Berkat stimulus pemerintah, marketing sales emiten properti terdekat
JAKARTA. Tren suku bunga rendah mengerek permintaan properti. PT Ciputra Development Tbk (CTRA) menjadi salah satu pemain di sektor ini yang mendapuk untung dari tren tersebut.
Sepanjang sembilan bulan pertama tahun ini, CTRA mengantongi pendapatan pra-penjualan (marketing sales) Rp 5 triliun. Pencapaian ini setara dengan 86% dari target marketing sales hingga akhir tahun, Rp 5,8 triliun.
Sebesar 58% atau setara Rp 2,9 triliun dari pendapatan pra penjualan tersebut merupakan penjualan dengan skema kredit perumahan alias KPR. “Kontribusi tersebut meningkat dibanding tahun lalu sekitar 48%,” ujar Direktur CTRA Tulus Budi Santoso ke KONTAN belum lama ini.
Kontribusi penjualan dengan KPR ini juga merupakan yang tertinggi sejak 2017. Tulus tak menampik, pandemi Covid-19 menekan permintaan properti. “Tapi, bunga saat ini juga sedang rendah-rendahnya,” imbuh Tulus.
CTRA menyusun dua strategi untuk mendorong marketing sales. Pertama, emiten properti ini fokus menggenjot penjualan rumah tapak.
Bagi CTRA, properti di bawah harga Rp 2 miliar per unit yang paling laris manis. Portofolio CTRA untuk rentang harga ini berada di sejumlah kawasan, seperti Citra Raya Tangerang, Citra Maja dan Citra Land Cibubur.
Selain harga di bawah Rp 2 miliar, rumah ready stock juga paling laris, lantaran mendapat insentif pembebasan pajak pertambahan nilai (PPN) dari pemerintah. Insentif ini diperpanjang hingga Desember tahun ini. “Jadi, konsumen kalau mau memanfaatkan insentif ini juga harus ambil KPR,” terang Tulus. Tambah lagi, ada insentif uang muka nol persen, yang diperpanjang hingga akhir tahun 2022.
Kedua, CTRA menahan proyek properti high rise. Alasannya, pasar properti high rise masih mengalami kelebihan pasokan. CTRA menunda peluncuran semua proyek properti high rise, kecuali proyek Citra Landmark di Ciracas, Jakarta Timur.
Pengaruh insentif
PT Pakuwon Jati Tbk (PWON), juga merasakan efek positif tren suku bunga rendah terhadap penjualan properti. Ivy Wong, Direktur Pengembangan PWON, menyebut, insentif PPN ditanggung pemerintah juga turut mendongkrak penjualan properti yang digarap PWON.
Adapun marketing sales PWON di periode Januari-September tahun ini mencapai Rp 1,05 triliun. Angka ini melompat 44,8% dibanding realisasi di periode yang sama tahun sebelumnya, yaitu sebesar Rp 725 miliar. Dari total marketing sales sepanjang sembilan bulan pertama tahun ini, sekitar 87% merupakan stok properti yang mendapatkan subsidi.
Tahun ini, emiten yang berbasis di Surabaya tersebut menargetkan bisa meraup marketing sales sebesar Rp 1,4 triliun. Ivy optimistis, dengan guyuran stimulus yang ada, target ini bisa tercapai.
Meski berhasil mencatatkan kenaikan signifikan pada pendapatan pra penjualan, emiten properti tidak lantas langsung merevisi naik target marketing sales tahun ini. “Lihat nanti seperti apa realisasinya karena masih ada ketidakpastian,” tandas Tulus.
Analis RHB Sekuritas Andhika mempertahankan sikap bullish saham sektor properti. Selain CTRA, saham PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) menjadi pilihan utama. Potensi upside keduanya masih cukup tinggi, ditambah kondisi industri kini lebih kondusif.
RHB Sekuritas memberi rekomendasi buy bagi CTRA dan SMRA, dengan target harga masing-masing Rp 1.500 per saham dan Rp 1.260 per saham. Kedua saham ini kemarin masing-masing ditutup di harga Rp 1.095 per saham dan Rp 930 per saham.
Sumber : Harian Kontan Kamis 21 Oktober 2021 hal 4

WA only
Leave a Reply