IHSG Tembus 6.850 pada Akhir 2021

JAKARTA – Indeks harga saham gabungan (IHSG) diperkirakan kembali rally pada semester II untuk menembus level 6.850 di pengujung tahun ini. Pertumbuhan ekonomi yang kuat dan tercapainya kekebalan komunal (herd immunity) seiring masifnya vaksinasi akan menjadi katalis positif bagi pergerakan IHSG selama enam bulan ke depan.

Pasar saham akan mendapat tekanan dari isu rencana pengetatan moneter dan penghentian stimulus (tapering off) bertahap oleh Bank Sentral AS, The Fed. Namun, isu tapering-off tidak akan memicu gejolak yang berlebihan karena kebijakan itu diperkirakan baru diterapkan pada 2022-2023.

Selain itu, ekonomi Indonesia sekarang lebih elastis (resilient) dan adaptif. Apalagi kepemilikan investor asing di pasar modal domestik tidak lagi dominan seperti tujuh tahun silam saat taper tantrum (gejolak akibat tapering-off) mengguncang pasar finansial global.

Saham-saham yang harganya mengikuti siklus ekonomi (cyclical stock) diprediksi menjanjikan keuntungan lebih baik dibandingkan saham-saham emiten dengan pendapatan stabil dan tak terpengaruh siklus ekonomi (defensive stocks).

Menurut Equity Analyst Mandiri Sekuritas, Adrian Joezer, Mandiri Sekuritas mempertahankan proyeksi IHSG pada akhir 2021 di level 6.850 karena yakin pemulihan ekonomi akan terjadi pada semeser II tahun ini. Pemerintah menargetkan perekonomian nasional tahun ini tumbuh 4,5-5,3% setelah tahun lalu terkontraksi atau minus 2,07%.

“Lonjakan kasus Covid-19 belakangan ini akan menganggu kegiatan ekonomi jangka pendek, namun kami tetap yakin pemulihan akan lebih kuat pada semester II-2021,” kata Adrian Joezer dalam webinar Macro Economic, Equity and Fixed Income Outlook 2021-2022 di Jakarta, Selasa (29/6).

IHSG di Bursa Efek Indonesia (BEI) kini berada di level 5.949,05, melemah 0,50% selama tahun berjalan (year to date/ytd). Pada akhir Desember 2020, IHSG ditutup di posisi 5.979,07. Indeks saat ini memiliki rata-rata price to earning ratio (PER) 11,1 kali dengan rata-rata price to book value (PBV) 2,3 kali.

Menurut Adrian Joezer, proyeksi IHSG di level 6.850 pada akhir 2021 didasarkan pada pendekatan bottom-up pertumbuhan laba emiten sebesar 49,7% pada 2021 dan 15,6% pada 2022, dibanding kontraksi 36,4% pada 2020. 

Dia mengungkapkan, kinerja indeks tahun ini bakal dipengaruhi program vaksinasi yang tengah dijalankan pemerintah. “Jumlah populasi yang divaksin terus meningkat. Pasokan vaksin global juga akan meningkat,” ujar dia.

Tidak Merata

Adrian Joezer mengakui, pelaksanaan vaksinasi di negara-negara maju lebih cepat dibanding negara-negara berkembang. Akibatnya, populasi yang mendapat vaksinasi tidak merata di seluruh dunia. Alhasil, pemulihan ekonomi pun tidak merata, lebih banyak terjadi di negara-negara maju dibanding negara berkembang.

Sisi positifnya, kata dia, negara-negara berkembang pada akhirnya akan mendapat pasokan vaksin yang memadai setelah negara-negara maju mencapai herd immunity. Pulihnya ekonomi negara-negara maju akan turut mendorong pemulihan ekonomi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Adrian menjelaskan, memasuki semester II-2021, investor di lantai bursa bisa mencermati saham-saham sektor cyclical, seperti pertambangan dan energi, perkebunan, otomotif, dan manufaktur. “Cyclical stock lebih menjanjikan dibandingkan defensive stock,” ucap dia.

Selain karena dipicu pemulihan ekonomi, menurut Adrian, saham sektor cyclical mendapat dampak positif dari kebijakan BEI mengubah metode pembobotan indeks saham dari kapitalisasi pasar berbasis saham tercatat ke kapitalisasi pasar berbasis free float (saham dengan kepemilikan kurang dari 5%).

“Secara garis besar, perubahan metode pembobotan indeks tersebut lebih baik karena lebih objektif dan lebih merefleksikan pergerakan harga sahamnya,” tandas dia.

