Dibayangi Perang Dagang, IHSG Melanjutkan Pelemahan

Pemerintah Matangkan Aturan Kendaraan Listrik, Industri Siap Investasi
May 10, 2019
Menperin optimistis Indonesia jadi hub manufaktur di Asean
May 10, 2019

JAKARTA – Sengkarut dagang antara dua ekonomi terbesar dunia, Amerika Serikat (AS) dan China, masih membayangi bursa saham hari ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis pagi ini dibuka melemah usai AS dan China berbalas ancaman untuk menaikkan tarif impor barang kedua negara.

IHSG dibuka melemah 28,02 poin atau 0,45% ke posisi 6.242,18. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 bergerak turun 7,69 poin atau 0,78% menjadi 981,23.

Sementara itu, bursa regional antara lain Indeks Nikkei melemah 227,21 poin (1,05%) ke 21.375,38, Indeks Hang Seng melemah 239,59 poin (0,83%) ke 28.763,61, dan Indeks Straits Times melemah 16,25 poin (0,49%) ke posisi 3.267,59.

“Pandangan kami terhadap pergerakan pasar saham pada hari ini berpotensi melanjutkan pelemahan seiring sentimen global yang masih belum ada kepastian,” tulis riset harian Samuel Sekuritas, Kamis (9/5).

Menurut Samuel Sekuritas, IHSG hari Rabu (8/5) turun -0,43% menjadi 6.270 dengan pemberat terbesar adalah sektor keuangan dan saham BMRI, ASII, BBNI. Net sell asing pada pasar regular mencapai Rp688 miliar.

Ketidakpastian masih membayangi diskusi dagang AS dan China. Kantor Perwakilan Dagang AS mengumumkan bahwa tarif barang-barang China senilai US$200 miliar akan meningkat menjadi 25% dari 10% pada Jumat (10/5) pukul 00.01 waktu setempat (04.01) GMT, tepat di tengah dua hari pertemuan antara Wakil Perdana Menteri China Liu He dan pejabat perdagangan utama Trump di Washington.

Ancaman tersebut telah disuarakan Presiden AS Donald Trump Ahad lalu. Selain akan menaikkan tarif sekelompok barang dari China dari 10% menjadi 25%, ia juga mengancam akan mengenakan pajak untuk hampir semua barang yang diekspor China ke AS.

“Barang senilai US$325 miliar yang dikirim ke kita oleh China masih belum dikenakan pajak, namun kita akan mengenakan pajak dalam waktu dekat dengan tarif 25%,” ucap Trump lewat Twitter, Minggu (5/5).

Tak tinggal diam, Beijing mengumumkan akan mengambil tindakan balasan jika tarif benar-benar dinaikkan.

“Pihak China sangat menyesalkan jika langkah-langkah tarif AS diterapkan, China akan mengambil tindakan balasan yang diperlukan,” kata Kementerian Perdagangan China di situs web-nya, tanpa menjelaskan lebih lanjut.

Sementara itu, Analis Panin Sekuritas William Hartanto di Jakarta, Kamis (9/5), mengatakan, kendati AS sudah memastikan akan menaikkan tarif impor terhadap China, namun hal tersebut sebenarnya sudah diantisipasi pasar.

“Jadi sentimennya sudah jalan duluan sebelum resmi dinaikkan tarifnya,” ujar William, dilansir dari Antara.

Perang dagang yang kembali memanas ini, lanjut William, memang akan memengaruhi pergerakan bursa saham global termasuk bursa saham Asia.

“Efek ini tentu besar ke bursa Asia, tapi Indonesia tidak terlalu terpengaruh karena ekonomi masih stabil di kisaran lima persen, maka akan lebih terjaga pergerakan IHSG-nya,” kata William.

