Waktunya Untuk Menaikkan Cukai Bir

Siapkan Rambu agar Lokal Tak Tersapu
January 3, 2019
Menaruh Harapan pada Pajak
January 3, 2019

Pemerintah menaikka tarif cukai minuman beralkohol (minol) sebesar 15% untuk golongan A seperti bir. Alasannya, selama empat tahun terakhir, cukai minol golongan A tidak mengalami kenaikan, sedangkan golongan B dan C sudah naik beberapa kali. Apakah kenaikan ini akan meningkatkan pendapatan negara?

Tepat 1 Januari 2019 mendatang, pemerintah menetapkan tarif cukai baru untuk minuman yang mengandung etil alkohol atau MMEA. Aturan ini tertuang dalam Peraturan Mentri Keuangan (PMK) No 158/PMK.010/2018.

Penyesuaian tarif cukai dalam PMK hanya dilakukan pada MMEA golongan A, dengan kadar alkohol sampai 5%, baik dalam negeri maupun impor.

Kenapa pemeritah menaikkan cukai MMEA ini? Berapa kenaikan cukai untuk MMEA? Mengapa hanya minuman beralkohol golongan A? Nirwala Dwi Heryanto, Direktur Teknis dan Fasilitas Direktorat Jendral Bea Cukai menjelaskannya kepada wartawan Tabloid Kontan Nina Dwiantika.

Berikut nukilannya :

KONTAN : Apa latar belakang dan tujuan pemerintah menaikkan tarif cukai minuman beralkohol?

NIRWALA : Nah, minuman yang mengandung etil alkohol atau sering disebut minol merupakan barang kena cukai yang konsumsinya harus dikendalikan. Instrumen pengendalian yang dilakukan Kementrian Keuangan adalah dengan pembebanan tarif cukai.

Sistem tarif cukai untuk minol meggunakan sistem spesifik dalam bentuk rupiah per kadar per liter. Kenapa sistem tarif cukai spesifik? Agar efek pengenaan tarifnya efektif, maka harus di-adjust minimal setara dengan inflasi.

Kami ingin menjelaskan latar belakang pembayaran cukai pada minuman beralkohol. Pertama, konsumsinya perlu dikendalikan. Kedua, peredarannya perlu diawasi. Ketiga, menimbulkan eksternalitas negatif  terhadap masyarakat maupun lingkungan. Keempat, perlu ada pungutan negara untuk keadilan dan keseimbangan.

Ini terkadang masyarakat belum paham. Orang bicara cukai hanya biacara pungutannya, padahal cukai mempunyai empat fungsi tadi. Misalnya, minuman yang mengandung etil alkohol atau orang mengenalnya minuman keras itu distribusinya diawasi, jadi tidak sembarangan dijual penjual toko eceran.

Lalu menimbulkan eksternalitas negatif. Contohnya industry tembakau, orang sering protes bahwa perokok membuat orang lain menjadi perokok pasif. Nah, fungsi keempat ini jarang dibahas, yaitu keadilan dan keseimbangan, karena seringkali kami membagi penerimaan dari hasil tembakau untuk dikembalikan kepada masyarakat melalui pelayanan kesehatan.

KONTAN : Golongan minuman beralkohol apa saja yang naik?

NIRWALA : Untuk cukai minuman yang mengandung etil alkohol ini pakai perhitungan tarif spesifik. Yakni, hitungan rupiah berdasarkan per kadar alkohol per volume.

Minol diklasifikasikan berdasarkan kandungan alkoholnya, yakni golongan A dengan kadar tidak lebih dari 5% seperti bir, kemudia golongan B dengan kadar lebih dari 5% sampai dengan 20% seperti wine, serta golongan C dengan kadar diatas 20% seperti spirits.

Kali ini, kami kami hanya menaikkan cukai untuk minol golongan A saja dari Rp 13.000 per liter menjadi Rp 15.000 per liter atau senilai Rp 2.000 per liter. Kami menaikkan cukai ini karena sifat perhitungan yang spesifik tadi.

KONTAN : Kenapa hanya golongan A yang naik?

NIRWALA : Penyesuaian tarif cukai ini dilakukan dengan mempertimbangkan tarif kisaran tingkat inflasi dalam empat tahun terakhir.

Perlu diingat, untuk cukai minuman beralkohol golongan A ini sudah emat tahun tidak berubah. Jadi, dengan mempertimbangkan inflasi yang naik sedangkan cukai tidak naik maka rasio pembayaran cukai makin kecil.

Gambarnya, industri terus menaikkan harga jual bir secara sepihak dengan pertimbngan peningkatan inflasi setiap tahun, sedangkan kondisi tersebut tidak diimbangi dengan pembayaran cukai yang tidak naik selama empat tahun terakhir. Ini alasan utama cukai minol golongan A ini ada penyesuaian.

Lalu mengapa cukai minol golongan B dan golongan C tidak naik? Perlu diketahui, dalam dua tahun terakhir ini telah ada kenaikan cukai untuk minol golongan B dan C yang sudah naik tiga kali. Khususnya minol yang impor.

Adapun, minol golongan B dan golongan C telah dikenakan tarif bea masuk yang cukup tinggi yakni masing masing sebesar 90% dan 150%. Jadi wajar saja, minol golongan tersebut tidak naik.

Di sisi lain, kami sedang meningkatkan cukai beresiko tinggi, maka kami sering melakukan operasi. Terakhir, kami melakukan operasi di Palembang, Sumatera Selatan.

Operasi ini menggandeng apparat hokum terkait TNI dan Porli. Kebijkan pengawasan ini  untuk keberlangsungan industri, melalui penurunan jumlah impor illegal, khususnya minol golongan B dan C.

KONTAN : Apakah aturan ini akan efektif mengingat idustri minuman beralkohol sedang diawasi perdarannya? 

NIRWALA : Iya, pada aturan itu minol tidak boleh dijual di toko ritel. Dampak peraturan ini adalah terjadi penurunan penerimaan cukai dari MMEA golongan A sampai dengan Rp 2 triliun sejak 2015 hingga sekarang. Kenaikan cukai golongan A sebagai bagian pencapaian target penerimaan cukai.

Untuk itu, cukai dari minol tidak mencapai target Rp 6,5 triliun di tahun 2018, karena realisasi pendapatan negara lewat jalur ini hanya Rp 5,9 triliun.

Harapannya, pendapatan cukai dari golongan A akan sebesar Rp 600 miliar tahun depan, dengan adanya kenaikan tarif cukai yang berlaku pada awal tahun mendatang.

Sumber : Tabloid Kontan

Leave a Reply

Your email address will not be published.

WhatsApp WA only