Mengangkat Gelas Garap Segmen Daring

SPT & Reformasi Pajak
March 13, 2019
Aturan Main E-commerce Masih Menunggu WTO
March 13, 2019

Pebisnis minuman beralkohol garap penjualan via online

JAKARTA. Pelaku industri minuman beralkohol terus membuka peluang baru demi menggenjot penjualan. Para pebisnis mulai melirik pasar e-commerce yang terus meningkat dan menjangkau hingga ke penjuru Nusantara.

Orang tua Group, misalnya, dengan kepemilikan saham 100% di PT Beverindo Indah Abadi yang memproduksi ragam brand bir seperti Prost Beer dan Singaraja, cukup aware terhadap perkembangan model market place yang baru tersebut.

“Maka dari itu, kami bekerjasama dengan beberapa e-commerce untuk mengembangkan awareness produk kami di situs-situs mereka,” ungkap Yenny Soraya, Brand Manager Prost Beer dan Singaraja OT Group, Selasa (12/3).

Selain itu, manajeman OT Group mengintegrasikan seluruh kegiatan pemasaran ke arah digital. Oleh sebab itu, kelompok usaha ini lumayan aktif mempromosikan produk Singaraja di media sosial. Di sisi lain, penyegaran produk lewat sejumlah inovasi brand baru juga terus dilakukan.

Importir minuman beralkohol juga melakukan hal yang sama. Ketua Asosiasi Pengusaha Importir dan Distributor Minuman Impor (APIDMI) Agoes Silaban menyebutkan, penjualan minuman beralkohol impor secara online sudah dijalankan cukup lama. “Para importir cukup aware dengan e-commerce,” sebutnya. Selasa (12/3).

Bahkan, Agoes bilang, para retailer dengan skala lebih kecil alias eceran juga sudah mulai menggarap segmen pasar daring karena melihat potensinya terus berkembang. Cuma, akibat kurang pengawasan, market place ini di banjiri produk ilegal hasil seludupan dan barang palsu.

Sektor Pariwisata

Para pebisnis sepakat sektor pariwisata di Indonesia menjadi katalis permintaan produk minuman beralkohol di Tanah Air. Agoes menyebutkan, pengaruh iklim pariwisata yang stabil berdampak pada ramainya penjulan minuman beralkohol di hotel dan restoran.

Namun, persaingan pasar semakin kompetitif akibat banjir produk baru, baik lokal maupun impor. “Biasanya para importir membangun brand image untuk produk baru butuh waktu 6-12 bulan,” ungkap Agoes.

Ramainya bisnis wisata ini juga membawa berkah bagi OT Group. Pasalnya, turis asing biasanya banyak mencari minuman beralkohol buatan lokal. “Maka dari itu, kami optimistis meluncurkan produk bir lokal yang baru,” klaim Yenny. Catatan Kontan, saat ini kapasitas terpasang pabrikan milik Beverindo tercatat sebanyak 373.000 helikopter per tahun.

Hal senada diutarakan Erik Pieter Mul, Direktur Keuangan PT Multi Bintang Indonesia Tbk (MLBI) yang mengakui martket minuman beralkohol tak terlepasĀ  dari geliat konsumen di sektor pariwisata. Berkaca pada laporan keuangan perseroan tahun 2018 lalu, Multi Bintang membukukan revenue Rp 3,64 triliun atau naik 7,6% dibandingkan tahun sebelumnya Rp 3,38 triliun. Hampir 90% penjualan disumbangkan segmen bir yakni sebesar Rp 3,26 triliun.

Namun MLBI belum bisa membeberkan proyeksi penjualan tahun 2019. Yang pasti, sepanjang tahun ini mereka masih menghadapi banyak tantangan. “Tapi kami masih optimistis dengan prospek pasar bir di Indonesia karena fundamental ekonomi nasional yang bagus, seiring meningkatnya kontribusi sektor pariwisata,” tutur Erik.

Sumber : Harian Kontan

Leave a Reply

Your email address will not be published.

WhatsApp WA only