Sisi Lain Kehidupan Sopir Truk Batu Bara, Pelat Luar Menggerus Pendapatan Sopir Lokal

Pajak dinaikkan, impor barang mewah turun hampir 10 persen
November 16, 2018
Polisi Tak Main-main Buru Kendaraan yang Ogah Bayar Pajak
November 16, 2018

MUARA BULIAN – Pertambahan perusahaan pertambangan batu bara yang beroperasi di wilayah Provinsi Jambi, dinilai menimbulkan kerugian bagi sopir lokal di Kabupaten Batanghari.

Ratusan truk hilir mudik untuk mengangkut batu bara melintasi Kabupaten Batanghari. Namun, kendaraan itu sebagian besar berpelat nomor kendaraan luar daerah.

Dengan keadaan tersebut, Pemerintah Kabupaten Batanghari kehilangan potensi pendapatan asli daerah (PAD) yang nilainya bisa mencapai miliaran rupiah. Itu terutama dari pajak kendaraan truk BB tersebut.

Pantauan tribunjambi.com, truk batu bara melintas ruas Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) Kabupaten Batanghari. Terutama di Jalinsum wilayah Batanghari-Kota Jambi, maupun Batanghari Sarolangun dan daerah perbatasan dengan provinsi tetangga.

Banyak kendaraan angkutan yang berpelat nomor luar daerah Batanghari. Sisanya dari luar provinsi, mulai dari Sumatera Selatan. Bahkan ada yang dari Jakarta dan daerah di Pulau Jawa.

Dengan masuknya, truk dari luar Jambi, itu berdampak juga pada kondisi perekonomian sopir di Batanghari.

Seorang sopir truk batu bara asal Batanghari bernama Arlon (43), mengatakan dengan keadaan tersebut secara tidak langsung juga berdampak pada penghasilan mereka. Bila dibandingkan dengan tahun tahun sebelumnnya, jauh mengalami penurunan pendapatan seiring menjamurnya sopir dan kendaran dari luar daerah.

“Tidak hanya berdampak pada daerah dari sisi PAD, sopir lokal dengan plat nomor daerah Jambi, terkena imbasnya. Ada ratusan truk batubara plat luar (Jambi) yang beroperasi. Ini menjadi menjadi masalah bagi kita, sopir lokal. Persaingan menjadi tidak sehat, mempengaruhi pendapat sopir lokal,” ujarnya.

Dia mengatakan jika dulu sebelum maraknya kendaraan pengangkut batu bara dari daerah luar, dalam sehari dia bersama sopir lokal lainnya dapat mengangkut BB hingga tiga kali PP dalam satu hari namun saat ini sulit untuk mengulangnya.

“Belum lagi jika terlalu memaksa terbentur aturan, bahkan hal yang tidak diinginkan. Kita berharap ada juga perhatian dari pemerintah saat ini hanya dampak negatif saja yang mencuat tapi dari sisi lain kami terlupakan,” ujarnya.

Itu belum lagi bagi mereka yang memiliki kendaraan kredit, yang hanya bergantung dari hasil bongkar muat batu bara saja. Dia mengatakan bagaimana bisa menutupi kebutuhan tersebut dengan keadaan saat ini yang harus berburu di kampung sendiri.

Sumber: jambi.tribunnews.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.

WhatsApp WA only