Asing Beli Bersih Saham Rp 7,8 Triliun, IHSG Selama November Naik 3,7%

Luhut: Tak Benar RI Hidup dari Utang!
December 3, 2018
Sri Mulyani: Kekompakan G20 Menguap, Indonesia Perlu Negosiator Unggul
December 3, 2018

Sektor properti, keuangan, aneka industri, naik paling kencang sebulan terakhir. Sektor tambang dan pertanian turun paling dalam, menahan laju IHSG.

Dalam sepekan kemarin, pasar modal Indonesia mencatatkan kinerja yang cukup memuaskan walaupun investor asing membukukan jual bersih (net sell) sebesar Rp593 miliar. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan peningkatan sebesar 0,83% dari 6.006,2 ke level 6.056,1.

Namun, salah satu poin yang menjadi sorotan sepanjang perdagangan pekan kemarin yaitu mulai diterapkannya penyelesaian transaksi saham T+2 sejak perdagangan Senin (26/11). Penerapan T+2 membuat perdagangan saham di pasar modal menjadi lebih likuid, sehingga terjadi lonjakan pada rata-rata nilai, volume dan frekuensi transaksi saham harian.

Seiring dengan peningkatan IHSG, nilai kapitalisasi bursa selama sepekan terakhir juga mengalami peningkatan sebesar 0,91% dari Rp6.796,3 triliun pada penutupan pekan sebelumnya menjadi sebesar Rp6.858,3 triliun.

Ditutupnya perdagangan pada Jumat (30/11) juga menandakan ditutupnya perdagangan pasar modal bulan November 2018. Sepanjang bulan November ini, IHSG berada pada laju positif dengan mencatatkan kenaikan 3,77% dari penutupan perdagangan bulan Oktober lalu di level 5.831,65.

Salah satu faktor pendorongnya yaitu investor asing yang membukukan beli bersih (net buy) sebesar Rp7,82 triliun. Kendati demikian, sepanjang tahun berjalan (year to date), investor asing telah membukukan net sell hingga Rp45,58 triliun, yang membuat IHSG terkoreksi 4,71%.

Analis Danpack Sekuritas Harry Wijaya menilai, salah satu saham yang mendorong pergerakan IHSG sepanjang bulan November ini yaitu saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI). Harga saham BBRI, sejak 29 Oktober hingga penutupan perdagangan hari Jumat ini, melejit hingga 22,7%, dari Rp2.950 per lembar menjadi Rp3.620 per lembar.

“Bisa dikatakan, IHSG bulan November ini naik karena BRI. Sedangkan kalau kita lihat saham-saham lain, banyak yang turun. Saya kira kurang bagus karena tidak merata,” kata Harry kepada Katadata.co.id, Jumat (30/11).

Jika dilihat dari indeks sektoral, sebanyak tujuh sektor mendorong pergerakan IHSG. Sektor properti naik paling kencang sebesar 9,14% seiring dengan rencana pemerintah mengurangi pajak properti mewah.

Sektor keuangan mencatatkan kenaikan paling kencang ke dua sebesar 7,20% didorong meningkatnya optimisme investor seiring akselerasi pertumbuhan kredit perbankan pada Oktober. Sektor aneka industri menyusul pada posisi ketiga dengan kenaikan 7,16%, kemudian sektor industri dasar naik 6,89% , serta sektor manufaktur naik 4,24%.

Tiga indeks sektoral yang menahan laju IHSG sepanjang bulan November yaitu sektor pertambangan yang banyak terpengaruh oleh pergerakan harga energi dunia sehingga terkoreksi paling dalam sebesar 7,02%. Sektor agri juga terkoreksi cukup dalam sebesar 5,30%, tertekan perkembangan harga komoditas minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) yang terus merosot. Serta sektor infrastruktur tertekan karena pemerintah mengurangi bahan baku impor untuk proyek infrastruktur.

Direktur Riset dan Investasi Kiwoom Sekuritas Indonesia Maximilianus Nico Demus beberapa waktu yang lalu mengatakan, tekanan terhadap IHSG terjadi pada bulan Oktober, sedangkan pada bulan November ini pergerakannya mulai ada perubahan, terbukti IHSG lebih konsisten berada di atas level 6.000. “Pada bulan November ini IHSG secara perlahan namun pasti mulai konsisten di level 6.000,” kata Nico kepada Katadata.co.id.

Pergerakan IHSG pada bulan Desember dipastikan akan lebih kondusif dengan terjadinya kesepakatan damai antara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping yang memutuskan tidak mengenakan tarif tambahan setelah 1 Januari 2019.

“Kesepakatan damai antara Trump dan Xi Jinping akan akan menjadi sentimen positif tambahan bagi pergerakan IHSG pada perdagangan Desember,” kata analis Panin Sekuritas, William Hartanto yang sebelumnya telah memprediksi terjadinya kesepakatan damai antara AS dan Tiongkok.

Sumber: katadata.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published.

WhatsApp WA only