Adrian Joezer mengemukakan, kegiatan ekonomi telah menunjukan pemulihan sebelum pembatasan mobilitas (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat/PPKM Mikro) diberlakukan kembali akibat melonjaknya kasus Covid-19.

Indeks kepercayaan konsumen telah kembali di atas 100 pada Mei 2021, menunjukkan optimisme yang meningkat di kalangan masyarakat Indonesia. Indikator investasi juga meningkat, diikuti perbaikan pertumbuhan pinjaman secara bertahap.

“Varian Delta Covid menjadi perhatian utama, namun seharusnya dapat diatasi dengan kecepatan vaksinasi yang meningkat akhir-akhir ini. Dengan meredanya kasus Covid-19, pemulihan pertumbuhan ekonomi diharapkan terus berlanjut,” ujar dia.

Dia menambahkan, kekhawatiran terhadap varian Delta Covid-19 yang meningkat telah menekan forward price to earning (PE) IHSG menjadi 16 kali berdasarkan perkiraan konsensus Bloomberg, yang tidak menuntut relatif terhadap tingkat bebas risiko. “Untuk isu tapering, ekspektasi pasar terhadap inflasi AS ke depan telah mereda akhir-akhir ini,” tutur dia.

Obligasi Masih Positif

Di sisi lain, Mandiri Sekuritas melihat investasi di pasar obligasi masih positif tahun ini. Setelah terjadi koreksi pada kuartal I-2021, pasar obligasi rebound sejalan dengan penurunan imbal hasil (yield) Surat Utang Negara (SUN) pada kuartal II-2021.

Menurut Head of Fixed Income Analyst Mandiri Sekuritas, Handy Yunianto, secara total keuntungan investasi (return), investasi di pasar obligasi pada kuartal II-2021 mencatatkan pertumbuhan 3,4% dan sudah menghapus negative return 2,4% pada kuartal I.

“Alhasil, secara tahunan (year on year/yoy), pasar obligasi mencatatkan pertumbuhan return sebesar 1%, sehingga melanjutkan tren yang lebih baik dibanding kinerja saham dalam tiga tahun terakhir,” ujar dia.

Yang membedakan kuartal I dan kuartal II-2021, kata Handy, adalah perbaikan sentimen yang berasal dari global. Pada kuartal II terjadi penurunan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (US Treasury/UST)diiringi penurunan indeks dolar AS (DXY Index) dibandingkan kuartal I.

Handy menjelaskan, kedua faktor tersebut menjadi indikator penting dalam mecermati aliran masuk dana asing (foreign fund inflows)di pasar obligasi. Berdasarkan kajian Mandiri Sekuritas dengan menggunakan big data analisis, dua variabel penting yang menjelaskan pergerakan aliran dana asing di pasar obligasi adalah hedging rupiah terhadap dolar AS dan selisih imbal hasil (yield spread) antara UST dan SUN.

“Pada kuartal II, asing mencatatkan net buy SUN sebesar Rp 23 triliun, dibandingkan kuartal I Rp 22 triliun,” tutur dia.

Handy mengemukakan, tapering-off diperkirakan belum terjadi tahun ini. Dengan demikian, The Fed diprediksi masih memompakan likuiditas (quantitative easing/QE) melalui pembelian obligasi di pasar setidaknya sampai akhir tahun ini.

Dia menambahkan, dalam Federal Open Market Committee (FOMC) Meeting Juni, The Fed merevisi outlook produk domestik bruto (PDB) yang terus membaik tahun ini, tetapi proyeksi pengangguran masih relatif tinggi dan kenaikan inflasi diperkirakan sementara. Alhasil, The Fed masih memperkirakan suku bunga tetap rendah hingga 2021-2022.

Ekspektasi kenaikan UST yield, menurut Handy Yunianto, juga akan sangat bertahap. Pertama, karena data pengangguran AS belum solid. Saat wabah Covid-19 merebak, di AS ada 22 juta pengangguran, lalu setelah satu tahun baru berkurang separuhnya.

“Kedua, total public debt AS naik di atas 100% dan akan naik lagi seiring terus meningkatnya stimulus fiskal. Dengan pubic debt AS yang tinggi, kenaikan suku bunga atau kenaikan UST yield akan memiliki dampak lebih besar pada pemulihan ekonomi AS dibandingkan 10 tahun silam,” papar dia.

Ketiga, kata dia, bank sentral negara-negara maju seperti Bank Sentral Eropa (ECB) dan Bank Sentral Jepang (BoJ) masih melanjutkan QE, tercermin pada neraca keuangannya yang terus menunjukkan tren peningkatan.

