Ekspor Pertanian Masih Gempor

Lonjakan Nilai Impor Indonesia Dorong Melebarnya Defisit Neraca Perdagangan
November 16, 2018
Sulit Nian kendaliakan Nafsu Impor
November 16, 2018

JAKARTA. Ekspor produk pertanian Indonesia periode Januari-Oktober 2018 masih memble. Penurunan ekspor pertanian yang paling dalam terjadi pada komoditas lada hitam dan lada putih, kopi, karet alam, serta sejumlah produk sayuran.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), secara tahunan periode Januari-Oktober 2018, nilai ekspor produk pertanian turun 8,45 % menjadi US$ 2,81 miliar. Periode sama tahun lalu, nilainya sebesar US$ 3,07 miliar.

Di antara sejumlah komoditas lain, ekspor kopi turun paling dalam. Sepuluh bulan pertama tahun ini, nilai ekspor kopi sekitar US$ 662,76 juta, turun 36,10 % dibanding periode sama tahun lalu.

Nilai ekspor karet alarm turun 20,74 % menjadi sekitar US 6,59 juta, lada hitam tu run 55 % menjadi US $ 35,4 juta . Sementara ekspor lada putih juga turun 29,79 % menjadi US$ 79,06 juta.

Meski begitu, Kepala BPS Suhariyanto menilai penurunan ekspor hasil pertanian ini masih wajar karena seirama penurunan produksi di dalam negeri. “Ini sesuatu yang normal karena mengikuti musim,” ujar Suhariyanto dalam konferensi pers, Kamis (15/11)

Meski begitu, ia menyatakan, dibandingkan Oktober 2017, nilai ekspor pertanian Oktober 2018 turun sebesar 9,52 % menjadi US $ 316,19 juta. Selain tekanan faktor musim yang tak bersahabat, ekspor sayur-sayuran pada bulan lalu turun 3,31 % menja- di US$ 9,35 juta dibandingkan dengan Oktober 2017 yang sebesar US$ 9,67 juta.

Meski secara keseluruhan turun, ada juga ekspor produk pertanian yang naik. BPS mencatat, ekspor teh meningkat tajam 173,35 % menjadi US$ 7,80 juta periode Januari- Oktober 2018 dibandingkan dengan sepuluh bulan pertama tahun lalu. Pada periode yang sama, ekspor cengkeh juga melonjak sekitar 136,40 % menjadi USS 53,71 juta.

Bahkan ekspor jagung meroket sekitar 7.569,2 % menjadi sekitar US$ 72,82 juta. Masih di periode yang sama, ekspor biji-bijian dan umbi-umbian juga meningkat masing-masing 50,3 % dan 50,4 % .

Ekspor hortikultura

Kementerian Pertanian (Kemtan) berjanji akan mencermati secara serius laju penurunan ekspor produk pertanian. Apalagi, anggaran sektor pertanian dalam empat tahun terakhir rata-rata naik dua kali lipat lebih dibandingkan dengan periode sebelumnya.

Direktur Jenderal Hortikultura Kemtan Suwandi mengatakan, Kemtan, misalnya, sedang berfokus menggenjot produksi hortikultura sebagai komoditas unggulan. “Kami optimistis tahun ini ekspor hortikultura bisa menjadi ekspor unggulan dari sektor pertanian, ujarnya.

Suwandi membeberkan, sejumlah andalan ekspor produk hortikultura yang berpotensi meningkat tahun ini adalah jamur, kubis, kentang dan bawang merah. Komoditas ini juga tercatat sebagai komoditas sayuran ekspor yang paling tinggi periode Januari-September 2018.

Pasar ekspor sayuran paling besar, menurut Suwandi, adalah negara-negara Asia. Misalnya pasar Singapura, Malaysia, Thailand, dan Taiwan. “Bawang merah sedang favorit di Thailand, Singapura dan Malaysia,” katanya.

Anton Muslim, Ketua Asosiasi Hortikultura Nasional (AHN) meragukan kemampuan Kemtan untuk menggenjot ekspor hortikultura tahun ini. Pasalnya, musim hujan sedang mengguyur wilayah Jawa Barat dan Jawa Tengah, dua sentra utama hortikultura di Indonesia. Tingginya curah hujan itu berpotensi menekan volume produksi sayuran.

Musim penghujan juga menyebabkan cuaca lebih dingin dan memicu ham yang menurunkan kualitas produk hortikultura. “Jamur dan serangga pengganggu tanaman hortikultura tumbuh subur saat musim hujan,” imbuhnya.

Sumber: Koran KONTAN

Leave a Reply

Your email address will not be published.

WhatsApp WA only