Menarik Investasi Besar

Skema MBR Plus Jadi Solusi Rumah bagi Milenial
January 30, 2019
Kendaraan Listrik Bebas Bea Masuk
January 30, 2019

Dunia memang dibayangi pesimisme dengan berbagai risiko ekonomi dan geopolitik, yang memperlambat laju pertumbuhan dua tahun ke depan. Meski demikian, kondisi ini justru bisa mendorong lebih banyak dana asing masuk ke Indonesia, baik lewat foreign direct investment (FDI) maupun portofolio. Lalu, bagaimana menggiring bola ini untuk gol kemenangan besar investasi di Tanah Air?

Jika ditelusuri, pendulum investasi global mulai bergerak dari sebelumnya mengarah ke Amerika Serikat seiring prospek ekonomi dan tingkat imbal hasil yang menguat, kini kembali berayun ke emerging markets, termasuk Indonesia. Setelah sempat mencapai 4,1% pada kuartal II-2018 atau rekor tertinggi sejak 2014, laju pertumbuhan negara adidaya dengan ekonomi terbesar di dunia itu melemah.

Dana Moneter Internasional (IMF) menyebut, pecahnya perang dagang AS-Tiongkok berdampak negatif, yang mencakup barang impor senilai US$ 250 miliar dan US$ 110 miliar dari masing-masing pihak. Dinaikkannya tarif impor hingga 25% membuat kerugian miliaran dolar AS pun tak bisa dihindari di kedua pihak, yang berujung prospek pertumbuhan ekonomi kedua raksasa di belahan dunia yang berbeda ini meredup.

Tak heran, IMF pun menyebut momentum pertumbuhan global melemah. Apalagi, masih ada soal Brexit dan ketidakpastian lainnya di benua Eropa, yang berpotensi tambah menyeret turun pertumbuhan. Kreditur dunia yang bermarkas di Washington itu mengoreksi proyeksi pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) global tahun ini, dari sebelumnya 3,7% menjadi 3,5%. Proyeksi tahun depan juga diturunkan menjadi 3,6%, di bawah prediksi pertumbuhan ekonomi global tahun lalu 3,7%.

Dengan sumber pemberat laju ekonomi global terutama di Amerika Serikat dan Tiongkok, investor pun mulai keluar dari wilayah ini. Hal ini bisa diindikasikan dengan kinerja Wall Street yang terpuruk sejak Desember lalu atau terburuk sejak The Great Depression dan berkembangnya kekhawatiran terhadap ekonomi global. Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) pun diperkirakan akan menyampaikan satu pesan, yakni sabar dulu sebelum menaikkan lagi suku bunga The Fed (Fed Funds Rate) nanti.

Salah satu tujuan yang bisa dijadikan alternatif investasi yang menarik adalah Indonesia, yang punya kombinasi pasar besar, ekonominya masih tumbuh positif, jumlah kelas menengah bertambah, sumber daya alam beragam, dan politiknya cukup stabil. Lalu, bagaimana untuk bisa benar-benar menarik banyak investasi global masuk?

Tentu saja, dana asing itu hanya akan betul-betul mengalir deras ke Indonesia dan kerasan di sini, jika iklim investasi dan bisnis nyaman, serta ada kepastian hukum. Untuk itu, pemerintah harus segera memperbaikinya, agar bisa memanfaatkan momentum menurunnya minat investasi ke AS, Tiongkok, maupun negara-negara Eropa yang masih lemah pertumbuhannya.

Salah satu PR besar yang harus diselesaikan pemerintah Indonesia adalah, pertama, menuntaskan tumpang tindih dan keruwetan regulasi dan perizinan antara pusat dan daerah, agar lebih sederhana, cepat, murah, dan memberikan kepastian hukum.

Kedua, menyediakan infrastruktur yang efisien agar biaya logistik bisa semakin ditekan dan bersaing di Asean, mengingat biaya logistik kita masih sangat tinggi dibanding negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Itulah sebabnya, ongkos angkutan ikan dari Merauke ke Jakarta misalnya, per kg-nya mencapai Rp 4.300, tiga kali lipat lebih dibanding ongkos angkut dari Tiongkok ke Jakarta yang hanya Rp 1.200 per kg. Padahal, perjalanan dari negeri komunis itu ke Jakarta lebih jauh dibandingkan dari Merauke ke Jakarta.

Ketiga, harus segera mengimplementasikan paket kebijakan ekonomi jilid I-XVII secara serius dan konsisten. Keempat, pemerintah memberikan insentif dan perhatian khusus bagi beberapa sektor strategis, seperti industri pengolahan, industri substitusi impor, hingga pariwisata.

Selain itu, tentu saja pemerintah juga harus memberi insentif menarik untuk mendukung pertumbuhan e-commerce. Selain bisa menjadi penopang pertumbuhan ekonomi baru, berkembangnya e-commerce semakin penting untuk memperkuat pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) kita, termasuk para petani, peternak, dan nelayan kita. Ini akan membuat UMKM kita memiliki akses yang lebih luas, baik terhadap kredit yang murah, teknologi, maupun pemasaran.

Dengan perbaikan di berbagai sektor tersebut, peringkat kemudahan berbisnis di Indonesia pun dipastikan semakin membaik, sehingga lebih bisa menarik investor asing. Berdasarkan laporan Bank Dunia (World Bank) mengenai kemudahan berbisnis atau ease of doing business (EoDB) 2019, ranking Indonesia masih tertinggal di posisi ke-73 dari total sekitar 190 negara.

Kita masih kalah jauh dengan negara-negara tetangga seperti Singapura di posisi ke-2, Malaysia ke-15, dan Thailand yang di peringkat ke-27. Bahkan, dengan Vietnam –negara komunis yang ‘baru’ selesai perang– pun kalah, mereka di peringkat ke-69.

Oleh karena itu, pemerintah Indonesia setidaknya harus bisa mengejar peringkat kemudahan berbisnis di Indonesia, setidaknya kita tidak lagi kalah dengan negaranegara tetangga di Asean itu. Atau, setidaknya pajak penghasilan badan (PPh) di Indonesia yang masih 25% bisa diturunkan agar bisa bersaing berebut investasi dengan Singapura, yang sejak lama tarifnya hanya 17%.

Sumber : beritasatu.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.

WhatsApp WA only