Dia mengungkapkan, dari sisi valuasi, pasar obligasi Indonesia dibandingkan emerging market (EM) lain memberikan risiko yang relatif rendah dengan ekspektasi return yang cukup tinggi. Valuasi itu diperoleh berdasarkan variabel defisit transaksi berjalan terhadap PDB atau current account deficit (CAD) to gross domestic product (GDP) sebagai proksi faktor risiko dari kaca mata investor asing dan imbal hasil nyata sebagai proksi potensi keuntungan.

“Negara-negara EM yang memiliki posisi cukup berisiko antara lain Turki, Rumania, dan Hungaria. “Dilihat dari historical pattern berdasarkan perkembangan UST yieldBI 7-day Reverse Repo Rate (BI7DRR), Credit Default Swap (CDS), dan rupiah, yield obligasi Indonesia masih di bawah fair value-nya. Jadi, kami masih melihat potensi turun dari level saat ini,” ujar dia.

Pemerintah telah menerbitkan Surat Berharga Negara (SBN) senilai Rp 687,3 triliun (ytd), hampir 45% dari target setahun dengan asumsi defisit fiskal mencapai 5,7% terhadap PDB atau Rp 1.007 triliun. Dengan demikian, pada semester II-2021, pemerintah diperkirakan masih perlu menerbitkan SBN Rp 858 triliun lewat emisi obligasi global, emisi obligasi ritel, penempatan terbatas (private placement),dan lelang reguler.

“Kami melihat supply risk masih manageable, karena support domestik masih sangat kuat, terutama perbankan yang sudah mencatatkan total pembelian Rp 254 triliun atau 50,1% dari total emisi, disusul Bank Indonesia (BI) dan lembaga keuangan nonbank dengan net buy Rp 120,1 triliun dan Rp 97,1 triliun (ytd),” tutur dia.

Handy Yunianto mengemukakan, BI masih banyak amunisi untuk melakukan pembelian SBN jika terjadi gejolak lagi di pasar. “Perhitungan kami, BI sudah beli SBN total Rp 120,1 triliun (ytd) atau 23,7% dari total penerbitan obligasi lewat lelang. Dengan asumsi BI masih bisa membeli 25-30% dari target issuances SBN, kami perkirakan BI pada semester II masih bisa beli lebih dari Rp 200 triliun dari lelang,” ucap dia.

Ekonomi Makro

Sementara itu, Chief Economist Mandiri Sekuritas, Leo Putera Rinaldy mengatakan, pemulihan ekonomi akan terus berlanjut. Pemerintah tidak hanya menempuh kebijakan lebih dini (front-load)terhadap belanja sosial dan vaksin, tetapi juga untuk belanja modal.

Belanja modal pemerintah tumbuh 121% (yoy) dalam lima bulan pertama 2021 dibanding rata-rata 7,5% (yoy) pada periode sama tahun-tahun sebelumnya. “Front-load belanja modal ini juga menjadi salah satu alasan perbaikan signifikan investasi riil PDB kuartal I-2021,” tegas dia.

Leo Putera menjelaskan, pendapatan pemerintah pun mengalami perbaikan, baik dari sisi bea masuk (BM), penerimaan negara bukan pajak (PNBP), pajak pertambahan nilai (PPN), maupun pajak penghasilan (PPh). “Dengan kata lain, perbaikan pendapatan pemerintah juga mencerminkan berlanjutnya pemulihan ekonomi di level domestik dan global,” tandas dia.

Dia mengatakan, dari sisi konsumsi, indikator seperti indeks keyakinan konsumen sudah berada pada level di atas 100 dalam dua bulan terakhir (April dan Mei 2021). Perbaikan tren juga terlihat pada penjualan ritel, impor barang konsumsi, penjualan mobil akibat insentif PPnBM, dan percepatan perputaran uang (money velocity).

“Dari sisi investasi, indikator seperti PMI Manufaktur, penjualan semen, dan capital goods import juga mengalami peningkatan,” tutur dia.

Adapun komposisi aliran investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI) dan ekspor Indonesia lebih bervariasi memasuki 2021. Itu terjadi akibat multi engines pemulihan ekonomi global yang juga didorong negara-negara maju, seperti AS dan Uni Eropa. Apabila Indonesia bisa mempertahankan stuktur FDI dan ekspor yang lebih beragam ke depan, kondisi ini positif bagi ketahanan nilai tukar rupiah daam jangka menengah dan panjang.

“Pemulihan ekonomi semester II-2021 akan bersifat lebih broad base, terutama dari sisi konsumsi dan investasi. Secara keseluruhan, baseline scenario untuk proyeksi pertumbuhan ekonomi 2021 berada di kisaran 4,1-4,4%,” ujar dia.

