Mainan Bertanda SNI, Aman untuk Anak

Ekonom Core: Manufaktur 2019 tumbuh marjinal
November 22, 2018
Kadin Desak Relaksasi DNI 2018 Ditunda
November 23, 2018

Pangsa pasar mainan di Indonesia sangat besar. Menurut Seketaris Jenderal Asosiasi Mainan Indonesia (AMI) Eko Wibowo Utomo hal itu karena jumlah penduduk Indonesia yang sangat banyak. “Potensi pasar mainan buat anak-anak sangat besar. Bahkan sekarang industri sudah banyak membuat mainan untuk edukasi,” ujar Eko, di Jakarta, Rabu (21/11/2018).

Menurutnya, industri mainan dalam negeri belum bisa memenuhi permintaan mainan buat anak-anak dan balita. Itu bukan karena mereka kalah bersaing. Namun memang permintaan lebih banyak ketimbang produksi.”Sekitar 30 persen mainan untuk anak-anak baru bisa dipenuhi dari industri dalam negeri. Sisanya sebanyak 70 persen impor. Ini karena belum banyak industri mainan di sini. Juga karena tren mainan, cepat berganti. Harus sering inovasi,” jelas Eko.

Pihaknya mengusulkan kepada pemerintah, untuk mendukung industri mainan perlu insentif pajak.Lebih lanjut Eko mengatakan perkembangan industri mainan, saat ini semakin maju. Serta sangat memperhatikan perlindingan konsumen.”Dengan adanya SNI membuat distributor harus menjual mainan yang aman dan yang tidak membahayakan kesehatan,” ujar Eko.

Ia menambahkan, pihaknya akan mensosialisasikan pentingnya SNI. Misalnya saat gelaran Indonesia Maternity, Baby and Kids Expo (IMBEX) yang akan digelar di Jakarta Convention Center pada 30 November sampai 2 Desember 2018. “Di acara itu akan ada seminar.Bagaimana cara impor, dan sebagainya. Kemudian seminar edukasi berkaitan dengan SNI,” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Importir Mainan Indonesia (AIMI) Sandi Vidhianto menambahkan, pihaknya memberi masukan ke pemerintah, barang atau produk mainan yang masuk ke Indonesia harus diuji lagi di lab.

“Anggota kami kebanyakan grup besar. Walaupun produknya sudah teruji di luar negeri. Namun walaupun di sana sudah di uji, sehebat apapun, tetap kita uji lab. Indonesia salah satu yang menerapkan double cek,” ujar Sandi. Pria yang juga menjabat sebagai Director, Hero Kids Division mengatakan pangsa pasar mainan di di Indonesia, paling seksi di Asia Pasifik.

“Dengan jumlah penduduk lebih dari 265 juta orang, membuat banyak perusahaan produk mainan dari luar negeri ingin masuk ke Indonesia. Seperti produk dari Amerika, Eropa, Jepang, Cina dan sebagainya,” beber Sandi.

Selain itu kata dia, banyak perusahaan atau distributor mainan di luar ingin langsung masuk. Sebab katanya di sana sudah di uji. “Namun karena itu menyangkut soal keamanan dan kesehatan, walaupun menambah biaya, buat kami nggak apa dilakukan double cek. Indonesia kita harus patut bangga, kita melakukan double cek. Tetap harus ber SNI,” pungkasnya.

 

Sumber : indopos.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published.

WhatsApp WA only