JAKARTA. Ruang fiskal yang semakin sempit mengancam perputaran uang di sejumlah daerah. Kondisi ini memperberat lesunya daya beli konsumen yang sedang dihadapi pelaku industri pembiayaan.
Ujian tambahan yang datang dari tekanan fiskal di sejumlah daerah, terutama di luar Pulau Jawa, direspons sejumlah perusahaan multifinance dengan meningkatkan kewaspadaan. PT Adira Dinamika Multi Finance misalnya, melihat hal ini bisa memengaruhi permintaan pembiayaan pada paruh kedua tahun ini.
Chief Finance Office Adira Finance Sylvanus Gani mengatakan, perkembangan ekonomi di daerah akan berbeda, tergantung kondisi dan potensi pasar masing-masing. “Tapi yang pasti, tekanan fiskal berpotensi memengaruhi aktivitas ekonomi dan daya beli,” kata Gani.
Tak cuma dari sisi permintaan kredit saja, kualitas kredit yang saat ini dikelola juga ikut terpengaruh. Padahal, Adira Finance juga mengidentifikasi kenaikan suku bunga acuan sebagai tantangan lain yang perlu diantisipasi.
Kenaikan suku bunga disebut berpotensi meningkatkan biaya pembiayaan yang ditanggung konsumen. “Sehingga bisa mendorong masyarakat menunda pembelian kendaraan maupun pembiayaan,” kata Gani.
Karena itu, Gani berkata, Adira akan meningkatkan kehati-hatian dalam penyaluran pembiayaan, termasuk di luar Jawa. Langkah tersebut dilakukan melalui penguatan proses penilaian kredit serta pemantauan kualitas portofolio secara berkala.
Adapun hingga semester I 2026, Adira Finance menyalurkan pembiayaan sebanyak Rp12,7 triliun ke nasabah di luar Jawa. Jumlah tersebut setara dengan 54,9% dari total kredit yang dikucurkan oleh perusahaan ini sepanjang enam bulan pertama tahun ini.
Kondisi fiskal daerah juga bisa berdampak pada kualitas pembiayaan
Perusahaan leasing lain, PT CIMB Niaga Auto Finance (CNAF), juga menerapkan strategi penyaluran kredit yang lebih selektif sebagai antisipasi atas perkembangan kondisi ekonomi di daerah.
Menurut Presiden Direktur CNAF Ristiawan Suherman, pembiayaan di Pulau Jawa hingga saat ini sebenarnya masih relatif kuat. Ia melihat aktivitas ekonomi dan tingkat konsumsi di sejumlah daerah juga cukup tinggi.
Sepanjang paruh pertama tahun 2026 sendiri, CNAF mencatatkan penyaluran pembiayaan sebesar Rp934 miliar di luar Jawa. Ini merepresentasikan 25% dari total new booking yang mencapai Rp3,7 triliun.
Namun Ristiawan mengakui, kondisi fiskal di sejumlah daerah yang kini menjadi sorotan, memang jadi faktor yang patut dicermati perusahaan. Soalnya berpotensi memengaruhi ekonomi lokal.
“Sebab itu, pembiayaan di sejumlah wilayah di luar Jawa, dilakukan lebih selektif. Ini mengikuti dinamika ekonomi daerah dan karakteristik sektor usaha masing-masing.
Salah satunya dari sisi perkembangan harga komoditas. Maklum, perkembangan daya beli masyarakat di sejumlah wilayah masih sangat dipengaruhi oleh pergerakan harga komoditas andalan masing-masing daerah.”Kondisi antardaerah bergantung pada ketahanan perekonomian di setiap wilayah,” ujar Ristiawan.
Sumber : Harian Kontan Senin 03 Agustus 2026 hal 10

WA only
Leave a Reply