Bappenas: Industri Perikanan Bisa Turunkan CAD Lewat Ekspor Ikan

Sri Mulyani Bicara Respons Publik soal Utang Luar dan Dalam Negeri
November 16, 2018
Bea Cukai Rancang Kemudahan Pengurusan Importasi Kendaraan Bermotor Secara Daring
November 16, 2018

Jakarta – Menteri Perencanaan dan Pembangunan Nasional (PPN) atau Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro menginginkan industri di sektor perikanan dan kelautan bisa membantu pengurangan current account defisit (CAD) atau defisit transaksi berjalan. Dia mengatakan hal yang bisa dilakukan secara cepat adalah dengan meningkatkan ekspor ikan segar.

“Industri ini bisa membantu mengurangi CAD misal dengan cara menaikkan ekspor ikan segar. Diharapkan, nanti bisa mengkompensasi defisit minyak dan gas,” kata Bambang dalam pidatonya di acara “Sumbang Pemikiran Kadin untuk RPJMN 2020-2024 dalam Peningkatan Industri Kelautan dan Perikanan” di Kantor Bappenas, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu, 14 November 2018.

Merujuk pada Laporan Neraca Pembayaran Indonesia Kuartal III, yang dirilis Bank Indonesia, CAD pada kuartal ini mencapai angka 3,37 persen atau senilai USD 8,8 miliar. Angka itu meningkat jika dibandingkan pada kuartal sebelumnya yang mencapai 3,02 persen.

Adapun, dari kuartal I hingga III, secara kumulatif CAD telah mencapai angka 2,86 persen. CAD yang jeblok tersebut salah satunya disumbang oleh membengkaknya neraca perdagangan minyak dan gas (migas) akibat meningkatnya impor di tengah harga yang melambung.

Selain itu, Bambang berharap ke depan, industri perikanan dan kelautan mampu bertransformasi ke sektor yang lebih memberikan nilai tambah, seperti manufaktur dan jasa. Dalam hal ini, produk-produk yang dihasilkan dan berorientasi ekspor bukan hanya sebatas barang atau bahan mentah saja.

Bambang, menyebutkan Indonesia bisa mencontoh Thailand yang juga memiliki surplus CAD lewat mengembangkan industri olahan makanan dan minuman. Apalagi, Indonesia juga punya potensi serupa jika dilihat dari nilai ekspor yang besar senilai USD 10,88 miliar di sektor industri olahan.

Belum lagi, Indonesia memiliki potensi yang besar karena memiliki sumber daya yang cukup dengan luas lautan di Zona Ekonomi Eksklusif. “Jadi kalau ada udang kalengan, abalone kalengan, crab kalengan, bisa dapat ekonomi dengan nilai lebih dari sumber daya lautnya,” kata Bambang.

Bambang berharap, selain membantu mengurangi defisit transaksi berjalan, ke depan industri kelautan dan perikanan mampu membantu menyelesaikan persoalan sosial. Misalnya, dengan cara memberikan lapangan kerja, mengurangi kemiskinan dan juga ketimpangan sosial dengan hadirnya industri ini.

Sumber: bisnis.tempo.co

Leave a Reply

Your email address will not be published.

WhatsApp WA only