Dua ekonomi terbesar di dunia itu terlibat dalam perang tarif yang ketat sejak Juli 2018. Perang bermula dari tuntutan AS agar kekuatan Asia itu harus mengadopsi perubahan kebijakan yang, antara lain, akan lebih melindungi kekayaan intelektual Amerika dan membuat pasar China lebih mudah diakses oleh perusahaan-perusahaan AS.

Ekspektasi bergerak lebih tinggi baru-baru ini bahwa kesepakatan bisa dicapai, tetapi keretakan mendalam atas bahasa perjanjian yang diusulkan menjadi hambatan akhir pekan lalu.

Reuters, mengutip sumber-sumber pemerintah dan sektor swasta AS, melaporkan pada Rabu (8/5) bahwa China telah mundur pada hampir semua aspek dari rancangan perjanjian perdagangan, mengancam akan menggagalkan negosiasi dan mendorong Trump untuk menaikkan tarif.

Trump, yang telah memeluk sebagian besar kebijakan proteksionis sebagai bagian dari agendanya “America First”, memperingatkan China bahwa keliru jika berharap untuk menunda kesepakatan perdagangan sampai seorang Demokrat mengendalikan Gedung Putih.

Lewat cuitannya di Twitter, Rabu (5/8), Trump menyebut China mundur dari upaya negosiasi ulang Kesepakatan Perdagangan lantaran mereka berharap dapat “bernegosiasi” dengan Joe Biden atau salah satu Demokrat yang sangat lemah.

“Coba tebak, itu tidak akan terjadi! China baru saja memberi tahu kami bahwa mereka (Wakil Perdana Menteri) sekarang datang ke AS untuk membuat kesepakatan. Kita akan lihat, tapi saya sangat senang dengan lebih dari US$100 miliar per tahun dalam tarif-tarif mengisi kas AS,” tandas Trump, yang seorang Republikan tulen.

Sebagai tanggapan, wakil manajer kampanye Biden, Kate Bedingfield di Twitter mengkritik Trump, mengatakan petani AS, pemilik usaha kecil, dan konsumen merupakan pihak yang terkena dampak dari pertarungan tarif.

Berbicara kepada wartawan, Sekretaris Pers Gedung Putih Sarah Sanders secara terpisah mengatakan pemerintahan Trump telah menerima “indikasi” bahwa China menginginkan kesepakatan.

Pasar saham AS pada Rabu bergerak bervariasi merespon pernyataan Presiden Trump mengenai negosiasi perdagangan AS-China. DJIA hanya ditutup flat  (+0,01%) di 25.967 sementara Nasdaq melemah -0,26% ke 7.943 dan S&P500 turun -0,16% ke level 2.879. Bursa

Perubahan Besar
Amerika Serikat menuntut Beijing melakukan perubahan besar pada praktik perdagangan dan peraturannya, termasuk melindungi kekayaan intelektual AS dari pencurian dan pemindahan paksa ke perusahaan-perusahaan China, membatasi subsidi pemerintah China dan meningkatkan akses Amerika ke pasar-pasar China.

Trump juga telah mencari kenaikan besar dalam pembelian pertanian, energi, dan produk manufaktur untuk produk domestik, guna mempersempit defisit perdagangan AS yang menganga dengan China.

Sumber yang mengetahui pembicaraan menyebutkan China akan sulit menghindari kenaikan tarif AS. Peningkatan itu akan mempengaruhi impor China mulai dari modem komputer dan router hingga penyedot debu, furnitur, lampu penerangan dan bahan bangunan.

Scott Kennedy, seorang pakar China di Pusat Kajian Strategis dan Internasional di Washington, mengatakan perundingan berada pada tahap yang sulit dan sangat bergantung pada proposal seperti apa yang dibawa Liu ke Washington.

“Saya pikir pemerintahan Trump cukup serius tentang mengenakan tarif,” kata Kennedy. “Saya tidak berpikir Liu He setuju untuk datang jika hanya untuk memberi kuliah pada AS.”

Sumber : Validnews.id

Leave a Reply

Your email address will not be published.

WhatsApp WA only