Leo mengakui, deviasi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia masih cenderung ke bawah karena adanya risiko Covid-19 gelombang kedua (second wave). Karena itu itu, kecepatan menekan laju kenaikan kasus Covid-19 dan proses vaksinasi secara nasional menjadi kunci pemulihan ekonomi dalam jangka pendek, sebelum reformasi struktural berdampak lebih luas terhadap ekonomi jangka menengah.

“Realisasi stimulus fiskal di level pemda juga harus ditingkatkan, karena total pengeluaran pemerintah daerah masih kontraksi 7,8% (yoy) hingga Mei, dibandingkan pengeluaran pemerintah pusat yang sudah tumbuh 21%,” papar dia.

Direktur Retail and Treasury Mandiri Sekuritas, Theodora Manik mengungkapkan, di tengah berbagai optimisme tersebut. Mandiri Sekuritas tahun ini yakin bisa meraup pertumbuhan jumlah investor hingga 75%.

Penambahan jumlah investor terjadi seiring dengan gencarnya Mandiri Sekuritas mengedukasi dan memberikan literasi kepada nasabah. Mandiri Sekuritas juga mempercepat investor online on boarding untuk masuk ke aplikasi investasi MOST.co.id.

“Pada 2019 ke 2020, jumlah nasabah kami tumbuh 73-75%. Oleh sebab itu, tahun ini kami pun menargetkan pertumbuhan nasabah itu setidaknya sama dengan tahun lalu,” kata dia.

Selama pandemi, menurut Theodora Manik, mobilitas masyarakat masih rendah, apalagi kasus Covid meningkat akhir-akhir ini. “Kami berharap masyarakat bisa lebih teredukasi meskipun tidak keluar rumah,” tandas dia.

Waspada Level 5.900

Khusus pekan ini, analis Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus memperkirakan IHSG bergerak melemah pada rentang 5.980-6.075. IHSG tertekan sentimen lonjakan kasus Covid-19 di Tanah Air. “Bahkan, indeks memiliki tingkat probabilitas 62% untuk melemah di bawah 5.900,” kata dia kepada Investor Daily.

Nico menjelaskan, pergerakan IHSG pekan ini juga akan dipengaruhi sentimen dari beberapa data ekonomi, seperti tingkat inflasi, PMI Manufaktur, dan sentimen yang terkait dengan Covid-19.

Menurt Nico, menurunnya mobilitas masyarakat sejalan dengan penerapan PPKM Mikro berpeluang kembali menekan aktivitas perekonomian. “Kunci utama saat ini adalah sejauh mana pemerintah dapat mengendalikan penyebaran Covid-19 untuk menyelamatkan IHSG, terlebih sentimen luar negeri, seperti potensi Taper Tantrum akan turut menekan indeks,” papar dia.

Dia menambahkan, para investor bisa mencermati saham-saham sektor teknologi yang sedang naik daun. Begitu pula saham-saham perbankan yang sedang undervalued.

Di sisi lain, analis Sucor Sekuritas Hendriko Gani memprediksi IHSG pekan ini masih berpotensi bergerak konsolidasi pada level 5.866-6.090. Investor dapat memanfaatkan pelemahan ini untuk mengakumulasi beli saham-saham dengan fundamental kuat dan berpotensi upside. “Untuk trading jangka pendek, investor disarankan melirik saham second liner,” kata dia.

Menurut analis Senior CSA Research Institute, Reza Priyambada, pelaku pasar pekan ii cenderung wait and see pada perkembangan kasus Covid-19 dan langkah yang kemungkinan akan diambil pemerintah untuk memutus rantai penyebaran corona.

“Pekan ini, IHSG diperkirakan berada pada level support 5.975-6.007 dan resistance 6.145-6.166. Secara mingguan, indeks masih berada di middle bollinger band,” tutur dia.

Kepala Riset Praus Capital, Alfred Nainggolan memprediksi imbal hasil SUN tenor 10 tahun pekan ini berada dalam rentang 6,55-6,70% dengan potensi naik.

”Kenaikan yield atau penurunan harga obligasi negara banyak disebabkan faktor internal, yaitu perkembangan kasus Covid di Tanah Air yang dalam tiga pekan terakhir naik dan terus memecahkan rekor,” ucap dia.

Dari eksternal, kata dia, sentimen ekspektasi penguatan yield obligasi pemerintah AS (US T-bond) akan ikut mendorong kenaikan yield treasury secara global, termasuk Indonesia. ”Yield US 10 tahun kami perkirakan kembali ke level 1,5% pekan ini,” jelas Alfred. (fur/lov/az)

Sumber : Investor.id 

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp WA only