Menilik Ekspansi Emiten Farmasi Saat Kurs Rupiah Terbang Tinggi

Pemerintah AS Tutup, Bagaimana Nasib Para Wajib Pajak?
January 18, 2019
Prabowo Mau Naikkan “Tax Ratio”, tapi Potong Tarif Pajak, Apakah Bisa?
January 18, 2019

JAKARTA. Pergerakan kurs rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) menjadi salah satu faktor yang dipertimbangkan emiten farmasi dalam menyusun rencana ekspansi. Ditahun ini, kurs rupiah cenderung menguat.

Meskibegitu, PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) tidak lantas tancap gas ekspansi. Perusahaan ini mematok target pertumbuhan kinerja seperti tahun sebelumnya. “Target kinerja minimal sama seperti tahun lalu,” ujar Direktur Utama KLBF Vidjongtius, Kamis (17/1).

Jika target pertumbuhan penjualan di 2018 yang sebesar 5% tercapai, maka tahun lalu KLBF berpotensi menncetak penjualan Rp 21,18 triliun. Dengan asumsi yang sama, maka penjualan KLBF tahun ini sekitar Rp 22,24 triliun.

KLBF mematok target konservatif lantaran khawatir volatilitas rupiah kembali naik. Maklum,sekitar 60%-70% bahan baku produksi masih dipasok dari luar negeri. “Kami mengantisipasi kenaikan beban bisnis,” ujar Vidjongtius.

Ia menuturkan, KLBF juga memanfaatkan lindung nilai alami antara natural hedging guna menetralisir tekanan fluktuasi kurs. KLBF juga mencadangkan kurs dalam bentuk denominasi dollar AS.

Sementara PT Kimia Farma Tbk (KAEF) lebih optimis. Ganti Winarno, Sekertaris Perusahaan KAEF, yakin bisnis tahun ini lebih baik. “Seluruh pelaku industri farmasi akan merasakan dampak positif, mengingat hamper sebagian besar bahan baku farmasi masih impor,” kata dia.

KAEF telah menekan kontrak bahan baku selama dua tahun, mulai dari 2018, untuk menekan biaya bahan baku. Jadi, beban pokok penjualan KAEF terjaga di kisaran 60%-65% terhadap pendapatan.

KAEF juga menerapkan strategi pembelian dalam jumlah besar di depan. Hal ini merupakan bentuk hedging.

Tahun ini KAEF mematok belanja modal (capex) Rp 3,5 triliun. Sekitar Rp 2,3 triliun dialokasikan untuk merger dan akuisisi, sisanya untuk pengembangan organik.

Sedang KAEF mematok capex Rp 1,5 triliun. Sebagian besar capex digunakan untuk melanjutkanpengerjaan pabrik obat bekas di Cikarang dan obat resep di Pulo Gadung.

Bila pabrik selesai, produksi obat KBLF bisa naik 40%. “Itu untuk memenuhi permintaan 3-5 tahun ke depan,” kata Vidjongtius.

Sumber : Harian Kontan

Leave a Reply

Your email address will not be published.

WhatsApp WA only