KREDIBILITAS FISKAL DIUJI PASAR OBLIGASI

Investor kian mengkhawatirkan pemborosan fiskal di sejumlah negara kaya

NEW YORK. Otot fiskal negara-negara kaya tengah diuji pasar obligasi. Lonjakan imbal hasil surat utang di sejumlah negara maju, juga semakin menghantui konsumsi masyarakat yang merupakan motor pertumbuhan ekonomi.

Biaya pinjaman jangka panjang, mulai dari Amerika Serikat (AS), Jepang, hingga Jerman mencapai level tertinggi dalam pada pekan lalu akibat membengkaknya utang pemerintah dan faktor geopolitik. Hal ini membuat pasar obligasi kini memasuki era di mana prospek inflasi dan suku bunga menjadi lebih tidak pasti.

Reuters melaporkan, tingkat utang di negara maju mencapai ambang batas yang tampak semakin tidak berkelanjutan. Di AS misalnya kini punya tumpukan utang yang mendekati US$ 40 triliun. Konflik berkepanjangan terkait Iran turut mendorong kenaikan harga minyak dan inflasi, serta menghambat pertumbuhan ekonomi global.

Kepala ekonom pasar di Capital Economics, Jonas Goltermann menyebut, lonjakan imbal hasil obligasi baru-baru ini mengindikasikan bahwa investor mulai kehilangan kesabaran terhadap sikap fiskal yang boros.

Namun ia menyebut, hal ini sama sekali tidak mengejutkan. “Prospek fiskal di beberapa negara ekonomi utama bermasalah, dan para politisi menunjukkan sedikit minat untuk mengatasi persoalan tersebut,” kata Goltermann.

Beban masyarakatMeski masih belum terlalu jelas, setidaknya otoritas keuangan AS bergerak untuk meredam gejolak. Pekan lalu, Scott Bessent mengungkapkan strategi buyback US Treasury dengan menganggarkan dana US2miliar−US 4 miliar, yang rencananya akan dilakukan pada bulan depan.

Secara teori, langkah ini bisa saja menurunkan imbal hasil surat utang jangka menengah. Namun, analis menilai efeknya hanya sementara.

Termasuk dampak bagi beban keuangan masyarakat. Imbal hasil US Treasury bertenor 10 tahun yang merupakan acuan utama pasar obligasi, melonjak sepanjang musim panas setelah konflik Timur Tengah memicu kenaikan harga minyak dan kekhawatiran akan inflasi.

Hal ini pada gilirannya membuat biaya kredit rumah menjadi lebih mahal. Rata-rata suku bunga KPR tetap bertenor 30 tahun di negeri Uwak Sam misalnya, dilaporkan sudah mendekati level tertinggi dalam setahun terakhir. Alhasil, bisa menyurutkan konsumsi masyarakat

Sumber : Harian Kontan Senin 24 Agustus 2026 Hal 16

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp WA only