Dollar Tembus Rp 15.000, Gubernur BI: Belum Kiamat, Kata Rizal Ramli Baru Permulaan

Pengamat: Pertukaran Informasi akan berdampak positif bagi penerimaan pajak
October 5, 2018
Pemerintah Berencana Tambah Sektor Jasa Kena Tarif Nol Persen
October 5, 2018

JAKARTA — Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo meyakini tekanan ke nilai tukar rupiah tahun depan akan mereda dibanding kondisi saat ini. Nilai tukar rupiah mengalami pelemahan atau terdepresiasi hingga 9,82 persen yang membuat rupiah berada pada level Rp 15.000 per dollar AS beberapa hari belakangan ini.

“Tekanan nilai tukar di tahun depan akan lebih mereda, tidak seberat tahun ini. Faktornya setidaknya ada tiga, satu, kenaikan suku bunga di AS itu tahun depan tidak setinggi tahun ini,” kata Perry dalam seminar bersama Fraksi Partai Golkar di DPR RI, Rabu (3/10/2018).

Perry menjelaskan, kenaikan Fed Fund Rate tahun ini diperkirakan terjadi sampai empat kali. Sementara untuk tahun depan, Perry memprediksi kenaikan Fed Fund Rate hanya dua kali.

Faktor berikutnya adalah keyakinan bahwa investor tidak akan terus menerus memegang tunai setelah mengalihkan dana mereka dari negara berkembang kembali ke AS.

Bahkan, Perry melihat secara perlahan para investor sudah kembali melirik negara berkembang untuk berinvestasi lagi. “Sekarang pun mereka sudah mulai menanamkan kembali ke emerging market, termasuk Indonesia. Tahun depan, saya meyakini mereka akan semakin banyak menanamkan kembali ke emerging market sehingga arus modal bisa masuk dan bisa menutup kekurangan dari devisa,” tutur Perry.

Faktor ketiga adalah perkiraan bahwa defisit transaksi berjalan tahun depan akan membaik. Hal itu didorong oleh sejumlah upaya pemerintah memperbaiki defisit transaksi berjalan yang akan mulai terasa tahun depan.

Upaya pemerintah yang dimaksud adalah menetapkan tarif Pajak Penghasilan (PPh) Impor untuk 1.147 komoditas barang konsumsi, mengaplikasikan program B20 dalam rangka mengurangi impor solar, serta menunda sejumlah proyek infrastruktur yang memiliki kandungan impor tinggi. Semua kebijakan itu sudah dijalankan belum lama ini namun hasilnya diakui memang tidak langsung terlihat.

“Tiga faktor ini jadi dasar kami memperkirakan kenapa tekanan ke nilai tukar tahun depan tidak seberat tahun ini,” ujar Perry.

Rizal Ramli: Ini Baru Permulaan

Mantan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Rizal Ramli menilai pelemahan nilai tukar rupiah yang sudah mencapai Rp 15.000 per dollar AS baru permulaan.

Nilai tukar rupiah diprediksi akan terus melemah didorong oleh sejumlah hal yang telah diperkirakan oleh para analis dan ekonom sebelumnya.

“Apakah Rp 15.000 ini sudah stabil apa belum? Mohon maaf, saya sampaikan, belum. Ini baru permulaan, lihat saja dari The Fed berapa kali lagi mau naikkan suku bunga lagi,” kata Rizal dalam seminar fraksi Golkar di DPR RI, Rabu (3/10/2018).

Rizal menyebut, The Fed akan kembali menaikkan suku bunga atau Fed Fund Rate beberapa kali lagi sampai tahun depan. Terakhir, Fed Fund Rate dinaikkan 25 basis poin (bps), dari 2 persen menjadi 2,25 persen.

Kenaikan Fed Fund Rate akan menekan nilai tukar negara-negara berkembang, terlebih di negara yang komponen dollar AS mereka cukup tinggi. Kondisi ini dinilai Rizal sebagai penyebab kedua pelemahan rupiah Rp 15.000 baru permulaan. Baca juga: Di Balik Depresiasi Rupiah terhadap Dollar AS

“Komponen dollar AS di Indonesia sangat tinggi, menyebabkan rupiah makin tertekan,” tutur Rizal. Faktor signifkan lain penyebab rupiah akan terus melemah lebih dalam dari Rp 15.000 adalah eskalasi perang dagang.

Rizal menyampaikan, negara lain yang terdampak perang dagang mulai menerapkan kebijakan south bond policy atau mengalihkan investasi mereka ke negara-negara berkembang lain yang lebih potensial ketimbang negara besar seperti China dan Amerika Serikat.

Di satu sisi, dampak kebijakan tersebut adalah membanjirnya barang-barang impor di Indonesia. Di sisi lain, tingkat investasi bisa makin tinggi, namun secara keseluruhan hal itu perlu diatasi oleh pemerintah dan kementerian/lembaga terkait.

“Harus diingat, di balik risiko ada peluang. Pemimpin yang hebat adalah yang bisa memanfaatkan peluang di tengah kondisi yang berisiko,” ujar Rizal.

Kurs referensi dalam Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) per hari ini mencatat nilai tukar rupiah sebesar Rp 15.088 per dollar AS. Posisi ini merupakan level paling rendah setelah pelemahan nilai tukar sebelumnya terjadi bertahap, dari mulai Rp 13.700 hingga mendekati Rp 15.000 beberapa hari yang lalu.

Sumber tribunews

Leave a Reply

Your email address will not be published.

WhatsApp WA only