Untuk SBN yang sebesar Rp 3.593,26 triliun, terdiri dari denominasi rupiah Rp 2.537,16 triliun degan rincian SUN Rp 2.123,35 triliun, SBSN Rp 413,81 triliun.

Selajutnya, denominasi valas sebesar Rp 1.056,10 triliun dengan rincian SUN Rp 824,70 triliun dan SBSN sebesar Rp 231,40 triliun.

Sumber: finance.detik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.

WhatsApp WA only