Berjaya tapi BelumSepenuhnya Berdaya

Wajib Pajak Efektif 1.369.343, Yang Membayar Hanya 198.870 di Sulselbartra
January 9, 2019
Skema Pajak Freeport Berubah
January 9, 2019

Sentimen global dan aksi jual beli investor asing masih akan mempengaruhi pegerakan indeks saham domesitik ke depan

Sejak lama investor lokal sudah menjadi raja di pasar saham negeri sendiri. Meski demikian investor asing lebih lihai menyetir arah pergerakkan indeks saham.

Kejayaan investor lokal bersumber dari jumlah investor yang lebih banyak serta total nilai perdagangan yang lebih besar ketimbang investor asing. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI), paling tidak sejak 2008 nilai perdagangan saham investor lokal tidak pernah kurang dari 50%.

Pada minggu pertamaDesember 2018 misalnya, kontribusi investor lokal mencapai 62,38% dari total nilai perdagangan di bursa saham. “Nantinya, lokal dari 63% kami harapkan sudah bisa melampaui angka 70% di tahun depan,”kata Hasan Fawzi, Direktur Pengembangan BEI.

Hasan membeberkan jumlah single investor identification(SID) sudah mencapai 850.000 SID saham. Nah, yang tercatat sebagai investor asing kurang dari 20.000 SID. Sementara jumlah investor ritel lokal mendominasi hingga 810.000 SID. “Dari sekitar 830.000 investor domestik, 20.000 berasal dari institusi,”imbuhnya.

Porsi yang lebih seimbang dicatat dari nilai total kepemilikan saham. Meski dari sisi jumlah lebijh sedikit, investor asing masih mengempit sekitar 51%-52% kepemilikan saham. Sisanya, sekitar 48%-49% dipertunggang investor lokal, baik institusi maupun ritel.

Suria Dharma, KepalaRiset Samuel Sekuritas, mengimbuh, dominasi investor lokal di pasar saham semakin mebesar pasca progam pengampunan pajak (tax amnesty) yang berlangsung Juli 2016 hingga Maret 2017 lalu. Maklum, pemerintah memang mengenakan tarif yang lebih rendah bagi harta peserta tax amnesty dari yang direpatriasi kedalam negeri.

Perkembangan jumlah investor lokal juga tidak lepas dari promosi yang digelar secara massif. Misalnya dengan mendirikan galeri investasi di kampus-kampus, dan kampanye Yuk Nabung Saham.

Dominasi investor lokalmembuat IHSG kadang bisa bergerak tampa pengaruh dari sentimen ekternal.Misalnya, kata William Hartanto, analisis Panin Sekuritas, pergerakan indeks utama dunia yang sebelumnya menjadi acuan belakangan tak lagi sejalan denganIHSG. Ambil contoh, saat pergerakan indeks Dow Jones terkoreksi  mendekati level 21.000-22.000, IHSG malah menguat. Dus, ia pun memendam harapan, tahun depan investor lokal tidak akan mudah dipengaruhi oleh pemodal asing lagi.

Hal menarik lainnya, seiring berjalannya waktu, investor lokal kini juga tidak lagi mengekor keputusan jual beli investor asing. Alih-alih mengikuti aksi jual asing, pemin lokal malah kerap menampung saham yang dilepas investor asing. “Buktinya, disaat asing net sellse besar Rp 39,87 triliun. Namun pada saat yang bersamaan, IHSG berhasilmencapai posisi 6355,65. Artinya, dibandingkan posisi penutupan perdagangan 2016, indeks saham sudah menguat sebesar 20%.

Namun di tahun 2018, seiring dengan tekanan jual investor asing yang semakin besar, IHSG sulit dikatrol. Per 26 Desember, net sell asing sudah tercatat sebesar Rp 51,85 triliun. Pada rentang waktu sama, indeks saham memang masih minus 3,58% jika dilihat secara year-to-date.

Sentimen negatif yang menghantui perjalanan bursa saham 2018 memang lebih besar ketimbang 2017. Sumbernya datang dari faktor eksternal dan internal, seperti depresiasi rupiahdan defisit transaksi berjalan yang membengkak.

Meskipun IHSG melemah akibat pukulan berbagai sentimen negatif dan besarnya net sell asing, namun harus diakui, tanpa aksi beli investor lokal,terutama di bulan-bulan akhir tahun 2018, maka IHSG bisa terpelosok jauh lebih dalam.

Mengempit blue chips

Ada beberapa penyebab investor asing masih bisa menyetir pergerakan bursa saham Indonesia. Diantaranya, mereka sejak lama memang lebih doyan bermain di saham-saham blue chips yang bobotnya juga lebih besar terhadap pembentukkan IHSG. Walhasil, aksi keluar-masuk investor asing disaham-saham keping biru membuat  idekssaham lebih gampang diombang-ambing.

