Gejolak Rupiah & Amnesti Pajak Pertebal Giro Valas

Kemtan dorong hilirisasi produk sawit dengan usulan insentif pembebasan pajak
December 12, 2018
Pajak Ramah Pengusaha
December 12, 2018

Sejumlah bank menikmati kenaikan giro valas seiring fluktuasi kurs dan efek tax amnesty

JAKARTA. Mendekati tutup tahun 2018, pertumbuhan dana giro perbankan melompat pesat. Data analisis uang beredar Bank Indonesia (BI) per Oktober 2018 menunjukkan, giro perbankan tumbuh 9% secara year on year (yoy) menjadi Rp 1.241,3 triliun.

Memang, pertumbuhan sebesar itu lebih lambat dibanding dengan laju giro per September 2018 yang naik 9,4% yoy. Yang menarik, bila menelisik lebih dalam, posisi dana giro valas melompat tinggi.

Giro valas pada Oktober 2018 tumbuh sekitar 25,5% yoy menjadi Rp 348,4 triliun. Sebaliknya, giro dalam mata uang rupiah cuma naik tipis sebesar 3,6% yoy menjadi sekitar Rp 892,9 triliun.

Sebagai perbandingan, tahun lalu, pertumbuhan giro rupiah masih lebih tinggi yakni sebesar 12,1%. Sementara kenaikan posisi giro dalam valas sekitar 2,1%.

Presiden Direktur Bank OCBC NISP Parwati Surjaudaja menilai, kenaikan tinggi posisi giro valas tak lepas dari fluktuasi nilai tukar rupiah. Nasabah pun memilih hijrah ke giro valas sebagai antisipasi menghadapi gejolak valuta.

Berdasarkan data Bloomberg, dalam setahun terakhir nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) telah turun 7,77%. Rupiah sempat menguat ke posisi Rp 13.289 per dollar AS pada 25 Januari 2018. Tapi, rupiah melemah terus dan bahkan menembus Rp 15.238 per dollar AS pada 9 Oktober 2018.

Efek amnesti pajak

Selain gejolak nilai tukar, program pengampunan pajak (tax amnesty) tahun 2016-2017, turut menaikkan isi giro valas perbankan. Apalagi, mulai tahun ini hingga tahun 2020, pemerintah mulai menerapkan kewajiban pelaporan harta peserta tax amnesty.

Oleh karena itu, Direktur Bank Central Asia (BCA) Santoso Liem sebelumnya mengungkapkan, nasabah korporasi di BCA menjadi lebih tertib dalam urusan administrasi pasca tax amnesty. Faktor ini turut menaikkan giro valas.

Banyak perusahaan yang sebelumnya menggunakan tabungan sebagai penempatan dana berpindah ke rekening giro. Di BCA, sebagai contoh, rata-rata pertumbuhan dana tabungan hingga Oktober 2018 sebesar 8%. Sementara pertumbuhan simpanan giro mencapai 12%-13%.

Data BI juga menunjukkan, pertumbuhan giro perbankan ditopang oleh nasabah korporasi non-finansial. Giro korporasi non-finansial sepanjang sepuluh bulan pertama tahun ini naik 11,4% yoy menjadi sekitar Rp 880,6 triliun. Sementara giro perorangan melambat di periode itu, tumbuh 8,7% yoy menjadi Rp 154,3 triliun. Padahal, periode sebelumnya, giro perorangan sempat tumbuh 20,9% yoy. Bank CIMB Niaga juga menikmati kenaikan posisi giro valas. Lani Darmawan, Direktur Konsumer Bank CIMB Niaga mengatakan, giro valas sampai awal kuartal IV-2018 naik 11% yoy. Meski begitu CIMB Niaga masih fokus pada pengumpulan rupiah untuk mengimbangi pertumbuhan kredit dalam rupiah.

Adapun, Direktur Konsumer Bank Tabungan Negara (BTN) Budi Satria mengatakan, pertumbuhan giro valas di BTN tidak ada lonjakan signifikan. Sebab, kebutuhan transaksi nasabah BTN juga lebih banyak dengan rupiah.

Direktur Keuangan Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk Ferdian Satyagraha menilai, giro merupakan instrumen pendanaan penting bagi bank lantaran masuk kategori dana murah. Alhasil, kenaikan posisi giro baik bagi bank untuk menjaga biaya dana, terutama menghadapi tren kenaikan biaya dana.

Sumber: Harian Kontan

Leave a Reply

Your email address will not be published.

WhatsApp WA only