Tanpa B20 Impor Migas Lebih Bengkak

Sanksi Administrasi Pajak Dihapus, Jaktim Targetkan Rp 2,7 Triliun dari PKB dan BBN-KB
November 16, 2018
Sri Mulyani: Jangan Pernah Berpikir Segala Sesuatu Bisa Gratis
November 16, 2018

JAKARTA. Kebijakan perluasan mandatori penggunaan biodiesel 20% (B20)  berjalan efektif 100% mulai Oktober. Meski demikian, impor minyak dan gas (migas) bulan lalu malah meningkat pesat dari September.

Badan Pusat Statistik (BPS) nilai impor migas pada Oktober 2018 sebesar US$ 2,91 miliar, meningkat 26,97% dari sebulan sebelumnya US$ 2,29 miliar. Peningkatan impor berasal dari semua komoditas, baik minyak mentah, hasil minyak, dan gas. Selain itu, kenaikan tersebut juga terjadi pada volume.

Kepala BPS Suhariyanto menyatakan, tren kenaikan impor migas selalu terjadi pada Oktober. “Penurunan impor pada September agak curam, kemudian (bulan selanjutnya) naik lagi, dan biasanya Desember akan melandai,” tambah Suhariyanto dalam paparan data ekspor impor, Kamis (15/11).

Impor migas pada Oktober 2017 sebesar US$ 2,20 miliar, naik 42,67% dibanding periode sama setahun sebelumnya atau year on year (yoy) 42,67% dan tumbuh 13,96% dari bulan sebelumnya.

Tahun ini, impor migas semakin terdorong oleh pelemahan rupiah. Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI) mencatat, rata-rata kurs rupiah pada Oktober 2018 Rp 15.178,87 per Dollar AS, melemah 2,12% dari rata-rata September 14.868,74.

Selain itu, harga minyak juga dalam tren meningkat. Rata-rata harga minyak WTI pada Oktober lalu mencapai US$ 70,67 per barel, naik 1,40% dari September US$ 69,72 per barel.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESD) Djoko Siswanto menegaskan, jika pemerintah tidak memperluas penerapan B20, impor migas bisa lebih besar lagi.

“Sekarang implementasi B20 belum 100% dan masih 90%. Penurunannya sebesar itu. Kalau tidak ada B20, masih harus impor sebesar itu,” ujar Djoko.

Ekonom Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih memperkirakan, impor migas November akan menurun karena harga yang mulai turun. Harga Minyak WTI pada perdagangan Kamis (15/11) US$ 56,37 per barel. Harga tersebut dalam tren melemah sejak 1 November US$ 63,69 per barel. Adapun kurs rupiah bulan ini juga menguat di level 14.700-an per dollar Amerika Serikat. Dua faktor itu akan berefek ke impor minyak di November.

Sumber: Kontan

Leave a Reply

Your email address will not be published.

WhatsApp WA only