Data Ekspor-Impor China Moncer, di Atas Ekspektasi Pasar

Data Keuangan Nasabah Jadi Andalan Buat Capai Target Pajak 2019
November 8, 2018
Bank Mandiri Sosialisasikan PPh 0,5 Persen ke 11.590 UMKM
November 8, 2018

Jakarta, CNBC Indonesia – China pada hari Kamis (8/11/2018) melaporkan angka ekspor dan impor untuk bulan Oktober yang lebih besar dari perkiraan.

BPS-nya China merilis keseluruhan surplus perdagangan China adalah US$ 34,01 miliar (sekitar Rp 510 triliun) [Asumsi US$ 1 = Rp 15.000] untuk Oktober 2018.

Ekspor dalam mata uang dolar naik 15,6% dari tahun lalu di bulan Oktober, melampaui perkiraan pertumbuhan ekonom sebesar 11% yang disurvei oleh Reuters.

Sebagai informasi, ekspor September tumbuh 14,5% tahun ini.

Impor berdenominasi dolar sementara itu naik 21,4% dari tahun lalu, melampaui perkiraan ekonom yang sebesar 14%. Impor September tumbuh 14,3% per tahun.

Data ekonomi dari China sedang diawasi ketat di tengah-tengah sengketa perdagangan, di mana Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mempermasalahkan defisit perdagangan besar negaranya terhadap China.

Meskipun ketegangan perdagangan meningkat dengan AS, namun data China sebagian besar bertahan hingga sejauh ini.

Banyak ekonom mengatakan fenomena ini sebagian besar karena eksportir mendapat manfaat dari peningkatan pesanan sebelum tarif impor diterapkan, tetapi angka-angka tersebut cenderung menunjukkan tanda stres di bulan depan.

Ekspor China juga didorong oleh pertumbuhan yang kuat, baik secara global maupun di AS, kata ekonom independen Andy Xie. Artikel ini dilansir dari CNBC International (8/11/2018).

Bahkan dengan bea masuk AS yang lebih tinggi pada impor China, penurunan tajam dalam yuan China mengimbangi sebagian besar dampaknya, kata Xie kepada CNBC, Kamis, menjelang rilis data perdagangan.

“Faktanya, faktor domestik akibat kejatuhan dari pasar properti yang berlebihan adalah alasan utama mengapa pertumbuhan China akan melambat,” kata Xie.

Sengketa perdagangan dengan AS dengan demikian merupakan alasan praktis dan tepat waktu bagi Beijing untuk menjaga perlambatan ekonomi dari gelembung properti, yang akan memukul penjualan tanah pemerintah, pembangunan infrastruktur, penjualan properti dan akhirnya, ekonomi makro, campai ke Washington.

“Pemerintah akan mengatakan perang dagang adalah pemicu, jadi itulah mengapa kita harus menyalahkan perang dagang,” kata Xie. “Ini adalah alasan untuk tidak melakukan apa-apa (untuk memecahkan masalah) lebih tepatnya untuk membingkai ini sebagai bagian dari perang dagang besar.”

Ekonomi China sudah tumbuh 6,5% pada kuartal ketiga tahun ini, laju terlemahnya sejak kuartal pertama 2009.

Bahkan sebelum perang dagang dengan AS tahun ini, China sudah mencoba mengelola perlambatan ekonomi setelah mengalami tiga dekade pertumbuhan yang sangat berbahaya.

Perang dagang dengan AS sekarang mempersulit upaya tersebut, di mana analis mengharapkan Beijing untuk mengelola ancaman dari perselisihan bilateral yang dapat menghambat pertumbuhan.

Pasar sekarang ini tengah mengawasi pertemuan yang disebut-sebut akan diadakan antara Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping akhir bulan ini di G-20 di Buenos Aires, Argentina.

Sumber Cnbc indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published.

WhatsApp WA only