Harga CPO turut tertekan harga minyak kedelai

Sri Mulyani Sebut Pemilu ‘Lemahkan’ Ekonomi Kuartal I
May 8, 2019
Perang Dagang Bakal Gerus Ekonomi AS & China
May 8, 2019

JAKARTA. Harga crude palm oil (CPO) semakin lesu pada perdagangan pekan lalu. Hal ini dipicu oleh penurunan harga minyak kedelai yang juga melemah di tengah berbagai stimulus yang telah dilancarkan Malaysia dan Indonesia.

Mengutip Bloomberg, harga CPO kontrak pengiriman Juni 2019 di Malaysia Derivative Exchange pada Jumat (29/3) berada di level RM 2.013 per metrik ton. Angka ini turun sebanyak 1,8% dari harga CPO sebelumnya RM 2.050 per metrik ton. Bahkan sepekan harga anjlok 4,5%.

Bloomberg melaporkan minyak sawit berjangka Malaysia mencatat penurunan sesi ketiga dalam empat sesi pada Kamis malam pekan lalu, mengikuti pelemahan harga soy oil dan pada perkiraan penurunan output yang lebih lambat dari yang diperkirakan.

Dalam minyak terkait lainnya, kontrak minyak kedelai Chicago Mei turun 0,5% pada hari Rabu, dan naik 0,3% pada hari Kamis. Analis Central Capital Futures, Wahyu Tribowo Laksono menilai, harga kedelai menurun karena pasokan global yang melimpah dan prospek suram untuk ekspor AS.

“Harga minyak sawit dipengaruhi oleh pergerakan soy oil, karena mereka bersaing untuk mendapatkan bagian di pasar minyak sayur global,” kata Wahyu kepada Kontan.co.id, Minggu (28/4).

Padahal data ekspor Malaysia lumayan. Ekspor minyak sawit Malaysia naik antara 1,4%-8,9% selama tanggal 1-25 April dibandingkan periode yang sama bulan lalu, menurut data dari tiga surveyor kargo minyak sawit pada hari Kamis. “Tapi karena harga kedelai, data ekspor Malaysia tidak berpengaruh,” katanya.

Di sisi lain, Kementerian Perdagangan Republik Indonesia mengatakan pada hari Jumat lalu akan mempertahankan pajak ekspor CPO 0% untuk pengiriman. Harga referensi pemerintah untuk CPO ditetapkan pada US$ 573,31 per ton untuk pengiriman Mei, naik sedikit dari bulan April. Akan tetapi, masih jauh di bawah ambang terendah untuk pajak ekspor.

Selain itu, masalah pasokan jelas menekan harga, terutama karena masalah lingkungan. “Kalaupun tidak ada isu Eropa, CPO belum tentu mudah menguat,” tutur Wahyu.

Wahyu menegaskan harga CPO masih bakal sulit menuju ke atas RM 2.100 per metrik ton, bahkan cenderung di level RM 2.000 per metrik ton ke bawah. Ia menambahkan kalaupun ada potensi rebound karena teknikal, dan hanya sesekali.

Wahyu meramal pada perdagangan besok CPO akan berada di level support RM 1.880, RM 1.920, dan RM 1.960 per metrik ton. Sementara level resistance antara RM 2.050, RM 2.080, dan RM 2.120 per metrik ton. Adapun sepekan ke depan di level RM 1.860-RM 2.130 per metrik ton.

Sumber : Kontan.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published.

WhatsApp WA only