Ini Penyebab Pasar Properti Masih Lesu

Defisit Transaksi Berjalan Melebar, Tiga Industri Besar Diperbaiki
November 29, 2018
Jokowi Coret Relaksasi DNI dari Paket Kebijakan
November 29, 2018

JAKARTA. Bisnis properti secara umum masih lesu pada tahun ini. Padahal, pemerintah banyak menggelontorkan insentif, mulai dari pelonggaran aturan loan to value (LTV) oleh Bank Indonesia (BI) hingga aneka insentif pajak.

Misalnya penghapusan Pajak Penghasilan (PPh) 22 serta Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM). Kini, pemerintah berencana menyederhanakan administrasi terkait penelitian bukti pemenuhan kewajiban penyetoran PPh.

Meski begitu, penjualan properti belum juga menggembirakan setelah sempat booming sebelum tahun 2013.

Ketua Umum DPP Persatuan Perusahaan Real Estat Indonesia (REI) Soelaeman Soemawinata mengatakan, banyak faktor yang menyebabkan pasar properti saat ini sepi. Yang terang, penjualan properti menurun bukan semata-mata karena daya beli masyarakat. Tapi masyarakat memang menahan belanja properti,” kata dia, Selasa (27/11). Setidaknya, bukti masyarakat menunda belanja properti terlihat dari terus meningkatknya dana pihak ketiga (DPK) di sejumlah perbankan. Berdasarkan publikai BI, DPK mencapai Rp 5.200 riliun hingga Juli lalu atau tumbuh 6,4 %. Artinya , masyarakat memiliki cukup banyak dana yang tersimpan.

Soelaeman menyebutkan, faktor lainnya adalah kebijakan bank yang memperketat penyaluran kredit properti. Dengan kebijakan uang muka atau DP nol persen untuk rumah pertama, bank cenderung hati-hati dalam menyeleksi profil dan kemampuan finansial calon nasabahnya.

Kendati pasar properti secara umum belum bergairah, Soelaeman bilang, segmen properti untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) justru prospeknya bagus. Alhasil, banyak pengembang besar merambah segmen ini.

Ikang Fawzi, Direktur Utama PT Beton Properti Indonesia mengakui jika produk yang menyasar MBR menjadi primadona bagi pengembang. “Permintaannya terus nailk karena memang mereka membutuhkan hunian,” kata dia.

Kini, musisi kawakan yang menekuni bisnis properti ini sedang menggarap dua pro-yek properti MBR di daerah Banten. “Di proyek Sepang Mountain Residence misalnya, dalam sebulan bisa lakıu 100 unit,” klaim dia.

lkang fokus menggarap segmen properti MBR karena ingin menghadirkan hunlan dengan harga terjangkau tapi memiliki nilai lebih.

Sumber: Harian Kontan

Leave a Reply

Your email address will not be published.

WhatsApp WA only