Pemerintah Jajaki Impor Gula India

EKSPOR CAIRAN VAPE AKAN DIDORONG
July 19, 2018
Perlu Komitmen Menjalankan Roadmap Pengendalian Rokok
July 19, 2018

JAKARTA. Pasar Indonesia selalu menarik di mata negara-negara produsen gula dunia, tak terkecuali India. Negeri Sungai Gangga ini tertarik menjajal pasar Indonesia, karena tingkat konsumsi gulanya yang besar. Oleh karena itu mereka menawarkan ekspor gula ke Indonesia dengan iming-iming kualitas tinggi.

Tawaran itu untuk memenuhi alokasi impor gula Indonesia sebesar 4,7 juta ton tahun ini. Terdiri dari impor gula mentah untuk Gula Kristal Rafinasi (GKR) sebesar 3,6 juta ton dan impor gula mentah untuk Gula Kristal Putih (GKP) sebesar 1,1 juta ton.

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan (Kemdag) Oke Nurwan mengatakan, sebagai negara produsen gula terbesar kedua dunia setelah Brasil, India saat ini sedang berupaya memperluas pangsa pasarnya. Indonesia ditargetkan sebagai salah satu tujuan ekspor gula India.

“Mereka mencari kemungkinan memasok gula ke kita dengan janjinya speknya bisa sesuai dengan kita harapkan, bahkan lebih baik,” ujar Oke, Selasa (17/7).

Atas tawaran itu, Oke bilang, pemerintah masih belum memutuskan apakah akan menerima. Hanya saja tawaran itu bisa menjadi alternatif impor gula Indonesia di luar Australia dan Thailand.

Ketua Umum Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI) Rachmad Hariotomo menyatakan, pihaknya akan mengkaji produk gula yang ditawarkan oleh India. “Kita mau lihat apakah penawarannya itu sesuai dengan stanndar kita. Kemudian kami berpikir, kalau itu memang menguntungkan, ya pasti,” jelasnya.

Duta Besar India untuk Indonesia Pradeep Kumar Rawat mengklaim, produk gula produksi India memiliki tingkat sukrosa yang lebih tinggi dan standar ICUMSA (International Commission For Uniform Methods of Sugar Analysis) yang memadai untuk industri makanan dan minuman Indonesia.

“Kualitas gula kami cukup tinggi, maka bila Indonesia mengimpor gula kami, maka konsumen akan mendapatkan keuntungan lebih karena kualitasnya dan beban industri pengolahan akan berkurang,” katanya. Menurutnya, setiap tahun India memproduksi gula mentah mencapai sebesar 32,2 ton.

Ajukan penurunan tarif

Selain menawarkan impor gula, menurut Oke, kedatangan delegasi India ke Indonesia juga untuk meminta revisi penurunan tarif impor gula terhadap India. Selama ini, pemerintah mengenakan tarif impor gula 10% untuk India dan negara-negara lainnya. Sementara khusus untuk Australia dan Thailand, Indonesia hanya mengenakan tarif impor gula lebih kecil yakni 5%.

Oke menjelaskan, dengan adanya permohonan penurunan tarif itu, maka pemerintah Indonesia juga akan mengajukan permohonan penurunan tarif impor minyak kelapa sawit Indonesia ke India. Seperti diketahui, India mengenakan tarif super tinggi terhadap impor Crude Palm Oil (CPO) Indonesia dan turunnya sejak awal tahun 2018 lalu. Dengan kenaikan itu maka tarif impor CPO asal Indonesia naik menjadi 44% dari tarif impor sebelumnya 30%.

Atas negosiasi tarif itu, keputusannya harus dibicarakan di tingkat government to government. “Secara prinsip kita sampaikan, kita terbuka dan tidak membatasi negara mana karena orientasinya bisnis, namun masih dalam kajian dan perlu dibahas lebih dalam,” imbuhnya.

Hal senada juga diakui Dubes India Pradeep. Ia bilang, penyesuaian tarif harus dibicarakan ditingkat atas. Namun ia berharap, dalam pertemuan ini bisa tercapai kesepakatan yang akan mempermudah perdagangan kedua negara. Menurut Pradeep, kerjasama tidak hanya sebatas gula, tapi juga ke komoditas lain seperti minyak sawit.

Sumber : KONTAN, Rabu, 18 Juli 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published.

WhatsApp WA only