Pertumbuhan kredit properti pada tahun 2025 mengalami tekanan disertai kenaikan NPL
Jakarta. Kredit properti tahun 2026 diperkirakan akan bangkit setelah mengalami kelesuan tahun lalu. Pemulihannya akan didorong oleh insentif fiskal pemerintah serta percepatan program tiga juta rumah.
Tahun lalu, pertumbuhan kredit properti lesu disertai kenaikan risiko kredit. Data Statistik Sistem Keuangan Indonesia mencatat kredit properti per November 2025 hanya tumbuh 5,96% secara tahunan, melambat dibanding akhir Desember 2024 yang tumbuh 11,96%. Sementara rasio kredit bermasalah (NPL) kredit properti menanjak ke level 3,25% dari 2,67%.
Khusus kredit pemilikan rumah (KPR), tercatat pertumbuhan hanya 6,78% menjadi Rp 831,7 triliun. Realisasi ini merosot dari akhir 2024 yang tumbuh 10,14%.
Komisaris Bank Tabungan Negara (BTN) sekaligus Anggota Satgas Perumahan Panangian Simanungkalit menilai, pelemahan sektor properti beberapa tahun terakhir sejalan dengan pertumbuhan ekonomi yang terbatas, rata-rata sekitar 4% pada 2014-2024.
Dengan target pertumbuhan ekonomi 5,3% pada 2026 yang dipatok BI, ia memperkirakan sektor properti berpotensi tumbuh hingga 8% sesuai konsep growth elasticity. “Selain itu, program strategis pemerintah terkait properti akan lebih masif seiring pembentukan Badan Percepatan Pembangunan Perumahan Rakyat yang ditargetkan sebelum akhir kuartal 1-2026,” kata Panangian, Selasa (13/1).
Insentif PPN DTP
Di sisi lain, insentif pajak pertambahan nilai ditanggung – pemerintah (PPN DTP) untuk pembelian properti juga di perpanjang hingga 31 Desember 2027.
Optimisme juga datang dari Bank Central Asia (BCA). EVP Consumer Loan BCA Welly Yandoko mengatakan, pihak nya yakin prospek KPR akan membaik. Pasalnya, penyaluran KPR di akhir 2025 terlihat sudah meningkat.
“Di akhir 2025 ada peningkatan realisasi KPR baru, terutama dari pembelian rumah dari developer yang memanfaatkan benefit PPNDTP. Kami berharap kondisi ini bisa berlanjut dan meningkat di 2026.” ujar Welly
BCA menargetkan KPR tahun ini tumbuh sejalan industri, dengan tetap menerapkan prinsip kehati hatian. Per Sep tember 2025, KPR BCA tumbuh 6.4%, melambat dari September 2024 naik 10.7%
Bank Syariah Indonesia (BSI) juga optimistis prospek pembiayaan sektor perumahan tahun ini akan cerah. Kontras dengan industri, pembiayaan perumahan bank ini tahun lalu masih solid, tumbuh 23,1% jadi Rp 69,9 triliun.
Kinerja positif itu didukung kebijakan dan stimulus pemerintah. Segmen perumahan menjadi fokus BSI, ” kata Wisnu Sunandar, Sekretaris Perusahaan BSI.
Sumber: Harian Kontan, Kamis 15 Januari 2026 Hal 9

WA only
Leave a Reply