Fundamental Saham Properti Masih Kurang Oke

Pengusaha Minta Tarif PPh Badan Turun ke 17-18%
January 11, 2019
Menakar Stick and Carrot bagi Eksportir
January 11, 2019

JAKARTA. Dalam sepekan, indeks saham emiten sektor properti real estate dan konstruksi sukses menguat3,67%. Ini antara lain akibat rencana pelanggaran Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (PPnBM) untuk rumah mewah dan diskon pajak properti.

“Selain itu, Bank Indonesia (BI) juga disinyalirakan menahan suku bunga acuan,” kata Analisis BCA Sekuritas Achmad Yaki, Selasa(8/1). Dia juga mengingatkan, secara historikal, saham properti memang selalu bergerak bullish di Januari.

Meskin begitu, Analisis Semesta Indovest Sekuritas Aditya Perdana Putra menilai, laju sektor properti masih terganjal tingkat suku bunga kredit. Inilah yang menyebabkan Aditya masih kurang yakin untuk mengoleksi saham-saham properti. “Saya masih kurang yakin bahwa prospek sektor properti akan kembali cemerlang. Ini karena prospek earning dari selalu emiten properti belum akan sebaik lima sampai enam tahun lalu, dan masih menunggu suku bunga turun lagi,” kata dia.

Memang, ada peluang sektor properti membaik. Penguatan rupiah bisa mengurangi beban perusahaan properti yang memiliki utang dollar AS, sehingga margin perusahaan juga membaik.

Selain itu, jika bank sentral Amerika Serikat Federal Reserve menahan bunga, maka BI juga berpotensi memangkas bunga acuan. Hal ini akan mendorong daya beli masyarakat. Pelonggaran loan to value (LTV) juga membuat uang muka atau DP properti lebih ringan sampai 10%.

Melihat kondisi tersebut, Yaki menilai, beberapa saham properti masih bisa menjadi andalan di tahun ini, hanya saja perlu selektif. Beberapa saham yang layak dilirik antara lain PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI) dan PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE). “Selain itu ada juga faktor penguatan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS,” ungkap dia.

Aditya melihat emiten juga cukup optimis dengan sektor properti, termasuk PT Ciputra Development Tbk (CTRA) yang mengumumkan kenaikan 39% capex untuk tahun ini. “Rata-rata harga saham properti sudah naik, investor juga sudah masuk ke semua saham tersebut, jadi masih bisa di hold,” kata dia. Tapi, dia lebih merekomendasikan sektor saham finansial dan konsumer yang berpeluang naik ditahun ini.

Sumber : Harian Kontan

Leave a Reply

Your email address will not be published.

WhatsApp WA only