Nah, faktor pendorong aksi jual-beli pemain asing ini sebagian datang dari presepsi mereka atas sentiment yang terjadi di luar Indonesia, bukan berdasarkan kondisi ekonomi Indonesia semata.

Repotnya, investor lokal juga masih memendam pikiran bahwa sentimen luar negeri selalu dominan. Kondisi semacam ini, meski dalam derajat yang berbeda, juga terjadi di banyak emerging market lainnya. “Saya survei kecil-kecilan di komunitas saham. Kalau mereka lihat bursa saham di Amerikamenurun, maka seperti apapun kondisi dalam negeri, kondisi IHSG langsung dinilaiakan  turun juga,” kata William.

Faktor berikutnya,rata-rata pemain lokal, khususnya ritel masih banyak yang time frame investasinya lebih pendek. Sementara modalnya juga lebih terbatas. Sehingga, aksi jual beli pemain ritel kurang bertaji menggerakan indeks. “Investor lokal cenderung melihat kondisi teknikal dari pada fundamental,”imbuh Suriah.

Di sisi lain, pemain asing yang didominasi investor institusi lebih senang menggunakan jangka waktu investasi yang lebih panjang. Ini ditambah lagi dengan faktor kekuatan modal yang jauh lebih besar dan terpusat pada sedikit investor.

Dus, pada 2019, meski berharap investor asing masuk ke pasar saham Indonesia, otoritas bursa berharap jumlah pemain ritel lokal semakin bertambah. Dengan demikian, porsi kepemilikan maupun aktivitas investor lokal ritel makin lama makin besar porsinya.

Dengan demikian, bursa saham kita tidak lagi terlalu bergantung dengan aliran dana asing. Dus, “Sangat mungkin, paparan sentimen asing ke IHSG bisa berkurang bila transaksi investorlokal ritel makin dominan. Akhirnya pergerakan pasar akan ditentukan dengan supply dan demand”,harap Hasan.

Harus dilindungi

Hanya saja, yang kerap kali bikin repot, kecepatan penambahan jumlah investor ritel belum diimbangi dengan ketangkasan otoritas. Terutama dalam memberikan perlindungan terhadap investor.

Betul, beberapa kebijakan yang dirilis otoritas memberi aura positif bagi investor ritel. Misalnya, soal pemisahan dana milik ivestor dengan dana perusahaan sekuritas lewat rekening dana nasabah.

Namun, masih banyak yang harus dibereskan agar investor ritel yang baru mengenal dunia saham tidak lantas kapok sebelum bekembang. Misalnya, bagaimana memberikan peringatan dinikepada investor perihal saham yang emitennya tengah dirundung masalah.

Peringatan dini semacamini dibutuhkan lantaran investor ritel pendatang baru masih kurang berpengalaman dan belum teredukasi dengan baik. Maka tidak heran jika banyak investor yang baru sadar mereka salah memilih saham setelah kasus yang melilit emiten tersebut mencuat ke permukaan.

Kondisi ini sudah disadari oleh otoritas bursa. BEI pun tegah merancang aturan untuk menyematkan notasi bagi saham-saham bermasalah. Notasi khusus ini dikenal dengan nama i-suite. Tanpa menyebutkan tanggal pasti pemberlakuannya, Hasan menyebut, aturan tersebut akan dirilis dalam waktu dekat.

Dengan i-suite, kelak BEI akan membubuhkan tanda khusus bagi emiten yang bermasalah, baik dari sisi kinerja maupun kepatuhan. Ada tujuh kriteria saham yang akan mendapatkan notasi khusus ini.

Misalnya, emiten yang terlambat menyampaikan laporan keuangan. Lalu, emiten yang laporan keuangannya tidak sesuai dengan standar akuntansi keuangan. Mereka yang mendapatkan opini tidak menyakan pendapat juga masuk dalam kriteria ini.

Emiten yang mempunyaiekuitas negatif dan pendapatannya nol juga akan mendapat notifikasi khusus. Demikian juga dengan emiten yang sedang dalams status PKPU (penundaan kewajiban pembayaran utang) dan emiten yang dinyatakan pailit.

“Ini salah satuperlindungan kepada investor, di luar peraturan yang sudah berjalan,” kata Hasan.

Diluar itu, Suriah berharap otoritas bursa juga bersifat tegas terhadap aksi korporasi dankeputusan manajemen emiten yang berpotensi merugikan investor. Misalnya, memberikan sanksi yang tegas terhadap emiten yang membatalkan pemberian dividen meski telah diumumkan sebelumnya. Hal ini terjadi pada PT Merck Indonesia Tbk(MERK).

Otoritas juga diharapkan memberikan perlindungan terkait rencana reverse stock saham-sahamgocapan, alias yang berada di harga  Rp50 per saham. “Jangan mudah memberikan lampu hijau kalua ada emiten yang mengajukan,” pinta Suria.

Sumber : Tabloid Kontan

Leave a Reply

Your email address will not be published.

WhatsApp WA only