Harga CPO tembus level terendah sejak 2015

Usul DPR Agar Penerimaan Negara Makin Moncer
November 16, 2018
Tangerang Luncurkan Aplikasi Si Cepot Cetak Pembayaran Pajak Tak Usah Repot
November 16, 2018

JAKARTA. Pasokan minyak sawit mentah alias crude palm oil (CPO) yang melimpah serta penurunan harga minyak menyeret harga jual CPO hingga sentuh level terendahnya sejak 2015.

Mengutip Bloomberg, Rabu (14/11) harga CPO kontrak Januari 2019 di Malaysia Derivative Exchange tercatat melemah 1,69% menyentuh level terendahnya sejak 2015 di RM 1.973 per ton. Dalam sepekan dari periode tersebut, harga CPO melemah 6,5% dan membuat harga CPO di Kamis (15/11) menguat secara teknikal sebesar 0,05% ke RM 1.974.

Analis Asia Tradepoint Futures, Deddy Yusuf Siregar mengatakan harga minyak dunia yang dalam tren bearish juga berpengaruh membuat harga CPO turun.

“Kita tahu, CPO sebagai biofuel menjadi salah satu subsitusi bahan bakar minyak, jadi saat harga minyak dunia anjlok, produksi biofuel CPO jadi kurang ekonomis,” kata Deddy, Kamis (15/11).

Selain itu, penurunan harga CPO juga dipengaruhi dari menumpuknya pasokan CPO di Malaysia. Deddy mencatat di Oktober pasokan CPO Malaysia naik 7,6% secara month on month ke 2,72 juta ton. Pasokan ini bertambah karena produksi CPO Malaysia di sepanjang Oktober naik 6% atau senilai 1,96 juta ton.

Penumpukan pasokan CPO, nyatanya juga tidak dibarengi dengan permintaan. Deddy mencatat ekspor Malaysia di periode yang sama turun 3% menjadi 1,57 juta ton.

Oleh karena itu, tidak heran harga CPO dalam tren bearish berada di bawah RM 2.000 per ton.

Analis Monex Investindo Futures, Faisyal menambahkan harga CPO cenderung turun karena ringgit menguat. Selain itu, kenaikan pajak impor CPO dari India sebesar 30% menjadi 44% juga mempengaruhi permintaan ekspor dan harga CPO yang turun.

Deddy memproyeksikan di akhir tahun bukan tidak mungkin harga CPO masih bearish jika harga minyak dunia juga belum terangkat.

Sementara, hingga akhir tahun fundamental CPO juga Deddy proyeksikan belum pulih. Penyebabnya, produksi CPO dari Malaysia dan Indonesia masih akan tinggi. Apalagi, tingginya produksi CPO tidak dibarengi dengan pertumbuhan global.

“Kekhawatiran pertumbuhan global, titik terang perang dagang AS dan China belum jelas, jadi pekenan harga CPO hingga akhir tahun,” kata Deddy.

Secara teknikal Deddy menganalisis harga CPO berada di bawah MA 50,100, dan 200 menunjukkan harga berpotensi melemah. Stochastic berada di area oversold berpotensi rebound. RSI berada di area oversold berpotensi rebound. MACD berada di area negatif harga berpotensi cenderung turun.

Untuk perdagangan, Jumat (15/11), Deddy memproyeksikan harga CPO berada di rentang RM 1.970 per ton hingga RM 2.010 per ton. Sementara untuk sepekan harga CPO diproyeksikan berada di rentang RM 1.970 per ton hingga RM 2.010.

Sementara, di akhir tahun, Deddy proyeksikan harga CPO berada di RM 2.000 per ton hingga RM 2.200 per ton.

Sedangkan, Faisyal memproyeksikan harga CPO di Jumat (16/11) berada di RM 1.945 per ton hingga RM 1.970 per ton.

Baru di tahun 2019, Deddy proyeksikan harga CPO memiliki peluang untuk menguat. Beberapa sentimen positif yang mendukung, harga sudah terdiskon cukup dalam, kelanjutan kebijakan pencampuran biodiesel (B20), kemungkinan ketegangan perang dagang mulai mereda bila pertemuan antara Presiden AS Trump dengan Presiden China Xi Jinping berjalan lancar, permintaan meningkat jelang ramadhan, dan dibukanya pasar baru ke Rusia dan Eropa Timur.

Sumber: investasi.kontan.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published.

WhatsApp WA only