Kinerja industri dan pasar otomotif nasional melandai di sepanjang 2025. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) maupun Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) kompak memproyeksikan tingkat penjualan mobil selama tahun 2025 tidak akan menembus level psikologis 800.000 unit.
Artinya, penjualan mobil pada tahun lalu akan lebih rendah dibandingkan 2024. Gaikindo mencatat penjualan wholesales mobil (pabrik ke diler) hingga November 2025. baru mencapai 739.977 unit, atau turun 10% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin, Setia Diarta memproyeksikan penjualan mobil sampai tutup tahun 2025 akan berada di bawah 800.000 unit. Proyeksi mempertimbangkan tingkat penjualan mobil baru yang secara bulanan menyentuh kisaran 60.000 hingga 70.000 unit.
“Kalau melihat pola penjualan setiap bulan, untuk mencapai 800.000 sepertinya akan sulit. Jadi estimasi kami, proyeksinya sekitar 775.000 unit,” ucap Setia, Rabu (31/12).
Pada kesempatan terpisah, Ketua Umum Gaikindo Putu Juli Ardika punya proyeksi tak jauh berbeda, yakni tingkat penjualan mobil tidak akan menembus 800.000 unit sampai akhir tahun 2025.
Gaikindo memproyeksikan penjualan mobil sekitar 780.000 unit, atau lebih rendah dibandingkan proyeksi awal pada level 850.000 unit. “Internal Gaikindo baru memproyeksikan bahwa penjualan pada tahun 2025 sekitar 780.000, itu prognosanya,” imbuh Putu.
Menurut dia, penurunan penjualan mobil disebabkan oleh sejumlah faktor. Mulai dari kondisi perekonomian nasional, implementasi kebijakan opsen pajak, serta faktor pembiayaan.
Demi menggairahkan lagi industri dan pasar otomotif, Gaikindo mengharapkan ada dorongan insentif dari pemerintah. Gaikindo telah melakukan pembicaraan dengan Kemenperin terkait insight kondisi industri yang menjadi pertimbangan untuk usulan insentif pada tahun ini.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengamini perlu ada dukungan pemerintah berupa insentif atau stimulus agar kinerja industri otomotif bisa kembali tumbuh pada tahun 2026.
Kemenperin ingin mendongkrak kinerja industri alat angkutan agar bisa tumbuh 2,93% di tahun 2026, sehingga bisa memberikan kontribusi 1,41% terhadap produk do- mestik bruto (PDB) nasional.
Kemenperin telah menyerahkan usulan insentif otomotif pada 2026 kepada Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Hanya saja, Agus belum membuka secara rinci poin-poin usulan insentif tersebut. Hal ini dilakukan agar tidak memicu spekulasi di kalangan industri maupun di tengah masyarakat.
Informasi yang berembus menyebutkan insentif yang akan diberikan adalah kendaraan yang memenuhi tingkat komponen dalam negeri (TKDN) serta standar batas emisi tertentu.
Pengamat Otomotif ITB, Yannes Martinus bilang jika syarat insentif kaku pada parameter TKDN dan emisi, maka kendaraan yang bisa mencicipi fasilitas ini bakal sangat terbatas. Akibatnya, efek dongkrak terhadap pasar otomotif tak signifikan.
Sumber : Harian Kontan 2 Januari 2026, Halaman 1

WA only
Leave a Reply