Bangkitkan Industri Otomotif, Pemerintah Perlu Permudah Pembelian Kendaraan

Jakarta – Pemerintah sudah meluncurkan stimulus fiskal dan non fiskal jilid II untuk membantu industri manufaktur mengatasi dampak wabah virus corona. Namun hal itu dianggap belum cukup membantu industri otomotif bangkit dari krisis akibat pandemi Covid-19.

Sebagai informasi, dalam paket kebijakan yang dirilis awal Maret 2020 itu, pemerintah menjanjikan stimulus non fiskal berupa pemberian perizinan impor komponen kendaraan yang akan dibuat lebih simpel dan mudah, termasuk percepatan proses logistik.

Selain itu, manufaktur otomotif juga akan mendapat stimulus fiskal berupa relaksasi PPh (Pajak Penghasilan) 21 yang ditanggung pemerintah untuk karyawan sektor industri, relaksasi PPh 22 barang impor, dan relaksasi PPh 25 untuk industri manufaktur selama 6 bulan.

Tak hanya stimulus tersebut, menurut pengamat otomotif Yannes Martinus Pasaribu, pemerintah perlu memikirkan kebijakan lain untuk mendukung kebangkitan kembali industri otomotif di Indonesia.

“Ini pasti akan menjadi keputusan yang sulit, mungkin pemerintah perlu memikirkan soal pembebasan pajak bagi para pelaku otomotif yang terdampak, hingga memberikan peluang pinjaman bunga sangat rendah bagi industri,” kata Yannes kepada detikOto, belum lama ini.

Ditambahkan Yannes, industri otomotif perlu banyak dukungan dari pemerintah karena likuiditas pelaku industri otomotif–atau kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek–saat ini mengalami bleeding (pendarahan) akibat mereka harus menanggung ekonomi dan kesehatan karyawan, tanpa pemasukan yang berarti bagi perusahaan.

Selain memberi dukungan terhadap industri manufaktur, Yannes juga menyarankan agar pemerintah memberi stimulus untuk calon pembeli kendaraan bermotor selama tahun fiskal 2020 ini.

“Sebab keuangan para calon konsumen otomotif segmen middle-low pun terdampak akibat krisis ekonomi yang terjadi. Jika ada dukungan keringanan dalam proses kepemilikan kendaraan baru, semoga semangat masyarakat middle-low dalam mengkonsumsi kendaraan baru akan meningkat dengan lebih cepat, yang selanjutnya dapat mempercepat putaran ekonomi nasional menuju ke titik stabilnya kembali,” pungkas Yannes.

Sumber: detik.com

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp WA only