Inflasi Oktober Menunjukkan Ekonomi Bergerak

JAKARTA – Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual mengatakan, inflasi di bulan Oktober 2020 menjadi kabar baik karena menunjukkan adanya indikasi yang cukup baik. Artinya, lanjut dia, di beberapa sektor ekonomi sudah ada pergerakan, setelah sebelumnya karena aktivitas ekonomi yang melambat dan harga-harga cenderung masih lemah.

“Diharapkan di kuartal empat (2020) secara gradual ada pemulihan apalagi kalau kita ingat di kuartal empat seharusnya dana Pemulihan Ekononi Nasional (PEN) sudah optimal tersalurkan,” ucap David Sumual ketika dihubungi pada Senin (2/11).

Pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulanan
Pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulanan

Untuk mengurangi dampak pandemi, pemerintah Indonesia telah menganggarkan Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PC-PEN) tahun ini sebesar Rp 695,2 triliun atau 4,2% dari PDB. Hingga 19 Oktober 2020, pencairannya sudah mencapai Rp 344,43 triliun atau 49,5% dari total anggaran.

Menurut David, meski belum optimal tetapi sudah ada peningkatan daya beli. Apalagi dana PEN juga realisasinya berada dalam tren positif.

Perkembangan inflasi seri month to month
Perkembangan inflasi seri month to month

Secara tahunan, dia menilai pada bulan Oktober memang inflasi berada pada tren rendah karena pada September dan Oktober memasuki masa panen. Namun, kalau dilihat secara keseluruhan, aktivitas ekonomi sempat terhambat dari September sampai awal Oktober karena Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diperketat.

“Sekarang sudah direlaksasi lagi dan saya pikir ini berpengaruh pada (kenaikan) mobilitas masyarakat dan permintaan agregat,” ucapnya.

Inflasi tahun per Oktober
Inflasi tahun per Oktober

Menurut David, upaya pemerintah menggulirkan dana melalui program PEN untuk mendorong konsumsi baru berdampak terhadap peningkatan konsumsi masyarakat menengah ke bawah. Sebab, saat mendapatkan stimulus dari pemerintah kecenderungan masyarakat menengah ke bawah belanja lebih besar terutama untuk pemenuhan kebutuhan primer. Sedangkan masyarakat menengah ke atas lebih mengutamakan menabung. 

“Sedangkan masyarakat menengah ke atas untuk belanja kebutuhan tersier masih ragu, jadi masih mengutamakan untuk menyimpan mungkin. Mungkin setelah perekonomian lebih kondusif baru mereka meningkatkan belanja,” ucapnya. (leo/jn)

Sumber : investor.id

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp WA only