Beban TPIA Bisa Lebih Enteng

Langkah progresif perluasan “tax holiday”
November 26, 2018
Menanti Kebangkitan Bisnis Properti di 2019
November 26, 2018

JAKARTA. Kenaikan beban pokok pendapatan yang tinggi menjadi tantangan bisnis PT Chandra Asri Petrochemical Tbk sepanjang tahun ini. Namun menjelang pungkasan 2018, produsen petrokimia itu melihat peluang penyusutan beban pokok pendapatan. Ini seiring penurunan harga minyak mentah dunia dan penguatan kurs rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS).

Mengintip data Bloomberg , harga minyak global di pasar West Texas Intermediate (WTI) pada Jumat (23/11) sebesar US$ 53,42 per barel. Harga ini mengempis 11,59% year to date (ytd) atau ketimbang akhir tahun lalu yang tercatat US $ 60,42 per barel .

Sedangkan penurunan nilai tukar dollar AS terhadap rupiah, yang menandakan mata uang garuda menguat, baru terjadi sekitar sebulan belakangan. Kurs rupiah mulai meninggalkan level Rp 15.000 per dollar AS pada 11 Oktober 2018 lalu. Dan kemarin (23/11), kurs rupiah di pasar spot bertengger pada posisi Rp 14.544.

Chandra Asri pun yakin, dua katalis tadi bisa memberikan efek positif. “Dari sisi hulu, harga naphta cracker yang merupakan bahan baku petrokimia jadi bisa terkoreksi,” ujar Suhat Miyarso, Vice President Corporate Relations Chandra Asri kepada KONTAN, Jumat (23/11).

Kalau merunut tiga laporan keuangan Chandra Asri pada tahun ini, beban pokok pendapatannya naik lebih besar di bandingkan dengan pendapatan bersihnya. Sepanjang sembilan bulan tahun 2018, misalnya, beban pokok pendapatan naik 18,25 % year on year (yoy) menjadi US$ 1,62 miliar. Sementara pendapatan bersihnya hanya tumbuh 9,49 % yoy menjadi US$ 1,96 miliar.

Sebelumnya pada semester pertama lalu, beban pokok pendapatan Chandra Asri naik 16,05 % menjadi US $ 1,05 miliar. Sedangkan pendapatan bersihnya tumbuh 8,40 % menjadi US$ 1,29 miliar. Beban pokok pendapatan perusahaan ini pada kuartal I-2018 malah meningkat lebih besar lagi, yakni 21,45 % menjadi US 554,36 juta. Padahal, pendapatan bersihnya naik 9,88 % jadi US$ 695,28 juta.

Sepanjang tiga periode pencatatan laporan keuangan tersebut, laba bersih periode berjalan yang bisa diatribusikan  kepada pemilik entitas induk atau laba bersih selalu lebih kecil ketimbang periode yang sama 2017. Laba bersih Januari-September tahun ini saja susut 30,23 % menjadi US$ 174,59 juta.

Momentum akhir tahun

Keyakinan akan adanyaperbaikan kinerja tak berhenti sampai di situ. Menurut pengalaman Chandra Asri, permintaan plastik kemasan untuk sektor consumer goods atau barang konsumsi biasa melejit pada akhir tahun. Perusahaan berkode saham TPIA di Bursa Efek Indonesia (BEI) ini mencatat , sebanyak 40% plastik kemasan diserap industri makanan dan minuman.

Chandra Asri yang bermain pada sektor hulu pętrokimia pun turut merasakan kenaikan. Sebab, para pelaku industri petrokimia hilir bakal berbelanja bahan baku lebih banyak. “Dengan kurs yang menguat, tentu mereka juga mendapatkan harga bahan baku dengan murah,” terang Suhat .

Mengintip materi presentasi Investor Gathering Chandra Asri yang dipublikasikan BEI pada 16 November lalu, perusahaan ini memproduksi naphta cracker dan produk turunannya. Pelaku industri petrokimia hilir kemudian mengolah produk turunan tersebut menjadi aneka produk. Beberapa di antaranya plastik film, botol, kantong plastik, mainan, komponen otomotif, gelas plastik, wadah makanan, serta ban.

Saat ini, Chandra Asri memiliki kapasitas produksi terpasang sekitar 3,3 juta ton per tahun. Mereka ingin pada 2020 nanti total kapasitasnya menjadi 4,5 juta ton setahun. Upaya mendongkrak kapasitas produksi sejalan dengan peluang pasar petrokimia dalam negeri yang masih besar.

Apalagi , belum lama ini pemerintah menaikkan tarif pajak penghasilan (PPh) impor atas sejumlah barang. Manajemen Chandra Asri melihat, kebijakan tersebut bisa membendung serbuan produk petrokimia dari China.

Sumber: Harian Kontan

Leave a Reply

Your email address will not be published.

WhatsApp WA only