Tekanan ke Rupiah masih akan Berat

Ada potensi ekspor, insentif pajak untuk sektor jasa perlu diperluas
July 26, 2018
Cermati isi RUU penerimaan negara bukan pajak yang siap disahkan DPR
July 27, 2018

Pelebaran defisit transaksi berjalan yang diperkirakan mencapai US$ 25 miliar menekan rupiah

JAKARTA. Bank Indonesia (BI) sudah mengeluarkan berbagai kebijakan untuk menjaga stabilitas rupiah. Terbaru bank sentral mengaktifkan kembali Sertifikat BI (SBI) tenor 9 dan 12 bulan untuk mendorong capital inflow dan mengurangi tekanan rupiah.

Namun, diperkirakan nilai tukar rupiah pada semester II ini masih akan loyo dan sulit menguat terhadap dollar Amerika Serikat (AS). Tekanan terhadap rupiah semakin berat karena defisit transaksi berjalan alias current account deficit (CAD) semester II-2018 semakin melebar dari semester sebelumnya.

Peningkatan defisit transaksi berjalan menunjukkan semakin banyak dollar AS yang keluar dari sistem keuangan Tanah Air. Disisi lain, tingginya permintaan akan dollar AS di pasar membuat dollar makin menguat, sehingga menekan nilai tukar rupiah.

Pada kuartal I-2018 BI mencatat, nilai defisit transaksi berjalan sudah mencapai US$ 5,54 miliar atau 2,15% dari produk domestik bruto (PDB). Jumlah itu naik lebih dari dua kali lipat dibandingkan periode sama 2017 yang hanya US$ 2,16 miliar atau 0,89% PDB.

Sampai akhir tahun 2018, BI memproyeksikan nilai defisit transaksi berjalan akan mencapai US$ 25 miliar. Angka itu lebih besar US$ 17,53 miliar atau 1,73% dari PDB. Pelebaran defisit terjadi karena kinerja ekspor tertekan. Biasanya, ekspor cenderung meningkat pada semester II, tapi tahun ini sulit tumbuh karena efek perang dagang.

Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara mengatakan, nilai CAD sebesarnya US$ 25 miliar masih aman, karena di bawah 3% dari PDB. “Tahun ini CAD US$ 25 miliar atau mungkin lebih,” ucap Mirza di gedung DPR RI, Rabu (25/7).

Apalagi Mirza berharap, lelang SBI tenor 9 dan 12 bulan mulai pekan ini bisa menarik minat investor asing masuk. Capital inflow akan mengimbangi banyaknya valuta asing yang keluar karena CAD. “SBI boleh dibeli asing sementara SDBI tidak boleh. Harapannya smeinggu kemudian bank jual ke investor asing,” jelasnya.

Berdasarkan hasil lelang SBI tenor 9 dan 12 bulan Senin (23/7), porsi yang dieksekusi adalah Rp 4.180 miliar untuk SBI 9 dan 12 bulan Senin (23/7), porsi yang dieksekusi adalah Rp 4.180 miliar untuk SBI 9 bulan dan Rp 1.795 miliar untuk SBI 12 bulan. Sementara, suku bunga rata-rata tertimbang (RRT) pemenang lelang SBI tercatat sebesar 6,04% untuk 9 bulan dan 6,17% untuk 12 bulan.

Ekspor melambat

Walau lelang SBI sudah dilakukan tapi sejauh ini rupiah masih sulit menguat. Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) BI mencatatat, kurs rupiah sudah menembus Rp 14.500 per dollar AS. Pada Selasa (24/7), kurs rupiah Rp 14.541, lalu Rabu (25/7) menguat tipis ke level Rp 14.515.

Ekonom Institute for Development Economic and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira Adinegara juga memperkirakan, ekspor bakal melambat karena harga komoditas tertekan dan permintaan juga berkurang. “Karet sudah drop 21% sepanjang Januari-Mei 2018,” ungkap Bhima.

Bhima menghitung, pada semester I-2018 sudah terjadi defisit neraca dagang sekitar US$ 1 miliar, anjlok dari tahun lalu yang surplus US$ 7,6 miliar. “Defisit neraca dagang semester II akan melebar. Mulai Juli sudah defisit seiring normalisasi perdagangan ekspor impor,” jelas Bhima.

Walhasil, rupiah diprediksi semakin tertekan. “Sampai akhir tahun rupiah bisa melemah hingga Rp 14.700,” tambah Bhima.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede menganalisa, pelemahan nilai rupiah belakangan ini karena faktor eksternal. Rupiah merespon bank sentral China mengantisipasi perang dagang dengan AS dengan memperlemah fixing nilai tukar yuan terhadap dollar AS. Hal itu memicu pelemahan nilai tukar negara berkembang lain, termasuk rupiah.

Ke depan, nilai tukar rupiah masih bisa melemah lagi. Selain faktor perang dagang, pelemahan rupiah juga akan defisit neraca dagang dan CAD yang melebar. “BI harus mendorong agar para eksportir melaporkan Devisa Hasil Ekspor untuk meningkatkan supply dollar AS di pasar domestik, sekaligus menjaga rupiah,” saran Josua.

Sumber : Harian Kontan

Leave a Reply

Your email address will not be published.

WhatsApp WA only