Harga jagung naik, peternak ayam galau

Pemerintah Godok Insentif Pajak Industri Daur Ulang
December 11, 2018
KPK sebut ada 4 unit di Kementerian Susi rentan korupsi
December 11, 2018

JAKARTA. Harga jagung yang terus meroket dalam beberapa pekan diprediksi akan berdampak negatif pada peternak ayam.

Sebab, 50% komponen bahan baku pakan ternak dari jagung, sehingga berpengaruh kepada harga jual ayam. Sebaliknya, tingkat permintaan atau konsumsi masyarakat atas ayam bisa menurun.

Ketua Bidang Peternakan dan Perikanan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Anton J Supit mengatakan, harga jagung per Sabtu (8/12) sudah menyentuh Rp 6.000. Tingkat kenaikan 100% dibandingkan bulan lalu yang mencapai Rp 3.000.

Sementara itu, dari data hargapangan.id harga ayam ras segar  terus naik sejak 30 November 2018 hingga 7 Desember 2018. Dari Rp 35.550 hingga Rp 35.750. Demikian harga telur dari Rp 24.600 hingga Rp 25.500.

Anton mengatakan, harga ayam biasanya 70% ditentukan oleh harga pakan.  Sementara itu, peternak tengah kesulitan mendapatkan bahan baku alias jagung.

Solusi Pemerintah impor 100.000 ton jagung dan meminjam pasokan korporasi untuk peternak.  Namun, tindakan ini dinilai belum mampu meringankan beban peternak.

Menurut dia, manfaat impor dirasakan dalam satu bulan saja. Pasalnya, kebutuhan pakan unggas mencapai hingga 800.000 ton per bulan.

“Kebijakan pemerintah ini kan keliru. pemerintah tidak memberikan alternatif lain. Masalah ini tidak diatasi dengan serius, ” kata Anton saat dihubungi Kontan.co.id, Sabtu (8/11).

Lanjut Anton, kenaikan harga jagung ini juga menekan kinerja bisnis peternak, terutama peternak mandiri. Dampaknya, penjualan dan pendapatan peternak menurun.

Bahkan, peternak terpaksa mengurangi volume makanan hingga setengah dari jumlah kebutuhan  per hari agar irit. Akibatnya, pertumbuhan ayam ikut melambat.

“Dari sisi peternak bisa, kinerja tertekan ujung-ujungnya peternak tak mampu membayar pajak yang repot kan juga pemerintah. Dari sisi Konsumen, tentu tingkat gizi ayam bisa tidak sesuai karena makan yang dikurangi. Sebaiknya pemerintah bisa membela kepentingan peternak dan konsumen,” imbuh Anton.

Namun kenaikan harga jagung ini dinilai tidak berdampak pada perusahaan ternak yang besar. Sebab, biasanya perusahaan telah memiliki kontrak terhadap penyedia atau stok selama beberapa waktu. Hal ini dibenarkan oleh Direktur Utama PT berdikari Eko Taufik Wibowo.

Pasalnya, perusahaan plat merah ini telah melakukan kontrak dengan pihak lain untuk memenuhi kebutuhan pakan. Catatan Kontan.co.id, per Oktober 2018 PT Berdikari telah merealisasikan impor bibit ayam Grand Parent Stock hingga 36.000 ekor. Ke depan impor terus dilakukan untuk menstabilkan pasokan dan harga ayam.

“Dampak kenaikan jagung tidak menekan kinerja PT Berdikari karena sudah ada kontrak,”ucap dia.

Sumber : kontan.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published.

WhatsApp WA only