Pemerintah Kaji Pendapatan Hot Money

JAKARTA. Aliran modal asing yang masuk (capital inflow) ke pasar domestik semakin deras. Pemerintah mulai menggagas aspek perpajakan untuk membatasi agar capital inflow tidak gampang keluar dari pasar. Maklum arus dana asing yang bebas keluar masuk selama ini cukup menganggu stabilitas ekonomi. Sebagai catatan, sepanjang 2018 dana asing keluar dari bursa saham mencapai Rp 50,74 trlliun. Lalu awal 2019, capital inflow mencapai Rp 2,47 trilliun. Aliran dana asing ke pasar domestik diprediksi akan bertambah lagi, seiring ketidakpastian perekonomian di Amerika Serikat (AS).

Menteri Keuangan Sri Mulyani menyadari adanya risiko arus masuk modal asing jangka pendek. Karena itu, pemerintah berupaya menciptakan kebijakan untuk mencegah fluktuasi. Salah satunya dengan Tobin Tax, yaitu pengenaan pajak atas semua pembayaran transaksi kurs, yang bertujuan membendung pergerakan masif sejumlah dana ke valuta lain, baik saham, obligasi, maupun mata uang.

Tobin tax diharapkan membantu pemerintah menyaring kualitas modal asing untuk jangka pendek. Kendati demikian, Sri Mulyani bilang pemerintah harus membuat formulasi desain kebijakan yang tepat. “Desain seperti apa yang bisa mengidentifikasi perilaku capital inflow yang baik, yang biasanya dalam bentuk FDI (foreign directinvestment), dengan inflow yang sifatnya volatil dan bisa sangat disruptif,” katanya, Selasa (8/1).

Hanya saja Menkeu belum bisa memastikan penerapan kebijakan ini. Kemkeu bersama Bank Indonesia masih memantau dinamika global. Bersamaan dengan itu, pemerintah melihat berbagai opsi kebijakan yang sesuai dengan undang-undang Indonesia, serta mampu mengatasi fenomena ini agar tercipta stabilitas. “Masalahnya bukan perlu tidak perlu (Tobin Tax) , tapi bagaimana desainnya bisa mencegah ketidak stabilan tapi kita mendapat manfaat capital inflow,” katanya.

Pakar ekonom yang juga Mantan Menteri Keuangan Chatib Basri menilai, saat ini waktu yang tepat untuk mulai memikirkan tobin tax. Pasalnya, masuknya dana asing kali ini karena ada sentimen global dari bank sentral AS, Federal Reserve yang diprediksi tidak akan agresif menaikkan suku bunga tahun 2019. “Apa lagi fundamental ekonomi kita masih lemah, dana asing bisa saja balik lagi ke AS jika kondisinya memburuk,” terang Chatib.

Sumber : Harian Kontan

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp WA only