Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menutup APBN 2025 dengan catatan defisit Rp695,1 triliun, hampir mencapai batas 3%. Shortfall pajak yang melebar jadi biang kerok tingginya defisit APBN tersebut.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa pendapatan negara mencapai Rp2,755,3 triliun per akhir Desember 2025, setara 91,7% dari target senilai Rp3.005,1 triliun. Sementara itu, total belanja negara 2025 mencapai Rp3.451,4 triliun atau setara 95,3% dari outlook senilai Rp3.621,3 triliun.
Alhasil, belanja yang lebih besar dari pendapatan negara membuat defisit APBN 2025 mencapai Rp695 triliun alias 2,92% dari produk domestik bruto (PDB).
“Anda pasti nanya, kenapa enggak dipotong belanjanya supaya defisitnya tetap kecil? Tetapi kita tahu kan ketika ekonomi kita sedang down turn, turun ke bawah, kita harus memberikan stimulus ke perekonomian,” ujar Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa di Kantor Kemenkeu, Jakarta pada Kamis (8/1/2026).
Bendahara negara itu menyatakan bahwa meskipun defisit melebar, tetapi masih terjaga di bawah ambang batas 3% seperti yang diatur Undang-undang (UU).
Purbaya juga memaparkan keseimbangan primer masih minus Rp180,7 triliun atau melebar dari target APBN 2025 yang didesain minus Rp63,3 triliun.
Defisit APBN 2025 terjadi sesuai perkiraan Purbaya, sebelumnya dia telah memberikan sinyal kuat bahwa realisasi defisit akan melebihi target outlook sebesar 2,78% terhadap PDB. Biang keladinya, pendapatan negara meleset dari proyeksi, sementara belanja harus dijalankan.
Purbaya juga telah mewanti-wanti bahwa setoran ke kas negara, terutama pajak, tidak akan mencapai target.
“[Defisit] di atas itu [outlook 2,78%]. Yang jelas kami tidak melanggar Undang-undang 3%, dan kami komunikasi terus dengan DPR,” ungkap Purbaya di Kantor Kemenkeu, Jakarta, Rabu (31/12/2025).
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai pelebaran defisit APBN 2025 masih dalam batas yang dapat dikelola, asalkan pertumbuhan ekonomi tetap terjaga.
Airlangga menyampaikan hal tersebut usai menghadiri agenda penyerahan bonus atlet SEA Games ke-33 Thailand 2025 di Istana Negara, Jakarta, Kamis (8/1/2026). Menurutnya, pemerintah akan mengantisipasi kondisi fiskal ke depan dengan mendorong peningkatan penerimaan negara.
“Kita harus dorong penerimaan negara. Dengan penerimaan negara, tentu masalah defisit itu akan menurun,” ujar Airlangga.
Saat ditanya apakah pemerintah khawatir dengan defisit APBN yang mendekati ambang batas 3% PDB, Airlangga menegaskan hal tersebut tidak menjadi persoalan utama.
“Tidak apa-apa, yang penting pertumbuhan bisa dicapai,” katanya kepada wartawan.

APBN 2025: Shortfall Pajak Rp271,7 Triliun, Capaian Cuma 87% dari Target
Realisasi penerimaan pajak 2025 tercatat sebesar Rp1.917,6 triliun atau sekitar 87,6% dari target APBN sebesar Rp2.189,3 triliun. Pajak merupakan penyumbang utama penerimaan negara, sehingga kinerjanya yang loyo membuat total penerimaan negara tidak mencapai target.
Sekadar catatan jika penerimaan pajak sesuai dengan skenario pemerintah yakni di outlook 2025 sebesar Rp2.076,9 triliun, pertumbuhannya akan mencapai 13,5%. Sementara itu, jika menggunakan skenario yang tercantum dalam maklumat Dirjen Pajak sebesar Rp2.005 triliun, pertumbuhannya menembus 17,5%.
Sayangnya, penerimaan pajak 2025 itu justru turun 0,7% dari tahun lalu.
Penerimaan bea dan cukai 2025 tercatat senilai Rp300,3 triliun atau 99,6% dari outlook, juga lebih rendah dari target awal APBN tahun lalu.
Adapun, perolehan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) 2025 total mencapai Rp534,1 triliun atau 104% dari outlook.

Belanja Negara Capai Rp3.451 Triliun
Purbaya juga melaporkan bahwa realisasi belanja negara 2025 mencapai Rp3.451,4 triliun, jumlahnya setara 95,3% dari target.
Berdasarkan outlook laporan semester I/2025 belanja negara diperkirakan senilai Rp3.527,5 triliun. Outlook belanja itu juga sudah lebih rendah dari yang ditetapkan sebelumnya pada UU APBN 2025 sebesar Rp3.621,3 triliun.
“Belanja negara mencapai Rp3.451,4 triliun atau 95,3% dari target pemerintah pusat,” ujar Purbaya.
Secara terperinci, realisasi belanja negara sepanjang 2025 meliputi belanja pemerintah pusat yakni total Rp2.602,3 triliun. Realisasinya mencapai 96,3% dari target.
Belanja pemerintah pusat itu terbagi menjadi belanja kementerian/lembaga (K/L) dengan realisasi Rp1.500,4 triliun atau 129,3% dari target, serta non K/L Rp1.102 triliun atau 71,5% dari target.
Sementara itu, belanja negara yang disalurkan ke daerah atau transfer ke daerah (TKD) terealisasi sebesar Rp849 triliun atau 92,3% dari target.
Sisa Anggaran Pemda 2025 Rp108 Triliun
Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara menjelaskan bahwa sisa lebih pembiayaan anggaran (Silpa) pemerintah daerah atau pemda mencapai Rp108,7 triliun pada akhir 2025. Besaran dana Silpa itu naik 30,2% dari posisi Silpa 2024, yakni Rp83,5 triliun.
Menurut Suahasil, perhitungan angka sementara Silpa di pemda itu berdasarkan perkiraan surplus APBD senilai Rp41,7 triliun dan net pembiayaan daerah Rp67,1 triliun.
“Ini yang kami harapkan nanti bisa segera dibelanjakan oleh daerah di awal tahun 2026 ini supaya bisa memberikan stimulus kepada perekonomian daerah,” terang Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara pada konferensi pers APBN KiTa 2025 di kantor Kemenkeu, Jakarta, Kamis (8/1/2025).
Secara terperinci, net pembiayaan daerah 2025 itu berasal dari penerimaan pembiayaan senilai Rp81,3 triliun dan dikurangi pengeluaran pembiayaan Rp14,2 triliun.
Sementara itu, surplus APBD berasal dari pendapatan daerah Rp1.288,3 triliun dan belanja Rp1.246,6 triliun. Pendapatan daerah di antaranya berasal dari anggaran transfer ke daerah (TKD) yang terealisasi sepanjang 2025 senilai Rp849 triliun.
Menurut Suahasil, dari total Rp108,7 triliun Silpa di seluruh pemda secara akumulatif, sepertiga merupakan milik pemda di pulau Jawa. Kemudian, sekitar 25% ada di Sumatra.
“Tentu di tiap daerah berbeda-beda lagi. Namun kami ingin mengimbau ke seluruh pemerintah daerah agar kalau ada excess cash maka dibelanjakan secepat mungkin untuk membantu kondisi ekonomi masyarakat,” lanjut Suahasil.
Sumber : ekonomi.bisnis.com

WA only
Leave a Reply